[ REVIEW NOVEL ] “Fangirl” by Rainbow Rowell

20150107_094359

Judul : Fangirl
Penulis : Rainbow Rowell
Penerbit : Spring Publisher (Penerbit Spring)
Tebal : 454 Halaman
Kategori : Fiksi – Roman – Young Adult


Cath dan Wren—saudari kembarnya—adalah penggemar Simon Snow. Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu. Namun, Cath bukan sekadar fan. Simon Snow adalah hidupnya!

Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di Internet, dan ia terkenal! Semua orang menanti-nantikan fanfiksi Cath.

Semuanya terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya!


Cath tidak begitu gembira menghadapi tahun pertamanya di Perguruan Tinggi, atau malah bisa dibilang, ia takut. Ia pribadi yang tertutup, ia tidak cukup pandai berbaur dan mendapatkan teman. Selama delapan belas tahun hidupnya ia selalu ada di sebelah Wren—saudari kembarnya—yang sekarang memilih untuk meninggalkannya dengan memilih kamar asramanya sendiri, bukan dengan Cath. Membuat Cath harus rela berbagi kamar dengan Reagan, kakak tingkat yang gemar membawa mantan pacarnya—Levi—ke kamar mereka berdua.

Satu-satunya hal yang Cath nantikan mungkin hanya kelas penulisan fiksi yang ia ambil karena ia gemar menulis fanfiksi—tentang Simon Snow, seri fantasi dunia sihir mirip Harry Potter. Namun ternyata juga tidak butuh waktu lama bagi Cath untuk merasa bahwa kelas Penulisan Fiksi berubah menjadi mimpi buruk. Profesor Piper, pengajar kelas itu, menugasi mereka untuk membuat sebuah karya fiksi. Dan Cath yang begitu percaya diri, menyerahkan salah satu fanfiksi Simon Snow-nya untuk dikumpulkan. Namun hal itu justru membuat nilai Penulisan Fiksinya ditahan oleh sang Profesor. Saat keduanya bertemu untuk membicarakan hal ini, barulah Cath tahu bahwa bagi Profesor Piper, menulis fanfiksi tidak lebih dari kegiatan ilegal karena mengambil karakter milik orang lain. Tidak peduli bahwa Cath sendirilah yang membuat ide-ide ceritanya.

Belum lagi masalah saat Cath harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia menyukai mantan pacar teman sekamarnya. Itu membuatnya tak enak hati setiap kali melihat Reagan, sekalipun gadis itu sudah berulang kali menekankan bahwa antara dirinya dan Levi sudah berakhir. Keduanya akhirnya sepakat untuk tidak membahas lagi masalah status Levi sebagai mantan pacar Reagan—dan sudah menjadi pacar Cath—setelah mereka mengajukan beberapa syarat satu sama lain.

Namun masalah yang dihadapi Cath tidak berhenti sampai di situ. Ayahnya harus masuk Rumah Sakit lagi karena depresi yang dideritanya. Nick, partner menulisnya, juga mencuri tulisannya demi kepentingannya sendiri. Ibu Cath dan Wren—ayah dan ibunya sudah berpisah—juga sempat kembali dan membuat gadis kembar itu menjadi semakin tidak akur. Dan di atas semua, Profesor Piper masih terus memaksa Cath untuk menulis fiksi—yang bukan fanfiksi—sementara Cath tahu ia tidak bisa menulis dengan karakter miliknya sendiri. Membuat Cath ingin sekali menyerah.

.

.

.

Yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini adalah karena Cath adalah seorang penulis fanfiksi. Berhubung saya adalah penulis fanfiksi juga hahahaha~ Bahkan saya mendapatkan buku ini secara gratis karena memenangkan lomba menulis fanfiksi untuk Cath dan Levi. Terimakasih @NovelAddict_, @penerbitharu, dan @penerbitspring untuk buku ini 🙂 Kalau mau baca fanfiksi yang saya ikut sertakan di lomba ini, bisa klik di sini /lalu dihajar karena promosi fanfiksi milik sendiri/ hahahaha~

Memang selalu ada pihak-pihak yang menganggap fanfiksi adalah plagiarisme—tidak peduli bahwa ceritanya adalah murni buatan sang penulis fanfiksi—karena tokoh yang terlibat di dalamnya diambil dari karkter-karakter buatan orang lain. Karena memang fanfiksi sendiri sudah memiliki arti sebagai fiksi buatan fans. Fans membuat cerita dari idolanya—seseorang atau sesuatu—dan memindahkan mereka dari dunia asli ke dalam dunia yang fans buat. Saya nggak pinter menjelaskan sih hahaha~ bisa baca di Wikipedia untuk lebih jelasnya.

Di buku ini saya menemukan Cath mengalami kesulitan yang mungkin juga dialami para penulis fanfiksi lainnya (termasuk saya). Cath merasa tidak mampu menulis fiksi selain fanfiksi karena jiwanya sudah seratus persen jatuh dalam dunia magis Simon Snow sehingga ia putus asa dalam tugas Penulisan Fiksi. Butuh banyak dorongan dari dalam diri penulis itu sendiri untuk bisa keluar dari zona nyaman (dunia fanfiksi) jika ingin bisa menghasilkan sebuah karya milik sendiri, novel misalnya. Saya pernah mencoba membuat satu cerita pendek dan ternyata memang tidak mudah untuk membuat sebuah cerita dengan karakter yang saya buat sendiri.

Oke, sekian dulu tentang dunia fanfiksi. Mari bahas bukunya 🙂

Saya harus memberikan pujian pada Rainbow Rowell yang menyelipkan cerita fiksi Simon Snow di dalam “Fangirl”. Jadi Simon Snow ini semacam plesetan untuk Harry Potter 🙂 Dan di dalam novel ini sendiri, Rainbow Rowell menuliskan beberapa potong cerita tentang Simon Snow versi Gemma T. Leslie—penulis Simon Snow—dan versi fanfiksi milik Cath. I mean, tidak mudah membangun sebuah cerita di dalam cerita. Dan Rainbow Rowell melakukannya dengan sangat bagus di buku ini. Membuat saya ingin membaca “Carry On” milik Cath juga 🙂

Adegan yang saya sukai adalah saat Cath membacakan fanfiksi dan buku untuk Levi yang mengalami kesulitan membaca. Romantisme unik yang diciptakan Rainbow Rowell untuk Levi dan Cath ini selalu berhasil membuat saya tersenyum sendiri—karena Levi yang selalu menggoda Cath dengan menendang atau memeluk. Kalau ada yang saya sayangkan, mungkin hanya masalah saat ibu Wren dan Cath muncul. Rasanya seperti masalah ini dibiarkan menggantung begitu saja, penyelesaiannya terasa kurang.

Tapi secara keseluruhan, buku ini sudah bagus. Terjemahannya juga tidak buruk. Yang saya suka adalah penerjemah tidak mengubah bahasa untuk panggilan sayang dalam buku ini, seperti Sweetheart dan My Dear. Karena pasti justru rasanya aneh kalau diubah dalam bentuk bahasa Indonesia hahaha~

Tapi kalau untuk saya pribadi saya kurang setuju dengan covernya. Bukannya saya mau bilang kalau covernya jelek atau bagaimana. Tapi saya merasa covernya bisa dikatakan menipu andai kita tidak membaca blurb bagian belakang yang menuliskan bahwa buku ini adalah cerita anak kuliah. Covernya terlalu anak remaja menurut saya. Levi dan Cath digambarkan imut sekali layaknya anak SMP. Sementara di dalamnya jelas-jelas ada adegan kiss dan juga interaksi keduanya yang sedikit mendekati seksualitas (atau malah memang mendekati?).

16068905Jadi saya lebih setuju dengan cover dari penerbit UK ini dari segi penggambaran karakter Levi dan Cath, sekalipun terasa sangat lapang sekali hahaha~

4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s