[ REVIEW NOVEL ] “Wishing Her To Die” by Jung Soo Hyun

20141126_112602Judul : Wishing Her To Die
Penulis : Jung Soo Hyun
Penerbit : Penerbit Haru
Tebal : 401 halaman
Kategori : Fiksi – Supranatural – Misteri – Novel Korea


Kepada Lee Min-ah.

Salam kenal. Aku Yoon Jae-hee. Meski sulit dipercaya,
sekarang aku ada di dalam tubuhmu.

Yoon Jae Hee adalah gadis gemuk dengan bakat minim dan memiliki kesialan-kesialan semasa hidupnya. Ia berkeinginan untuk menjadi seorang aktris musikal sejak kecil dan sangat gigih dengan keinginannya itu. Namun dengan kondisi fisiknya, acap kali para produser musikal menolak dirinya.

Di suatu pagi ia menelepon rumah produksi tempatnya mengikuti audisi pemeran musikal untuk kesekian kalinya. Dengan dingin, CS rumah produksi itu mengatakan ia tidak lolos dalam audisi dan menutup telepon begitu saja. Penolakan itu membuat Jae Hee sedih dan mulai menyesali apa-apa yang terjadi dalam kehidupannya selama ini selama perjalanannya pulang. Lalu tanpa sengaja Jae Hee melihat anak tetangganya berlari ke arah jalan raya untuk mengambil bonekanya yang terjatuh, sementara dari arah berlawanan ada truk yang melaju dengan kecepatan tinggi. Dengan cepat Jae Hee turun ke jalan, bermaksud menolong anak itu. Namun seakan kesialan tidak berhenti menghampirinya, justru Jae Hee-lah yang tertabrak truk tadi.

Karena kecelakaan itu, Jae Hee mengalami koma dan kecil kemungkinan baginya untuk bisa hidup normal kembali. Jiwanya—yang terpisah dari tubuh—panik akan kenyataan bahwa ia sudah di ambang kematian. Saat kepanikan melanda itulah Jae Hee mendengar sebuah suara tanpa wujud yang memberikan gadis itu kesempatan untuk tetap hidup………dengan cara meminjam tubuh orang lain.

Lee Min Ah adalah pengacara cantik dengan fisik dan bakat sempurna, serta berasal dari keluarga kaya yang kekuatan firma hukumnya cukup berpengaruh di Korea Selatan. Gadis itu angkuh, arogan, dan terbiasa memandang rendah orang lain. Kecuali seorang laki-laki bernama Geon Woo yang diam-diam ia cintai.

Suatu hari setelah ia sukses memenangkan kliennya di pengadilan—seperti biasa—ia mendapat kabar bahwa ibunya melakukan usaha bunuh diri. Meski cukup terkejut, Min Ah yang membenci ibunya tidak begitu menunjukkannya. Ia pergi ke Rumah Sakit pun juga hanya untuk menanyakan pada sang ibu kenapa ia harus menerima semua siksa fisik sewaktu kecil. Namun jawaban dari ibunya yang lemah itu tidak memuaskannya. Hingga ia pergi meninggalkan Rumah Sakit dengan dikuasai emosi.

Sialnya, saat tengah mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir, mobil Min Ah ditabrak oleh mobil lain yang dikendarai seorang wanita yang tergesa-gesa menuju Rumah Sakit. Dengan kearoganan dan amarah yang tengah menguasainya, Min Ah membentak wanita itu dan tidak melepaskannya begitu saja. Namun ketika tengah mencerca si penabrak mobil, tubuhnya kehilangan kesadaran. Dan begitu membuka mata………Lee Min Ah telah menjadi Yoon Jae Hee.

.

.

.

K-iyagi pertama dan buku HARU pertama yang saya baca. Novel dengan judul asli “Geunyeo Gajug Gil , Barada” ini punya cover yang bagus. Dua gadis berbeda yang digambarkan seperti tengah berkaca dengan background hitam membuat buku ini terkesan misterius.

Cerita-cerita dari negeri Ginseng memang kebanyakan memiliki klimaks cerita yang rumit. Tidak terkecuali novel ini yang menawarkan konflik keluarga Lee yang pelik dan sarat dengan pengkhianatan akibat keegoisan demi meraih ambisi.

Alih bahasanya pun bagus. Meski ada beberapa bagian yang agak dipaksakan, namun saya masih bisa menikmati isi buku tanpa kebingungan memahami maksud kalimat-kalimatnya

Namun menurut saya, penulis kurang memberi porsi pada panggung musikal dan pekerjaan Min Ah sebagai pengacara. Saya berharap akan ada scene pertunjukan musikal atau aksi Min Ah dalam menaklukan ruang sidang yang nyatanya tidak saya temukan. Lalu ada beberapa tokoh yang saya rasa kurang digambarkan dengan jelas, namun karena mereka hanyalah karakter pendukung jadi memang tidak terlalu mengganggu jalannya cerita. Endingnya juga sedikit kurang greget, kesannya datar.

Dalam buku ini, penulis menyelipkan beberapa kutipan dan pengetahuan. Seperti kutipan puisi Herman Hesse di halaman 33 yang berjudul “Di Dalam Kabut”. Kemudian petikan kalimat dari Kurt Cobain—leader Nirvana—di halaman 148, “It’s better to burn out than to fade away”. Dan sempat juga disebutkan kasus pembunuh berantai di Jerman tahun 1976 serta beberapa judul teater musikal berikut lagu di dalamnya.

tiga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s