[ REVIEW NOVEL ] “Pillow Talk” by Christian Simamora

20141130_101516

Judul : Pillow Talk
Penulis : Christian Simamora
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 459 halaman
Kategori : Fiksi – Dewasa – Roman


…apakah kau tahu, rasanya saling mencintai
namun bertahan untuk tidak saling memiliki?
Percayalah, ini lebih buruk dari sekedar patah hati.
Ini bukan kisah cinta yang ingin kau alami.


Emi dan Jo bersahabat karib sejak mereka SMA. Tidak pernah ada rahasia di antara mereka, mulai dari hal-hal sepele seperti pekerjaan sampai perjalanan asmarapun, keduanya terbiasa untuk saling curhat.

Bagi Emi, dia dan Jo sudah selayaknya kakak dan adik. Meski Emi sendiri tahu, ada perasaan yang tak nyaman di dalam hatinya saat ia berpikir atau berkata demikian untuk mendeskrisikan hubungannya dengan laki-laki itu. Sama halnya dengan Jo yang sudah me-mindset dirinya bahwa Emi adalah gadis yang sangat tidak bisa ia pacari. Tidak setelah Emi dan Santo—mereka bertiga seharusnya adalah teman baik semasa SMA—berpacaran dan sikap Santo yang posesif pada Emi berujung dengan pecahnya persahabatan mereka bertiga. Membuat Jo berjanji tidak akan menjalin hubungan dengan sahabat sendiri.

Namun sekalipun Jo dan Emi berusaha membohongi diri tentang hubungan mereka berdua yang hanya sebatas kakak-adik, ada saat-saat dimana Jo dan Emi diam-diam merasa sakit hati. Seperti saat Emi yang berkata pada Jo bahwa ia akan menikahi Dimas—laki-laki yang dipacarinya dengan selisih usia 15 tahun. Atau saat Jo yang tengah pamit pada Feli—pacarnya—dan memanggilnya “Sayang..” sebelum ia dan Emi pergi liburan ke Bali.

Dan saat liburan itulah perasaan Jo dan Emi semakin diuji. Hingga akhirnya Jo tidak bisa lagi menahan diri dan mengungkapkan perasaannya pada Emi………

.

.

.

Terimakasih untuk sahabat saya, Mia, yang sudah memaksa dan promosi mati-matian agar saya mau membaca buku ini. Bahkan sampai repot-repot membawa buku ini dari kosnya ke rumah saya supaya saya mau baca hahaha~

Jujur saya sudah beberapa kali membaca fanfiction anime dengan M-rated, tapi baru “Pillow Talk” ini novel dewasa pertama yang saya baca. Entahlah, kalau untuk novel saya masih pilih young-adult ketimbang dewasa. Mungkin karena karakternya original, jadi setiap kali mengimajinasikan pasti yang kebayang orang-orang nyata hahahah~ masih malu, Kak. Kan saya masih kecil /ditabok/ muahahahaha~

Oke! Jadi memang di novel ini kita akan menemukan beberapa adegan dewasa. Ada juga kata-kata yang rasanya masih belum pas untuk dikonsumsi oleh mereka yang masih di bawah umur. Jadi saya rasa sih, kalau ingin baca karya ini musti tunggu dulu sampai minimal berusia 19 atau 20 tahun 🙂 Nggak akan rugi untuk baca novel ini di kemudian hari kok.

Ceritanya bagus. Saya suka konflik-konflik batin yang dimunculkan dalam cerita. Berhasil dibuat gemes juga. Rasanya pingin nabokin Emi dan Jo yang jelas-jelas saling suka tapi nggak juga segera mengutarakan perasaannya. Hanya saja, saya merasa konflik keluarganya kurang dapat porsi. Akan lebih seru andai ayah Emi atau keluarga Jo muncul sebentar, jadi pembaca bisa tahu seburuk apa hubungan dua tokoh utama dengan keluarga masing-masing.

Novel ini juga tidak menggunakan EYD baik dialog maupun narasinya. Awalnya saya memang agak kurang nyaman. Namun setelah membaca banyak lembar, saya mulai mikir seandainya buku ini dituliskan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, mungkin malah jadinya aneh. Mungkin juga penulis—Christian Simamora—sendiri sudah terkenal dengan gaya berceritanya yang seperti ini (ini novel mas Christian pertama yang saya baca). Jadi saya pun pelan-pelan belajar menikmatinya 🙂

“’…di satu titik dalam hubungan kalian, di antara kalian berdua bisa jadi kepikiran buat mengakhiri semuanya. Tapi, gue juga tau, kalo lo terus-terusan menyangkal perasaan lo sama Jo dan memilih semuanya baik-baik aja—kayak sekarang, gue khawatir lo bakal nyesal seumur hidup.’” ㅡ hal. 422

Yah masalah hati memang kadang-kadang nggak bisa dikompromi. Ada yang mati-matian menjaga ikatan persahabatan tapi ujung-ujungnya terjerumus dalam rasa suka. Tapi mau bagaimana lagi kalau hati sudah bicara, “Gue nyaman sih di dekat dia. Rasanya nagih!”? Takut persahabatan akan hancur sih boleh saja, itu wajar. Tapi kalau justru perasaan suka itu menyiksa kita, bukankah akan lebih baik jika kita berdamai dengan perasaan kita sendiri dan jujur saja? Siapa tahu dia juga merasakan hal yang sama dan perasaan kita selama ini pun tersambut baik 🙂

3koma5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s