[ REVIEW NOVEL ] “The Reveter” by Frida Kurniawati

reveter
Judul : The Reveter
Penulis : Frida Kurniawati
Penerbit : Elf Books
Tebal : 236 halaman
Genre : Fiksi – Fantasi
Harga Resmi : IDR 40,000


Hari Natal. Hari yang seharusnya menjadi hari yang penuh kehangatan di tengah musim dingin itu mendadak menjadi hari yang penuh luka untuk Hydra dan adiknya, Oxy. Tepat setelah menyerahkan kado untuk mereka berdua, kakek dan nenek mendadak lenyap di depan kedua mata mereka. Membuat Hydra dan Oxy praktis kini sebatang kara, dengan ibu yang tidak mempedulikan mereka berdua dan ayah yang dipenjara—entah dimana—karena kasus korupsi.

“Segalanya berlalu seperti mimpi. Mimpi buruk yang memaksa masuk ke dalam tidur panjang Hydra yang indah, lalu mengambil alih seluruh malam yang tersisa, dan mengempaskannya ke dunia nyata dengan berdebum beberapa detik kemudian…” ㅡ hal. 32

Meski mereka sempat bersedih, Hydra dan Oxy memutuskan untuk mencari tahu fenomena aneh apa yang telah terjadi pada kakek-nenek mereka yang hilang secara misterius. Diawali dari dua kado natal terakhir kakek-neneknya, ditambah dengan sebuah runjung pinus yang Hydra temukan di kaus kaki natalnya—yang ia pasang di jendela agar Santa Klaus dengan mudah memasukkan hadiah untuknya—kakak-beradik itu membuka kembali kisah mirip dongeng yang nyaris terkubur selama delapan ribu tahun yang lalu.

“Dari awal, manusia memiliki dua sisi dalam dirinya, sisi terang dan sisi gelap. Setiap manusia berpotensi menjadi orang baik atau jahat, tergantung pilihannya. Apalagi yang berkaitan dengan kemampuan istimewa itu…” ㅡ hal. 39

.

.

.

Saya cukup kaget saat ternyata hadiah GA yang saya dapatkan dari blog Frida Kurniawati ternyata dua buku—padahal seingat saya saya cuma entri untuk satu buku saja. Dan begitu tahu bahwa buku pendamping(?)nya ini adalah buku pertama sang pemilik blog, wah! Senang nih! Terima kasih sekali lho sudah diijinkan icip-icip bukunya neng Frida, gratis pulakkk!! 🙂

Dari cover bukunya yang gelap—didukung dengan tema GA yang saya ikuti—saya segera menangkap bahwa buku ini mengusung genre misteri. Menceritakan tentang para pengelola mimpi, orang-orang yang memiliki kekuatan untuk masuk dan melakukan banyak hal pada mimpi mereka; bahkan sampai dengan merubah dunia nyata dalam mimpi itu sendiri. Wow, saya suka nih dengan ide ceritanya.

Untuk beberapa halaman awal, saya pikir buku ini akan bersetting di Indonesia. Dan jujur saya mengharapkan itu, karena jarang-jarang saya menemukan novel fantasi yang menggunakan setting ibu pertiwi. Ternyata begitu sampai adegan pembagian kado natal, saya cukup kecewa karena penulis menyebut “salju” 🙂

Fokus dalam cerita ini adalah tentang keturunan ke-2562 dari Argento dan Auri. Yang diharapkan bisa menjadi savior dari hutang darah perang saudara kedua leluhur itu yang terjadi beribu-ribu tahun lalu. Sejarah tentang perang saudara antara Argento dan Auri ini dituliskan dengan cukup baik—meski saya sempat bertanya-tanya apakah pada delapan ribu tahun yang lalu sistem pemerintahan seperti Ratu dan Dewan Rakyat sudah tercipta.

Hydra dan Zinco—dua orang keturunan ke-2562—mendapatkan porsi cerita yang cukup pada bab-bab awal buku. Namun setelah kemunculan Radon dkk, pelan-pelan dua orang tadi mulai menjadi bayangan dan malahan saya menangkap, dua orang keturunan ke-2562 itu justru tidak banyak berperan dan Radon-lah yang menjadi hero. Kemudian saya juga masih penasaran tentang kebenaran Hydra sebagai keturunan ke-2562. Pasalnya, di buku harian kakek-neneknya, tidak ada satu tulisan pun yang menyatakan bahwa gadis itu keturunan ke-2562. Kalung Convoera yang dimilikinya pun didapat sebagai hadiah natal, bukannya resmi diberikan karena dia adalah keturunan terpilih. Dan masih ada beberapa hal lagi yang masih mengganjal untuk saya. Tapi karena takutnya saya malah menuliskan spoiler, mungkin ada baiknya dipendam sendiri dulu.

Novel ini bisa dibilang merupakan pencerminan penulis yang menyukai Fisika. Terbukti dari sebuah soal cerita pelajaran Fisika berikut cara pengerjaan yang ada di bab enam. Dan ternyata sang author juga seorang penulis fanfiksi lho. Rasanya saya jadi ingin membaca salah satu karyanya, apalagi yang dituliskan memenangkan lomba tahun 2012 🙂

Seperti quote yang saya tulis di atas, dalam diri kita pasti ada sisi baik dan buruk. Dengan dua sisi ini, kita bisa memilih untuk menjadi orang baik maupun jahat. Tapi buku ini pun menunjukkan bahwa tidak semua orang yang memilih jalan yang salah adalah orang jahat. Ambil contoh ayah Rando dan Calsina—spoiler alert!—yang tidak punya pilihan lain selain memihak pihak yang berseberangan karena nyawa kedua anaknya terancam. Terkadang, kita juga dihadapkan pada pilihan rumit dalam hidup, yang membuat kita tidak bisa sejalan dengan sisi baik yang ada di dalam diri dan terpaksa memihak sisi yang jahat.

tiga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s