[ REVIEW NOVEL ] “After Rain” by Anggun Prameswari

after

Judul : After Rain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : Gagasmedia
Tebal : 323 halaman
Kategori : Fiksi


Serenade Senja, wanita berusia 26 tahun yang terjebak dalam kisah asmara bersama kekasih yang telah menjadi suami orang lain, Bara. Keduanya saling cinta, andai saja Bara tidak dijodohkan karena bisnis keluarga dan harus menikahi Anggi—dan mereka telah memiliki seorang anak bersama Lily. Keegoisan sempat membuat Seren meminta Bara untuk menceraikan Anggi, namun Bara menolak dengan mementingkan perasaan Lily dan mengorbankan perasaannya pada Seren. Bara bahkan mengatur agar ia bisa dimutasikan ke tempat kerja yang baru—Bara dan Seren satu tempat kerja—agar Seren pun bisa move on darinya.

Merasa tidak bisa bertahan tanpa Bara yang ingin mutasi, Seren kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari kantor. Membuat atasannya kemudian membatalkan permintaan mutasi dari Bara demi mengijinkan Seren keluar dari kantor.

Lepas dari kantor, Seren mencoba melamar pekerjaan sebagai guru Bahasa Inggris sementara di sekolah Nola, keponakan Keandra—sahabat baik Seren. Dikarenakan kekosongan akibat ditinggalkan seorang guru yang cuti melahirkan, Seren pun diterima sebagai staff pengajar di sekolah tersebut. Di situ Seren bertemu dengan Elang, guru musik. Laki-laki yang entah bagaimana selalu menarik perhatian Seren. Ia sering menyempatkan waktu untuk mengunjungi ruang musik, tempat di mana Elang biasa berada. Dan lama kelamaan, hal itu seperti candu untuk Seren.

Perlahan ada sesuatu yang Seren rasakan pada Elang, laki-laki yang juga tengah menyembuhkan diri dari lukanya. Sementara Bara—yang merasa ditinggalkan—kembali mengejar Seren dan memintanya kembali.

.:oOo:.

Ini review pertama saya di tahun ini 🙂

After Rain adalah salah satu novel favorit saya. Berawal dari keinginan membeli-buku-tapi-tidak-tahu-harus-beli-judul-apa, saya akhirnya kembali dibuat berdiri hampir sejam untuk membaca sinopsis-sinopsis dan tagline novel-novel di toko buku. Lalu pilihan saya jatuh di novel ini. Mengingatkan saya pada luka yang masih berusaha saya obati tujuh tahun ini hahahaha oke, ini bukan sesi curhat, jadi mari langsung ke novelnya.

Dibuka dengan sangat apik. Saya langsung dihadapkan pada problem yang dialami Seren tanpa banyak basa-basi, jadi dengan segera saya diajak untuk fokus pada cerita ini. Pemilihan ide ceritanya keren 🙂 jarang sekali tokoh utama dijadikan pelaku perselingkuhan (atau mungkin sudah banyak tapi saya nggak tahu?). Memang saya beberapa kali dibuat jengkel oleh Seren yang masih saja (seakan-akan) mengharapkan Bara, tapi kemudian saya menyadari bahwa DULU saya pun ada di posisi yang sama (nah…curhat lagi).

Banyak dialog-dialog yang bagus untuk disimak oleh kita semua, wahai manusia-manusia susah move on hahaha~ terutama tentang “perasaan yang harus dikonversi wujudnya”.

“Cinta itu energi, Seren. Lo nggak bisa menciptakan cinta di hati lo, sama seperti lo nggak bisa menghancurkannya. By default, hati setiap orang itu berisi cinta.”

“Makanya, ketika lo patah hati, energi cinta lo berubah bentuk, sama besarnya, menjadi kekecewaan, kebencian, kemarahan. Tapi, nggak mungkin menghapusnya.”

“Energi itu berubah bentuk. Dikonversi. Perasaan itu dikonversi, dong.” ㅡ hal. 194-195

Tapi satu hal yang paling saya sukai adalah mbak Anggun kemudian menjadikan Seren sebagai guru. Sumpah, ini novel pertama yang saya baca dan membahas tentang pekerjaan sebagai guru. Novel-novel yang saya baca kebanyakan tokohnya berprofesi sebagai pekerja kantoran, membuat saya sempat kehilangan minat menjadi pengajar kendati saya mengambil jurusan pendidikan. Betapa pengaruh novel-novel yang sudah saya baca sangat luar biasa hahaha~ Dan mbak Anggun mengembalikan semangat mengajar saya lagi lewat novel ini. Great job, Miss 🙂 /thumbs up/

Saya tidak akan membahas typo atau kesalahan-kesalahan penulisan lainnya. Kalaupun ada kekurangan, mungkin akan membahas yang satu ini. Jadi di halaman 103 ada narasi seperti ini :

… Mungkin malah Mr. Choi tidak akan kembali ke kantor lagi selepas makan siang. Kulihat sopirnya sibuk menggotong koper kerjanya keluar.

Aku mengetuk-ngetukkan ujung pena ke meja. Jam dinding menunjukkan pukul enam lebih sedikit. …

Lalu pada halaman 105 :

… Aku melirik jam di monitor komputer. Pukul empat. Bukan kebiasaan bosku itu untuk masih berkeliaran di kantor jam segini.

Dua adegan ini diselingi dengan satu adegan masa lalu Seren. Sebenarnya mbak Anggun sudah membedakan antara adegan past dan recent yaitu menuliskannya dengan font yang berbeda, namun karena pada halaman 103-105 antara past dan recentnya tidak diberi tanda sebagai pemisah adegan—pemisah adegan dalam novel ini wujudnya tetesan-tetesan air hujan—akhirnya saya sempat berpikir bahwa adegan di halaman 105 itu masih merupakan kelanjutan halaman 103 alias masih satu waktu yang hanya terpisah lamunan sementara Seren tentang masa lalunya, jadinya kelihatan nggak sinkron.

Mungkin itu saja, selebihnya sudah BAGUS SEKALI.

4koma5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s