[ REVIEW NOVEL ] “The Book of Lost Things” by John Connolly

kitab

Judul : The Book of Lost Things
Penulis : John Connolly
Penerbit : Gramedia
Tebal : 472 halaman
Kategori : Fiksi – Fantasi

—————————————————————————–

Dongeng ini diperuntukkan bagi orang dewasa,
terutama yang masing ingat saat-sat ketika masa kanak-
kanak mulai berlalu dan jalan menuju kedewasaan
telah terbentang.

—————————————————————————–

Sinopsis :

Seorang anak bernama David kehilangan ibunya yang terserang suatu sakit. Kendati David sudah melakukan banyak ritual-ritual yang diharapkan tidak akan mengganggu istirahat ibunya—sehingga ibunya cepat sembuh—namun Tuhan tetap mengambil nyawa sang ibu.

Setelah kematian sang ibu, entah bagaimana David mulai merasa bisa mendengar setiap buku-buku cerita miliknya berbisik memanggil namanya untuk minta dibaca. Semakin lama David semakin semacam melihat karakter-karakter dari buku-buku yang dibacanya dalam kehidupan nyata, dan ia sadar dunianya dan dunia mereka terhalang tembok tipis yang perlahan akan segera runtuh. Dan acap kali pula David jatuh pingsan karenanya. Membuat sang ayah harus mengajaknya untuk menemui dokter.

Tak berapa lama, sang ayah mengumumkan akan menikahi seorang wanita bernama Rose yang telah mengandung adik David. Ia dan ayahnya kemudian pindah dari rumah lama setelah sang adik—Georgie—lahir ke rumah tua besar yang ditinggali Rose. David mendapat kamar peninggalan paman Rose, Jonathan Tulvey. Kamar itu banyak berisi buku-buku koleksi keluarga Rose, tak terkecuali sang pemilik kamar. Dan dari informasi Rose, David tahu Jonathan dan adik—tirinya—Anna menghilang dan belum ditemukan sampai sekarang.

Membaca buku-buku koleksi keluarga Rose perlahan membuat David banyak bermimpi tentang isi buku itu. Terutama makhluk bernama Lelaki Bungkuk yang ia baca dari buku Jonathan. Lalu perlahan-lahan David merasa pembatas antara dunia nyata dan dunia buku semakin tipis dan hilang. Karena David melihat dengan mata kepalanya sendiri si Lelaki Bungukuk masuk ke dalam rumahnya meski tidak ada seorang pun—baik ayahnya maupun Rose—yang percaya akan hal itu.

Suatu hari David bertengkar dengan Rose yang berujung dengan wanita itu menamparnya karena bicara tidak sopan. David kemudian berlari ke kamarnya dan mengunci diri di sana sampai sang ayah pulang dan memarahinya. David mengalami serangan lagi sepeninggal sang ayah, dan begitu ia membuka mata, ia mendengar suara ibunya yang sudah meninggal. Minta untuk diselamatkan. David bergegas keluar rumah untuk mengikuti suara tersebut. Ia sampai di kebun cekung dan mendengar suara ibunya masih memanggil-manggil dari sana. Kemudian sebuah pesawat perang terbakar di atas kepala David dan jatuh ke arahnya. David tak punya pilihan selain masuk ke dalam celah tembok di kebun cekung untuk menyelamatkan dirinya. Memasuki dunia lain yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dunia yang mirip dunia dalam buku, namun dalam cerita yang sama sekali berbeda.

Pendapat pribadi :

Sebenarnya saya bukan tipe yang hobi membaca buku terjemahan meskipun saya suka dengan genre fantasi. Alasannya karena saya pernah kapok dengan sebuah judul novel terjemahan dimana saya nggak bisa menangkap sama sekali isi ceritanya (entah saya yang terlalu ‘lola’ atau memang terjemahannya kurang bagus). Maka sejak itu saya nggak pernah lagi membaca buku/novel terjemahan.

Sampai suatu sore saya berkunjung ke pameran buku dan menemukan buku ini. Satu hal yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah satu kalimat awal blurb novel, yaitu : ini dongeng tentang anak lelaki bernama David, yang tersesat ke sebuah negeri di mana Snow White, Putri Tidur, dan si Tudung Merah bukanlah seperti yang kita kenal dalam buku-buku cerita.

Nah, berhubung saya gemar baca/nonton cerita yang merupakan bentuk rebellion dari cerita/mitologi aslinya, maka saya beli lah buku ini hehe~

Oke, dari segi cerita, buku ini bagus. Seperti yang saya bilang tadi, dongeng-dongeng yang diceritakan dalam versi berbeda. Penggambaran setting saat David terjebak di dunia buku disajikan apik, imajinasi saya benar-benar diajak untuk menggambarkan hal-hal liar. Saya paling suka saat David bertemu dengan Rollan—prajurit muda yang dalam misi menemukan sahabatnya yang hilang. Karena mulai dari sini, saya bisa melihat bagaimana tokoh David berkembang menjadi pribadi yang lebih mandiri dan dewasa. Klimaksnya memang tidak terlalu rumit, seperti dongeng-dongeng kebanyakan di mana pihak putih melawan pihak hitam. Tapi John Connolly—author—benar-benar mengemas buku ini dengan bagus.

Sekarang untuk kekurangan. Sekali lagi saya nggak tau apakah penilaian ini karena saya yang masih belum menyukai buku fantasi. Namun menurut saya, gaya kepenulisan John Connoly sedikit membuat saya pusing. Banyak adegan dicampur aduk dan bahkan kadang tidak diberikan jeda antar adegan. Sehingga saya sempat hilang minat membaca kembali di tengah-tengah cerita karena terlalu bingung haha~ Lalu seperti yang sudah saya tuliskan di atas, konfliknya tidak terlalu rumit. Adegan saat David melawan Lelaki Bungkuk juga sedikit kurang (atau malah memang kurang?) seru. Endingnya saya suka 🙂 ada sesuatu yang membawa sedikit haru 🙂

tiga

 

Advertisements

2 comments on “[ REVIEW NOVEL ] “The Book of Lost Things” by John Connolly

    • terima kasih ya, sudah baca :))
      saya sendiri juga penasaran pas baca blurb novelnya, dan begitu baca ternyata seru–andai disajikan dengan lebih baik lagi pasti makin seru. di toko online sudah nggak ada yg jual?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s