[ REVIEW NOVEL ] “Bonus Track” by Koshigaya Osamu

IMG_20150919_085032

Judul : Bonus Track
Penulis : Koshigaya Osamu
Penerbit : Penerbit Haru
Tebal : 373 halaman
Genre : Fiksi – Fantasy – Supranatural


Kusano Tetsuya baru saja pulang dari restoran hamburger tempatnya bekerja malam itu dan melewati jalanan yang sepi menuju apartemen dengan mobilnya. Lalu mendadak, sebuah mobil sport yang dikendarai dengan ugal-ugalan dan suara alunan musik berisik dari dalamnya mendahului mobil Kusano, memaksa Kusano berhenti mendadak karena kecepatan mobil itu yang membuatnya terkejut. Kusano yang kesal sempat melontarkan sumpah serapahnya kepada sang pengemudi mobil sebelum akhirnya menjalankan mobilnya kembali.

Tak lama kemudia, ia melihat mobil sport tadi berhenti di tengah jalan. Takut sumpah serapahnya tadi didengar, Kusano menurunkan kecepatan mobilnya. Ia lega saat akhirnya mobil itu kembali berjalan dan dengan cepat menghilang di kegelapan malam. Namun saat Kusano melewati jalan tempat mobil itu berhenti tadi, Kusano melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang terbalut kain tergeletak di jalan dengan sebuah paying yang jatuh terbalik di dekatnya. Firasat Kusano tak enak.

 

Yokoi Ryota adalah mahasiswa di salah satu Universitas di Saitama. Malam itu, saat ia lelah memikirkan nasibnya yang tak pernah mujur sejak ia masih kecil ditambah masa depannya yang masih teka-teki, Ryota memutuskan untuk pergi ke rentl video. Ia ingin meminjam sesuatu yang bisa memuaskan ‘semangat tempur yang membara’ di dalam dirinya.

Seakan kesiala tak mau pergi darinya, mala mini pun turun hujan lebat. Namun Ryota tak mengurungkan niatnya dan nekat pergi ke rental video dengan berbekal paying di tangan. Dengan semangat Ryota melangkahkan kakinya melewati jalanan yang sepi malam itu. Sampai mendadak tubuhnya disiram cahaya yang berasal dari lampu depan sebuah mobil yang melaju kencang. Ryota tidak sempat menyadari situasi dan akhirnya tertabrak mobil itu. Tubuhnya terpental dan berputar dua kali di udara. Sebelum akhirnya jatuh di aspal yang keras dan tidak bergerak lagi.

.

.

.

“Terus, kalau disimpulkan, bagaimana kehidupanmu? Bagus?”

“Kehidupanku? Apa ya…kalau diringkas mungkin menjadi. ‘Album debut sebuah punk band’.”

“Apa maksudnya?”

“Selesai dengan cepat.”

“Begitu, ya.”

“Tapi, di dalam album yang cepat selesai itu ada sebuah bonus track.”

Bonus track itu sekarang?”

“Iya. Kadang bonus track itu sendiri malah lebih baik dibandingkan keseluruhan album.” ㅡ hal. 332

.

.

.

Alasan baca buku ini adalah karena HARU sempat bilang kalau di dalamnya ada BROMANCE which is saya suka 😀 Selain itu sih memang karena sedang ingin baca non-romance berhubung belakangan saya bacanya cerita cinta semua hehe~ Dan waktu buku ini nyampe rumah, surprisingly ada tanda tangan Koshigaya Osamu-sensei di dalamnya. Padahal waktu saya order di bukabuku(dot)com nggak ada edisi tanda tangannya hehe lucky me 🙂

Sebenarnya saya suka dengan ide cerita buku ini. Hanya saja saat masuk konflik dan penyelesaian masalah, saya merasa sedikit ada yang kurang. Apa ya? Kalau misalkan digambarkan dalam grafik, gairah(?) saya dalam membaca bagian konflik sama datarnya dengan membaca bagian awal buku. Padahal saya mengharapkan ada adegan kelahi atau kejar-kejaran mobil di jalan raya hahaha~ atau mungkin saya saja yang imajinasinya terlalu berlebihan.

Part favorit saya dalam buku ini adalah saat upacara kremasi Ryota. Rasa sedih dan harunya tersampaikan dengan baik. Bahkan saya sampai punya lagu khusus untuk menemani saya membaca part ini, yaitu “Fine On The Outside” milik Priscilla Ahn. Barangkali teman-teman ada yang membaca buku ini, mungkin lagu tadi bisa dijadikan alternatif teman membaca pada bab 6 🙂 (Spoilerrrrr?)

Kemudian untuk alih bahasa. As usual, tidak ada yang perlu diragukan dari terjemahan buku-buku HARU sih 🙂 cuman—menurut saya lagi nih, setelah beberapa kali jadi translator manga hihi—saya sempat menemukan beberapa kata yang agak kurang enak dibaca. Bukannya tidak pas, hanya kesannya sedikit dipaksakan.

Untuk penggunaan EYD juga, saat saya membaca sumpah serapah Kusano di awal buku, saya pikir buku ini nantinya akan menggunakan bahasa non-baku dalam dialog. Tapi ternyata di tengah-tengah saya nggak menemukannya. Ada sih beberapa kata non-baku yang digunakan, tapi buat saya itu masih standar. Untuk percakapan di dalam restoran hamburger mungkin perlu menggunakan kalimat berbahasa baku, mengingat Jepang juga salah satu Negara yang strict dengan budaya bicara formil terhadap senior atau orang yang lebih tua. Tapi untuk percakapan antara Kusano dan Ryota yang keduanya tidak menggunakan bahasa formal—juga beberapa percakapan antara beberapa gadis SMA dan kuliah di restoran hamburger—rasanya tidak apa-apa kalau diselipkan bahasa Indonesia slang lebih banyak lagi, tentunya selama tidak mengubah arti kata sebenarnya. Toh BONUS TRACK bukan cerita yang sekelam dan seserius GIRLS IN THE DARK 🙂

tiga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s