[ REVIEW NOVEL ] “Kembalinya Sherlock Holmes” by Sir Arthur Conan Doyle

sherl
Judul : Kembalinya Sherlock Holmes
(The Return of Sherlock Holmes)
Penulis : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit : Gramedia
Tebal : 544 halaman
Genre : Fiksi – Misteri – Kriminologi – Detektif


Sherlock Holmes telah tiada, tewas dalam duel maut di Air Terjun Reichenbach. Ia berhasil membebaskan masyarakat dari Profesor Moriarty—Napoleon-nya dunia kejahatan—walau harus membayarnya dengan nyawanya sendiri.

Setidaknya, begitulah yang dipikirkan orang-orang saat sang detektif jatuh ke dalam jurang. Tapi apakah detektif tersebut benar-benar rela mengakhiri deretan ceritanya yang mengagumkan begitu saja?

1. Petualangan di Rumah Kosong

Watson, yang begitu mengagumi cara kerja Holmes yang begitu cemerlang, berniat untuk memecahkan sebuah kasus yang tengah terjadi saat itu. Ronald Adair, dibunuh dengan cara di tembak di kepalanya. Dengan menerapkan metode-metode yang sering digunakan Holmes, Watson mencoba mengobservasi TKP dan mencari titik terang dari kasus ini.

Saat ia kembali ke kamarnya, berharap untuk bisa berpikir jernih, seorang kolektor buku datang kepadanya untuk memperdagangkan buku-bukunya. Dan saat Watson lengah, kolektor buku itu melepaskan penyamarannya. Jati diri kolektor buku itu, tak lain dan tak bukan, adalah Sherlock Holmes!

Betapa gembiranya Watson, saat akhirnya ia bisa kembali melakukan petualangan misteri bersama sobatnya itu, yang bangkit dari kubur! Dan siapa sangka, kasus terbunuhnya Ronald Adair ini justru mengantar mereka pada penemuan tak terduga!

“…dalam proses pertumbuhannya, seseorang pasti akan mewarisi sifat-sifat turunan tertentu dari nenekmoyangnya, sehingga secara tiba-tiba saja dapat berubah menjadi pribadi yang baik atau jahat semata-mata karena pengaruh kuat yang terdapat dalam garis keturunannya. Orang itu lalu menjadi penerus kualitas sejarah keluarga besarnya.” ㅡ hal. 44

2. Kontraktor dari Norwood

John Hector McFarlane dituduh atas terbunuhnya Jonas Oldacre, kontraktor terkenal dari Lower Norwood. Kontraktor ini ditemukan dalam keadaan tinggal tulang belulangnya dalam kamarnya yang terbakar. Wanita pengurus rumah sang kontraktor bersaksi pada staf kepolisian bahwa orang terakhir yang menemui majikannya adalah McFarlane. Itulah dasar yang membuat polisi akhirnya menetapkan pemuda itu tersangka atas kasus ini.

“…luka hatinya ini telah meracuni pikirannya yang kejam sehingga dia selalu ingin membalas dendam…” ㅡ hal. 88

3. Gambar Orang Menari

Holmes mendapatkan kiriman pos berupa teka-teki dengan gambar orang-orang yang menari. Holmes yakin teka-teki itu adalah sandi yang digunakan oleh orang-orang tertentu untuk berkomunikasi. Hilton Cubitt—pengirim simbol-simbol itu—bercerita bahwa setelah melihat gambar-gambar itu di rumahnya, istrinya menjadi ketakutan setengah mati. Seakan-akan keselamatannya terancam.

Meski Holmes berhasil memecahkan sandi-sandi tersebut, kenyataan yang buruk terjadi di luar dugaannya. Beruntungnya, dengan sandi-sandi itu, Holmes bisa menarik pelakunya keluar persembunyian.

“…sobatku Watson, kita akhirnya berhasil memanfaatkan gambar orang menari yang selama ini telah sering dijadikan alat kejahatan, dan kurasa aku telah memenuhi janjiku untuk memberimu bahan tulisan yang unik.” ㅡ hal. 132

4. Gadis Pengendara Sepeda

5. Peristiwa di Sekolah Priory

Lord Saltire, anak tunggal Duke Holdernesse—mantan menteri kabinet—diculik di sekolahnya. Thorneycroft Huxtable, sang kepala sekolah, datang menemui Holmes—karena anak itu telah dipercayakan padanya—dan meminta bantuannya karena kasus ini dirasanya semakin berlarut-larut tanpa menunjukkan perkembangan berarti. Dan dari penturan sang kepala sekolah, ternyata bukan anak itu saja yang menghilang. Heidegger, guru bahasa Jerman, tidak ditemukan di manapun di lingkungan sekolah. Dari sepedanya yang juga raib dari sekolah, dugaan sementara guru bahasa Jerman itulah yang membawa pergi Lord Saltire.

Tapi dalam penyelidikannya, Holmes menemukan kenyataan yang berbeda.

“…Saya tahu di mana putra Anda berada, dan saya juga tahu siapa saja yang sekarang menahannya.”

“Di mana dia sekarang?

“Sekarang, atau lebih tepatnya tadi malam, dia ada di Fighting Cock Inn,…”

“Dan siapa yang menjadi terdakwa?”

Andalah terdakwanya,” ㅡ hal. 212

6. Peter si Hitam

Stanley Hopkins datang pada Sherlock meminta bantuan atas kasus pertamanya sebagai inspektur polisi muda. Kasus yang ditanganinya adalah kasus Kapten Peter Carey yang terbunuh secara mengenaskan dengan tombak yang menancap di tubuhnya di paviliun rumahnya sendiri. Dari data-data yang berhasil didapatkan Hopkins, Peter ini ternyata bukanlah orang yang ramah dan malah cenderung berperangai buruk. Bahkan ia sering menganiaya istri dan anaknya.

Holmes bersedia diajak ke kediaman Kapten Peter—bersama Watson, tentu saja. Dalam penyelidikan yang dilakukannya, seorang pemuda bernama John Hopley Neligan ditangkap karena menyusup dan mencuri barang dari TKP. Tapi saat diinterogasi, pemudia itu berkata bahwa barang yang dicurinya adalah hak ayahnya yang dicuri oleh Peter dan ia ingin mendapatkannya kembali. Hopkins tidak lantas percaya pada pemuda itu dan bersikeras menahannya.

7. Charles Augustus Milverton

Dia adalah seorang pria yang akan membeli dengan harga tinggi surat-surat penting yang ingin kau sembunyikan. Namun seorang wanita bernama Lady Eva Blackwell datang kepada Holmes dan mengatakan bahwa Milverton telah memerasnya. Milverton berkata bahwa jika sang Lady tidak membayar sejumlah uang padanya, surat cinta sang Lady untuk bekas pacarnya dulu akan ia kirim pada calon suaminya sekarang. Yang tentu saja akan menghancurkan persiapan pernikahan yang sang Lady siapkan.

Tak mempan diajak negosiasi, Holmes dan Watson akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat bertentangan dengan pekerjaan mereka sebagai penegak hukum selama ini. Mereka berdua akan datang ke rumah Milverton. Untuk mencuri surat milik sang Lady!

“…kurasa ada beberapa tindak kejahatan tertentu yang tak bisa dijangkau oleh hukum, dan sampai batas-batas tertentu tindakan balas dendam semacam itu bisa dimaklumi.” ㅡ hal. 298

8. Petualangan Keenam Napoleon

Lestrade datang ke kediaman Holmes dan Watson malam-malam. Ia bercerita bahwa ia sedang menghadapi kasus yang aneh. Awalnya ia menganggap ini adalah ulang orang ‘sakit’ yang kelihatannya membenci Kaisar Napoleon Pertama. Tapi tak lama, kasus ini berubah menjadi kasus pencurian terhadap patung-patung Kaisar tersebut. Dan terakhir, kasus ini malah berkembang menjadi kasus pembunuhan di rumah seorang pegawai surat kabar, Mr. Horace Harker.

Saat mencari bukti-bukti yang mendukung, Holmes tahu ini bukan sebuah kasus pencurian atau pembunuhan belaka. Kasus ini ada sangkut pautnya dengan sebuah kasus beberapa waktu lalu di London.

9. Petualangan Tiga Mahasiswa

Mr. Hilton Soames datang pada Holmes. Ia bercerita ia sedang ada dalam masalah karena soal ujian, yang ia buat sebagai bahan uji para mahasiswa untuk mendapatkan beasiswa, telah dijiplak oleh seseorang. Pembantu Mr. Soames kelupaan tidak mengunci ruang kerja sang dosen yang berakibat fatal dengan masuknya seseorang ke sana dan menyalin soal-soal ujiannya.

Holmes yang datang ke asrama tempat tinggal sang dosen, berkenalan dengan tiga penghuni lain asrama itu, yang semuanya adalah mahasiswa dengan ciri-ciri fisik dan perwatakan yang berbeda. Dari kunjungan singkatnya ke kamar masing-masing mahasiswa inilah, Holmes bisa menyimpulkan siapa pelaku pencurian soal milik sang dosen.

“sudah lumrah kalau manusia berbuat salah,…” ㅡ hal. 366

“…Anda pernah jatuh sekali. Kami ingin melihat setinggi apa Anda bisa meloncat di kemudian hari.” ㅡ hal. 372

10. Kacamata Berwarna Keemasan

Stanley Hopkins kembali datang pada Holmes untuk minta nasehat perihal kasus yang tengah ditanganinya. Seorang pemuda bernama Willoughby Smith, yang merupakan sekretaris Profesor Coram, tewas terbunuh di ruang baca rumah sang profesor sendiri. Dari hasil penuturan pengurus rumah, pada malam hari ia mendengar bunyi-bunyi aneh di ruang baca. Bunyi-bunyi itu diakhiri dengan suara teriakan laki-laki dan wanita. Saat si pengurus rumah tangga pergi ke ruang baca itu, sang sekretaris sudah jatuh di lantai bersimbah darah. Di sela nafas terakhirnya, ia mengucapkan pesan yang ia tujukan pada profesor. Sementara di tangannya, ia menggenggam kacamata wanita dengan bingkainya yang berwarna keemasan.

11. Pemain Belakang yang Hilang

Cyril Overton, seorang pemain rugby, datang pada Holmes dan Watson setelah mengirim telegram. Ia bercerita bahwa pemain belakang tim rugbynya, Gudfrey Staunton, menghilang setelah menerima surat pada suatu malam. Padahal akan ada pertandingan yang harus mereka ikuti.

Untuk memecahkan teka-teki ini, Holmes dan Watson mengunjungi Cambridge. Dari kamar Staunton, Holmes menemukan sebuah pesan yang tertinggal. Pesan permintaan tolong yang sangat mendesak, yang ditulis oleh si pemain belakang.

12. Petualangan di Abbey Grange

Lagi-lagi Stanley Hopkins meminta pertolongan pada Sherlock. Kasus yang ditanganinya kali ini adalah kasus terbunuhnya Mr. Brackenstall di rumahnya. Tepat di hadapan istrinya yang saat itu tengah diikat pada sebuah kursi. Dari penuturan istrinya ini, diketahui ada tiga orang penjahat—yang diduga adalah keluarga Randall, yang memang sedang buron karena melakukan banyak tindak kriminal—yang menjadi pelaku pembunuhan ini. Tidak hanya mengikat sang istri dan membunuh Mr. Brackenstall, ketiga pembunuh ini mengambil beberapa perabot mewah bahkan sempat mencicipi anggur di rumah itu sebelum pergi.

Holmes sempat merasa bahwa kasus ini tidaklah menarik, karena semua misteri serasa sudah dipecahkan dan tidak ada hal yang membutuhkan keahliannya. Namun semakin ia merasa bahwa kasus ini selesai begitu cepat, poin-poin yang mulai terasa ganjil muncul di kepalanya.

“…saya tak yakin apakah dengan alasan untuk mempertahankan hidup tindakan Anda itu akan bisa dibebaskan dari hukuman.” ㅡ hal. 493

13. Kisah Noda Kedua

Lord Bellinger, Perdana Menteri Inggris, dan Trelawney Hope, sekretaris Negara urusan Eropa, datang pada Holmes mengenai masalah hilangnya sebuah surat yang amat sangat penting dari rumahnya. Surat itu, dikatakan, mampu membuat geger seluruh Eropa dan akan sangat berbahaya jika diketahui khalayak ramai. Dari cerita tersebut, Holmes menyimpulkan bahwa ada tiga orang agen Internasional yang bisa saja terkait. Dan satu yang paling mungkin untuk melakukan pencurian surat berharga itu adalah Eduardo Lucas.

Namun belum sempat Holmes bertemu dengan Lucas, pria itu ternyata ditemukan tewas di rumahnya. Ditikam oleh orang misterius. Bagi Holmes, sangat kebetulan sekali ada dua kejadian di tempat yang cukup dekat dalam waktu yang nyaris bersamaan. Ia menduga, kematian Lucas dan hilangnya surat berharga ini saling berkaitan

.

.

.

Dalam serial TV, Sherlock Holmes diceritakan bunuh diri dengan melompat dari gedung Rumah Sakit. Ia baru muncul kembali di hadapan John Watson tiga tahun kemudian. Sedangkan dalam versi movie, Sherlock Holmes jatuh dalam air terjun bersama Prof. Moriarty, mengikuti alur novelnya. Dan sampai sekarang, masih belum dibuat movie teranyarnya tentang bagaimana Sherlock ‘bangkit dari kubur’. Karena itulah saya membaca buku ini.

Dan jujur saja, setelah tahu bagaimana kemunculan kembali Sherlock Holmes di hadapan John Watson dalam buku ini, ternyata tidak terlalu memuaskan rasa keingintahuan saya. Kesannya kurang dramatis dan kurang horor. Tapi apapun itu, fokus pada kembalinya Sherlock Holmes tidak terlalu dititikberatkan dalam buku ini.

Ada 13 cerita menarik yang terdapat dalam buku dengan tebal nyaris mencapai 600 halaman ini. Dan dari ketiga belas cerita tersebut, ada satu cerita yang pernah saya buat reviewnya, yaitu cerita keempat : Gadis Pengendara Sepeda. Sementara kisah yang paling saya sukai adalah “Petualangan di Abbey Grange”. Dalam cerita ini, kita ditunjukkan bahwa cinta terkadang bisa membuat kita rela melakukan apapun—bahkan hal-hal yang melawan hukum—untuk melindungi atau justru menghancurkan orang lain.

Seperti bisasa, saya selalu menyukai cerita-cerita detektif nyentrik dari Conan Doyle ini. Dan tidak ada satu cerita yang bisa saya kritik, karena memang ide-ide ceritanya selalu brilian. Masalah alih bahasa juga tidak ada masalah—mungkin karena penerjemah memiliki gelar “Dra.”, yang pastinya lebih ahli tentang masalah ini ketimbang saya. Hanya mungkin koreksi saja  agar ke depannya lebih teliti pada tanda baca. Saya beberapa kali menemui kalimat yang seharusnya bisa dipisah menggunakan koma, tapi ternyata digabung begitu saja. Kebanyakan memang tidak memberikan pengaruh, tapi ada juga beberapa yang sediki mengganggu.

Saat ini, buku-buku Sherlock Holmes yang diterbitkan oleh Gramedia adalah “Kumpulan Kasus 1” dan “Kumpulan Kasus 2”. Padahal saya lebih menyukai versi buku yang dicetak sendiri-sendiri seperti ini. Dan sialnya, mendapatkannya jadi semakin sulit sekarang ini karena stok yang menipis.

4.5


Postingan ini diikutsertakan dalam Even Baca Bareng BBI bulan November 2015 🙂
1446204064

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s