[ REVIEW NOVEL ] “Catatan Musim” by Tyas Effendi

semusim

Judul : Catatan Musim
Penulis : Tyas Effendi
Penerbit : Gagasmedia
Tebal : 267 halaman
Kategori : Fiksi – Roman

——————————————————————————

Musim akan terus bergulir, dan
aku terus menunggumu hadir,
meski aku harus menjemput ke
belahan bumi yang lain.

——————————————————————————

Tya dan Gema bertemu dan berkenalan di bawah shelter saat hujan mengguyur Bogor. Mereka berteman baik meski memiliki kegemaran yang berbeda, Tya dengan novel-novel terjemahan dan Gema yang gemar melukis. Bahkan sampai saat Gema harus mengamputasi sebagian kakinya karena kanker pun, hubungan pertemanan antara keduanya tak berubah—malah semakin dekat. Sampai suatu hari saat berteduh berdua, Gema berkata akan meninggalkan Bogor untuk meneruskan studi di Lille. Tya pun semakin mengerti seperti apa perasaannya pada Gema. Saat gadis itu memutuskan untuk mengatakan perasaannya pada Gema, ia mendapati pesawat yang membawa Gema telah landas.
.

.

.

Setelah Rhapsody, buku ini adalah buku kedua yang saya baca dengan setting Negara lain. Saya tertarik dengan novel ini karena covernya yang bergambar empat cangkir putih dengan potret musim-musim yang berbeda di dalamnya. Blurbnya pun manis 🙂 Buku ini juga dibagi menjadi 6 bagian yang mewakili 2 musim di Indonesia dan 4 musim di Lille (musim Barat). Lille dituliskan dengan bagus di sini, ditambah lagi jalan cerita banyak berpusat saat Lille sedang musim salju 🙂

Mengusung tema “cinta sejati tidak akan memandang seperti apa fisik seseorang”, membuat Catatan Musim menjadi cerita yang manis dan mengharu-biru. Kelebihan lain dari buku ini, meskipun menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis membagi rata porsi POV baik Tya maupun Gema. Jadi kita bisa memahami masing-masing konflik batin yang dihadapi dua karakter utama buku ini dengan baik. Bagaimana Tya dengan upayanya berusaha merengkuh Gema dan Gema sendiri yang terus “melarikan diri” karena kondisi tubuhnya.

Kalaupun ada yang harus saya komentari dari buku ini (di luar typo dan kesalahan lain dalam pengetikan) adalah penggunaan kata gay yang disebut-sebut oleh teman satu flat Tya saat Tya terus-terusan menolak tidur dengan lawan jenis dan justru nyaman tidur bersama dengan teman perempuan. Jika yang dimaksud di sini adalah “hubungan sesama perempuan”, bukankah seharusnya menggunakan lesbian? Atau memang sekarang ini penggunaan kata gay dapat mencakup semua kasus hubungan sesama jenis? 🙂

3koma5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s