[ REVIEW NOVEL ] “7 Kisah Klasik” by Edgar Allan Poe

poe

Judul : 7 Kisah Klasik
Penulis : Edgar Allan Poe
Penerbit : DIVA Press
Tebal : 204 halaman
Genre : Fiksi – Dark – ThrillerSuspense


Edgar Allan Poe, dikenal sebagai salah satu master cerita pendek berbau misteri nan horor yang kontras dengan genre romantis yang kala itu mendominasi Amerika. Namun kelebihan yang mampu membuat Poe segera mendapatkan perhatian pembaca adalah karena ia tidak hanya sekedar menuliskan kisah horor belaka. Cerpen-cerpen yang ia tulis selalu mengusung tema tentang sifat-sifat gelap yang ada dalam diri manusia.

Poe akan mengajak kita menyelami banyak hal tentang sifat-sifat kelam ini. Mengajak kita untuk merenung. Mengajak kita untuk menyelami diri kita sendiri, apakah kita juga pernah—atau justru termasuk—menjadi salah satu dari ketujuh karakter utama dalam 7 cerpen populernya.

1. Kucing Hitam

Aku adalah seorang lelaki yang sangat gemar memelihara binatang. Bahkan sampai aku menikah pun, aku meminta kepada istriku agar mengijinkanku untuk memelihara beberapa jenis hewan. Dan istriku yang pengasih itu pun dengan segera memberikan ijinnya. Membuat rumah kami, tak lama, telah dipenuhi dengan berbagai macam binatang peliharaan. Dari sekian binatang peliharaan yang kami punya, aku menaruh cintaku yang paling besar kepada seekor kucing hitam. Kuberi nama dia Pluto.

2. Jantung yang Berkisah

Aku tinggal dengan seorang tua. Aku sangat menyayanginya. Aku mencintainya yang bukan karena emas dan hartanya. Namun aku tak kuasa menatap matanya yang mirip burung pemakan bangkai itu. Rasanya, setiap kali mata itu menatapku, aku selalu merasa aliran darahku membeku.

3. Kumbang Emas

Suatu hari aku mengunjungi rumah temanku, William Legrand, yang berada di pulau terpencil untuk mengetahui seperti apa keadaannya sekarang. Aku sempat harus dibuat menunggu karena ia dan pelayannya, Jupiter, tengah melakukan kegiatan favoritnya, berburu. Begitu ia bertemu denganku, ia bercerita dengan penuh semangat tentang kumbang jenis baru yang baru saja ditemuinya—yang belum bisa ditunjukkan padaku karena dipinjam oleh kenalannya. Dia menggambarkan penampakan kumbang itu pada secuil kertas perkamen. Namun saat kertas itu diberikan padaku untuk kulihat, yang kulihat di kertas itu bukanlah kumbang. Di mataku, gambar yang kulihat adalah sebuah kepala tengkorak.

4. William Wilson

Aku benci padanya. Pada si William Wilson itu. Anak laki-laki yang meniruku habis-habisan. Bukan cuma nama kami yang sama. Bahkan kami pun juga berbagi tanggal lahir yang samaㅡmembuat kami disangka anak kembar. Ia juga selalu menjiplak semua hal yang kulakukan. Parahnya, ia selalu membuatku kesal dengan ejekan dan kalimat-kalimatnya yang selalu menyiratkan ajakan berperang. Dia bahkan selalu muncul dimana pun aku berada. Dia bisa membuatku gila.

5. Potret Oval Seorang Gadis

Pelayanku memaksaku untuk menginap di sebuah kastel karena kondisiku yang tengah terluka. Kamar yang kami pesan adalah kamar yang sederhana namun penuh dengan dekorasi yang cantik. Ada beberapa lukisan indah juga yang digantung di sisi-sisi dinding. Yang paling menarik perhatianku adalah lukisan seorang gadis yang dibingkai dengan pigura berbentuk oval. Gadis itu sangat menawan. Bahkan dia terlihat sangat hidup!

6. Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher

Roderick Usher, temanku semasa kanak-kanak, mengundangku untuk datang ke rumahnya. Ia merasa butuh teman mengobrol karena tertekan oleh kondisi dirinya yang terserang oleh penyakit aneh yang entah apa namanya. Aku pun dengan segera menyanggupi permintaan sahabatku itu dan menuju ke kediamannya. Sebuah rumah yang memiliki kesan muram dan seperti kehilangan aura “berpenghuni”.

7. Obrolan Dengan Sesosok Mumi

Aku sudah hendak memejamkan mata untuk tidur saat istriku mengantarkan pesan dari sahabatku yang mengundangku untuk sesegera mungkin menuju rumahnya karena ia baru saja mendapatkan ijin untuk membedah mumi. Bukan sembarang mumi, tapi mumi yang sudah lama kami incar dari sebuah museum. Bersama dengan beberapa teman lain yang turut diundang, kami membongkar peti berlapis dari sang mumi dan mengeluarkan jasadnya. Namun karena hari sudah lewat dini hari, kami pun memutuskan untuk melakukan pembedahan besok. Satu per satu dari kami bermaksud undur diri, sebelum salah satu dari kami mendadak menggagas sebuah ide untuk menyetrum sang mumi. Menguji apakah dengan mengejutkannya, sang mumi bisa kembali hidup.

.

.

.

“…berbuat sesuka hati adalah bagian dari insting primitif dalam diri manusia, salah satu dari kondisi atau sentimen purba yang tak terpisahkan dan turut membentuk karakter seorang manusia. Berapa banyak dari kita yang—mungkin sudah ratusan kali—mendapati dirinya melakukan perbuatan keji atau tercela, hanya karena tahu kita seharusnya tidak melakukannya? Tidak pernahkah kita merasakan dorongan yang terus menerus merongrong itu, dorongan untuk melanggar apa yang kita sebut sebagai hukum, hanya karena kita memahami bahwa kita harus menaatinya?” ㅡ hal. 13-14

.

“Jika ada sesuatu yang paling zalim dan mutlak di dunia ini, maka itu adalah seorang bocah yang suka menindas teman-temannya yang lebih lemah di masa kanak-kanak.” ㅡ hal. 113

.

.

.

Buku ini masih satu paket hadiah dari DIVA press karena memenangkan giveaway di blog kak Dion, sang penerjemah buku ini sendiri 🙂 Rasanya masih nggak nyangka bisa mendapatkan dua buku sekaligus dalam satu giveaway hehe~ lucky me 😀

Buku ini berhasil membuat saya bisa merasakan dengan nyata seperti apa kelam dan gelapnya cerita yang dibuat Poe. Terlebih lagi, saat membaca buku ini, saya juga baru saja menonton film “Crimson Peak” yang juga mengusung tema dark gothic. Jadi saya tidak menemukan banyak kesulitan untuk menggambarkan dan mengimajinasikan latar dari buku ini di dalam kepala.

Dari ketujuh cerita di atas—saya sependapat dengan kak Dion—saya paling suka dengan Kucing Hitam. Selain kisah pembunuhan yang bisa dibilang keji, Poe juga menyelipkan mitos tentang si kucing hitam yang memang dulu dikenal sebagai penjelmaan penyihir. Setiap adegan yang dituliskan rasanya selalu berhasil membuat saya menelan ludah karena ngeri bercampur……apa ya? Senang? Antusias? Bergairah? Entahlah, saya juga nggak tahu bagaimana menggambarkan perasaan saya hahaha~ yang jelas memang cerpen pembuka ini benar-benar membuat saya ‘jatuh cinta’.

Meski tidak semua cerita berhasil membuat saya merasakan apa yang saya rasakan pada judul pertama—dan tidak semua cerita bisa saya sukai—namun buku ini masih bisa saya rekomendasikan untuk teman-teman yang suka genre horor yang dibumbui dengan nuansa gothic yang kelam.

Lalu untuk alih bahasa. Saya harus jujur dengan bilang kalau buku ini memiliki jenis alih bahasa yang tidak begitu saya sukai—bukan berarti terjemahannya jelek lho ya— karena buku ini sarat dengan bahasa Indonesia baku dan terkesan sangat puitis dengan balutan kalimat-kalimat khas sastra lama yang penuh permainan kata yang—untuk saya—bisa dibilang berputar-putar. Tapi saya tidak bisa langsung asal mengritik begitu saja karena saya juga belum pegang naskah asli dari cerpen-cerpen ini. Selain itu, tim penerjemah—atau dari penerbit?—juga sudah memberikan warning pada bab pembuka. Yang membuat saya akhirnya memaksa diri untuk betah membaca, meski kalimat-kalimatnya tidak hanya satu-dua kali membuat kening berkerut. Dan di sinilah kualitas cerita yang ditawarkan Poe amat sangat membantu saya 🙂

Ada beberapa typo sebenarnya, tapi tidak saya catat karena—selain karena ini masalah yang menurut saya sangat lumrah terjadi—tidak mengganggu proses membaca. Tapi mungkin akan beda cerita untuk mereka-mereka yang cukup perfeksionis dengan penulisan sih hehe~ terutama beberapa kata yang lupa diketik dan kurang teliti dalam penggunaan tanda baca 🙂

3.5 untuk cerita-cerita Poe
tigauntuk terjemahan—dan penulisan.


Postingan ini diikutkan dalam Even Baca Bareng BBI Bulan Oktober 2015 🙂
1446204064
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s