[ REVIEW NOVEL ] “kei” by Erni Aladjai

kei

Judul : kei
Penulis : Erni Aladjai
Penerbit : Gagasmedia
Tebal : 250 halaman
Kategori : Fiksi – Roman


Mari kuceritakan kisah sedih tentang kehilangan.
Rasa sakit yang merupa serta perih yang menjejakkan
duka. Namun, jangan terlalu bersedih, karena aku akan
menceritakan pula tentang harapan. Tentang cinta yang
tetap menyetia meski takdir hampir kehilangan pegangan.

Mari, mari kuceritakan tentang marah, tentang sedih,
tentang langit dan senja yang tak searah, juga tentang
cinta yang selalu ada di setiap cerita.


Namira harus terpisah dari keluarganya saat kerusuhan melanda kampung halamannya,

terseret arus pengungsi yang meninggalkan rumah mereka masing-masing untuk menyelamatkan diri. Bersama pengungsi lain, ia bernaung di gereja Ohinol. Di sana, tidak peduli Islam maupun Protestan, semuanya saling melindungi. Tapi Namira bahkan belum merasa aman. Tidak tanpa keluarganya di dekatnya.

 

Sala yang hanya tinggal berdua dengan ibunya, suatu hari mendapati wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu tewas bersimbah darah, seusai mengantar pesanan pisau, di halaman rumahnya. Di sela-sela kerusuhan yang masih terjadi, ia mengubur ibunya sendirian, dengan nisan botol orson tanpa nama ibunya maupun pelayat, di halaman rumah. Sendirian.

 

Sama-sama menjadi relawan dalam pengungsian, keduanya bertemu, menjadi teman baik. Keduanya yang kehilangan sosok orangtua sering berbagi duka bersama, sampai kemudian keduanya memutuskan menjalin asmara. Tapi hubungan mereka tidaklah berjalan semulus yang mereka harapkan, dan mereka tahu itu—selama Kei masih dilanda kerusuhan. Puncaknya saat kerusuhan menjalar ke tempat dimana para pengungsi tinggal, namira harus rela berpisah dari Sala untuk diungsikan ke Evu.

.

.

.

Dengan setting pulau Kei tahun 1999-2001, saya jujur sedikit kesulitan menggambarkan situasinya. Awalnya. Mengingat saya masih SD di tahun-tahun tersebut dan tidak tahu menahu tentang kerusuhan yang terjadi di pulau Kei.

Dibandingkan Namira, saya lebih menyukai perkembangan karakter Sala. Akibat perpisahaannya dengan Namira, laki-laki itu sempat hilang arah dan menjadi seorang pembunuh bayaran di Jakarta. Yang bahkan saya sendiri nggak mengira karakter Sala yang penyayang bisa berubah jadi seperti itu 🙂

Kalau pembaca mengharapkan kisah asmara yang penuh cinta, jangan harap hal itu terjadi di novel ini. Selain itu, menurut saya jalan ceritanya juga berat, tidak bisa dibilang sebagai bacaan santai—berhubung porsi kerusuhan di novel ini nyaris separuh buku. Saya yang tidak suka politik ini mau tidak mau harus dipaksa melek juga karena buku ini sedikit banyak mengutip beberapa jejak jalannya kepemimpinan Negara pada tahun-tahun tersebut hahaha

Saat membaca Kei, saya banyak teringat pada ekskul teater yang saya ikuti saat SMA dulu yang sering menggarap cerita-cerita perjuangan. Dan saya pikir cerita ini akan bagus sekali jika diteaterkan. Tentunya, dengan garapan tangan yang ahli, hasilnya pasti akan membuat novel Kei ini terasa lebih hidup 🙂

tiga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s