[ BLOG TOUR | REVIEW NOVEL ] “So, I Married The Anti-Fan” by Kim Eun Jeong

kenadjoen-20151018-0002

Judul : So, I Married The Anti-Fan
Penulis : Kim Eun Jeong
Penerbit : HARU (Haru Media)
Tebal : 518 halaman
Genre : Fiksi – Roman – Drama – K-novel


GeunYong dan rekannya selesai meliput dibukanya klub milik JJ—rapper salah satu grup musik—dan mengikuti pesta yang diadakan di sana. Ia minum alkohol sepuas-puasnya di pesta itu sampai kepalanya pusing. Saat ia memutuskan untuk pergi ke toilet, ia melihat HuJoon—artis yang sedang naik daun saat ini—tengah bersama seorang gadis bergaun merah yang tengah menangis. Awalnya GeunYoong berniat mengabadikan situasi langka seperti itu untuk dijadikan bahan berita, tapi akal sehatnya masih menang. Ia akhirnya memutuskan pergi dan tidak mengganggu privasi mereka.

Namun saat ia kembali lagi ke toilet karena isi perutnya yang mendadak minta di keluarkan, sesuatu yang buruk dan mengerikan terjadi. Ia muntah. Di depan HuJoon, dan mengotori sepatu putihnya. Bahkan setelah keluar dari acara itu pun GeunYong kembali muntah, kali ini persis di belakang mobil milik HuJoon. Dan karena dua insiden muntah bertubi-tubi itu, GeunYong dipecat dari tempat kerja. GeunYong marah besar dan menganggap dalang di balik pemecatannya ini adalah HuJoon.

Merasa diperlakukan tidak adil, GeunYong bertekad untuk membocorkan aib HuJoon, dan menamakan dirinya sebagai anti-fan artis itu—sekalipun ia harus menerima perlakuan kasar dari fans fanatik HuJoon. Nama GeunYong yang mendadak banyak muncul di media online maupun cetak membuat seorang produser acara reality show menawari GeunYong untuk menjadi tokoh utama di dalamnya. Sebuah acara yang akan membuat GeunYong tinggal satu rumah dengan seorang selebriti. GeunYong segera saja menyetujuinya begitu mendengar berapa jumlah uang yang bisa ia terima—ia bisa membayar semua tunggakan dengan uang itu. Tanpa ia tahu, bahwa dengan HuJoon lah ia akan menjadi pasangan di acara itu nantinya. Sebuah acara yang diberi nama, “So, I Married The Anti Fan.”

.

.

.

“Apakah ada yang bisa untuk membalut hati? Yang bisa langsung menyembuhkan.”

“…Aku tidak tahu apakah ada yang langsung menyembuhkan, tapi yang jelas kita mulai dari membuka hatimu dulu.” ㅡ hal. 238

.

“…Keberadaan anti-fan menandakan bahwa ada kekurangan pada diri selebriti tersebut. Bukankah anti-fan sejati adalah anti-fan yang bisa memberi tepuk tangan, menepuk pundaknya, dan menyalaminya ketika selebriti itu mengakui kekurangannya, bersedia mendengar kritik pedas, dan berusaha memperbaikinya?…” ㅡ hal. 391

.

.

.

Acara “So I Married The Anti Fan” yang ada dalam buku ini mengingatkan saya pada acara “We Got Married” yang ditayangkan di channel M di Korea sana. Mungkin awal idenya memang tercermin dari sana. Dimana dua orang—bedanya kalau WGM, dua-duanya public figure—akan tinggal dalam satu atap dan menjadi suami-istri bohongan.

Awal membaca buku ini, saya sempat garuk-garuk kepala karena di bab awal mendadak saya sudah disuguhi banyak tokoh yang minta perhatian. Semua tokoh ini pun nantinya akan ada dalam perkembangan cerita. Kalau nonton drama sih mungkin saya masih bisa mengikuti karena bisa mengingat wajah pemerannya. Tapi kalau cuma tulisan sepertinya saya masih agak kesulitan hehe

“So I married The Anti Fan” boleh dibilang buku yang bagus yang membeberkan banyak hal tentang sisi lain seorang artis yang mungkin tidak kita ketahui. Pastilah kita pernah mengomentari seorang artis hanya karena melihat penampilannya di TV yang mungkin kelewat ceria atau justru kelewat acuh/sombong. Padahal mungkin saja di balik itu semua, si artis punya sejarah atau cerita panjang kenapa akhirnya dia memilih menggunakan imej seperti itu.

Cover untuk cetakan terbaru ini bagus. Manis dan catchy dengan warna kuning terang ditambah ilustrasi si mas(?) artis dan mbak(??) anti-fan di depan dan belakang buku. Tapi entah mengapa, buku ini mengingatkan saya pada “Always With Me” dan “Moon In The Spring” yang punya warna dan gambar latar yang mirip. Tapi si kuning ini lebih bagus sih, dari pada yang pink—haters pink sih saya hahahahaha

Kemudian untuk halaman 11, ada satu kalimat terakhir di buku tersebut yang ditulis kembali pada halaman selanjutnya. Kalimatnya seperti ini, “Setelah semalam suntuk ‘berpesta’ dengan para zombie itu, kini…”. Tidak mengganggu sih sebenarnya—untuk saya—cuma mungkin bisa jadi catatan saja ke depannya 🙂

Lalu……ALIH BAHASA!!! Saya cinta penerjemah buku ini hahaha~ Dibandingkan dengan beberapa K-Iyagi lain yang saya baca dari Haru, rasanya baru buku ini yang bisa membuat saya benar-benar kagum dengan pengalihbahasaannya (ini bahasa apa?). Dikutip dari blog Kak Dion masalah penerjemahan, “…, bahwa terjemahan yang paling baik adalah ketika sebuah karya terjemahan tidak terasa seperti karya terjemahan”. And you did a great job lho, Mas/Mbak Putu. Translatenya rapi. Tidak terasa kaku karena diselipi beberapa bahasa slang Indonesia. Buat saya karya terjemahan itu tidak harus melulu menggunakan bahasa Indonesia baku ber-EYD. Selama inti ceritanya tidak melenceng dari versi aslinya, nggak apa-apa sih kalau mau pakai bahasa gaulㅡasal tidak terlalu banyak dan nggak pakai elo-gue juga 😀

Terlepas dari mana datangnya buku ini, bagi yang suka dengan genre drama romantis yang tidak menye-menye, saya rekomendasikan buku ini lho—untuk yang suka K-thingy berarti harus baca hahaha~ Memang sih garis besar ceritanya cukup bisa ditebak, tapi konflik yang disajikan lumayan bagus. Khas Korea deh kalau bikin konflik-konflik macam gini mah hahaha

Untuk cerita tiga
Sedangkan untuk alih bahasa 4.5

 

PS : Tunggu Giveaway novel ini di blog saya besok ya 😀 Akan ada dua eksemplar novel “So, I Married The Anti-fan” dari HARU lho. Jangan kelewatan!

Advertisements

12 comments on “[ BLOG TOUR | REVIEW NOVEL ] “So, I Married The Anti-Fan” by Kim Eun Jeong

  1. Hehehe. Sama ya. Saya juga sempat mikir ini semacam acara We Got Married tapi versi beraninya karena mau aja tinggal sama anti-fan. Apa dia nggak takut bakal dikapak di tengah tidur pulasnya di tengah malam gitu? Anti-fan di korea kan pada sadis kalo ngebenci artis. Sedangkan adegan muntah di hadapan artis itu juga mirip sama drama Full House. Ah, tapi yang penting plot dan ide cerita utamanya kan beda ya dari 2 acara itu. Semoga eke jodoh deh sama buku kuning ini. Aamiin… 😀

  2. Kalo we got married itu kan settingan min.. ada kamera di mana-mana hehehe.. tapi kalo So I married the antifan ini apa juga pake script ya? kkk~ dan saya setuju banget sama covernya… dari dua cover sebelumnya lebih pas yang ini min.. dan sekali lagi saya juga pink hatters wkwkw
    Ga sabar pengen baca. semoga bukunya mampir ke rumah saya deh

  3. Pingback: [Blog Tour & Giveaway] So, I Married The Anti-fan | Girl with Writing Problems

  4. Hai kak. Saya jg suka banget loh sama cerita So I Married The Antifan ini. Saya udah 2x baca >,< karena saya pecinta romance menye-menye seperti yg kakak blg hahaha
    Untuk covernya, setujuu.. Saya jg suka sama cover barunya ini, lebih unyu^^ tp saya bukan haters pink loh:p
    Kalo masalah translate sih, setiap novel terjemahan Haru bahasanya bagus kok dan kalo novel terjemahan kayak gini, saya lebih suka kalo bahasa baku.
    Kalo untuk masalah tokohnya, saya nggak masalah sih, soalnya udah biasa. Sama aja menurut saya yg di K-drama.

  5. Verita dari novel So I Married The AntiFan ini mungkin sudah biasa, tapi pasti ada sisi unik dan ciri khas tersendiri dari si penukis yang membuat novel ini beda dari novel kebanyakan. Aku sendiri sih penasaran, karena aku belum pernah baca sama sekali. Tapi jujur ini novel udah aku incer dari SMA kelas 3, sampek sekarang udah kuliah gak kesampean memiliki. Aduh sedih banget T.T pas kemaren nyari-nyqri digramed juga gak ada. Jadi pulang cuma bawa buku-buku kuliah doang deh. Berharap banget sih bisa dapetin novel ini. Penasaran sama gaya nulisnya Kim Eun Jeong. Karena aku emang belum pernah baca novelnya dia. Semoga deh! ^^

  6. Hoo, ternyata So I Married The Antifan adalah nama tayangan yang diisi GeunYong ma HuJoon. Pasti menarik sekali, apalagi agak mirip-mirip sama tayangan We Got Married ^_^))”> sukaa soalnya~~

  7. That’s right! Karya terjemahan so pasti harus pas dengan pengalihbahasaannya. Cocok dengan bahasa negara penerjemah, nggak harus baku, karena pembaca lebih suka dialog (narasi cerita) yang sesuai dengan karakter tokoh.

    “…Keberadaan anti-fan menandakan bahwa ada kekurangan pada diri selebriti tersebut. Bukankah anti-fan sejati adalah anti-fan yang bisa memberi tepuk tangan, menepuk pundaknya, dan menyalaminya ketika selebriti itu mengakui kekurangannya, bersedia mendengar kritik pedas, dan berusaha memperbaikinya?…” ㅡ hal. 391

    Setuju sekali dengan quotes di atas. Memang seharusnya seorang public figure alias idola memiliki rasa ingin tahu berlebih terhadap fans-nya apalagi anti-fans. Karena mereka lah yang lebih tahu kekurangan sang idola dan karena mereka juga keberadaan sang idola diakui publik. So, menjadi seorang idola harus berani dikritik!

    Terima Kasih!
    Review-nya detail banget. Sukaaa!

  8. Kalau soal menerjemahkan karya sebenarnya akan lebih baik kalau kita juga tahu kebudayaan dari negara yang akan kita terjemahkan. Bahasa yang mereka gunakan seperti apa dan ada perubahan terhadap bahasa tersebut atau tidak. Jadi, pembaca akan merasa hasil penerjemahannya ringan dan dapat dimengerti dengan baik.

    “…Aku tidak tahu apakah ada yang langsung menyembuhkan, tapi yang jelas kita mulai dari membuka hatimu dulu.” ㅡ hal. 238

    Quotes ini pas banget bagi kalian yang pingin move on. Heheheee

    Idola, fans dan anti-fans merupakan satu kesatuan. Tanpa mereka tidak akan ada seorang idola. Fans sebagai penyemangat sang idola dan anti-fans sebagai seorang editor yang membuat penampilan sang idola semakin keren (belajar dari kekurangan-kekurangan).

    Reviewnya tidak terlalu bertele-tele dan menurutku sederhana.

    Thank you 🙂

  9. Udah beberapa kali ngelewatin buku ini sebelum repackage dengan cover kuning dan ilustrasi kocak ini. Giliran covernya begini, baru deh penasaran. Aku nggak begitu suka kuning dan pink, tapi yang ini memang lebih bagus.
    Novel Haru yang dulu-dulu kayaknya memang belum luwes banget. Yang sekarang udah lebih enak. Tapi, novel ini kan sebetulnya novel lama, ya.

    • Hello, terima kasih sudah mampir dan komen ya 🙂
      Kebetulan saya dimintai tolong untuk bikin GA sama HARU, jadi bukunya saya nggak beli 🙂
      dari pihak HARU sendiri sepertinya memang sedang dicetak ulang lagi, jadi masih agak susah dicari. pantengin aja terus sosmed mereka, kali aja sebentar lagi restock 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s