[ REVIEW NOVEL ] “Autumn in Paris” by Ilana Tan

autumnn
Judul : Autumn in Paris
Penulis : Ilana Tan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 272 halaman
Genre : Fiksi – Roman – Young Adult
Harga Resmi : IDR 54,000 (cover baru)


Tara Dupont adalah seorang gadis blasteran Perancis-Indonesia yang tinggal di Paris setelah kedua orangtuanya berpisah. Ia juga seorang penyiar radio di salah satu stasiun paling populer di Paris. Tara yang ceria dan cerewet ini menyukai Paris dan musim gugur. Bagian yang paling menyenangkan dari musim gugur, menurutnya, adalah saat angin musim gugur menerpa wajahnya, yang membuat ujung hidung dan kedua pipinya terasa dingin.

Dan di musim gugur itulah Tara memiliki sebuah kisah. Kisah pertemuannya dengan seseorang yang awalnya membuatnya penasaran, hingga akhirnya membuatnya merasakan perasaan-perasaan aneh di dalam dadanya.

“…Tara merasa Tatsuya Fujiwara adalah teman mengobrol yang menyenangkan. Mengobrol dengannya serasa mengobrol dengan teman lama…” ㅡ hal. 41

 

Tatsuya Fujiwara datang ke Paris dengan membawa sebuah misi. Ia ingin menemui seseorang yang namanya ditulis oleh almarhumah ibunya dalam suratnya yang terakhir. Baginya, Paris seperti mimpi buruk dan ia membencinya. Pun dengan musim gugur yang menurutnya hanya membawa kesedihan dengan memamerkan pemandangan guguran-guguran daun dimana-mana.

Tapi kemudian pandangan itu perlahan berubah. Seiring dengan pertemuannya dengan seseorang yang mampu membuatnya menemukan kehidupan yang ia damba-dambakan. Orang yang, kalau boleh, ingin ia rengkuh tanpa dilepaskan. Orang yang, kalau boleh, ia berharap agar selalu ada di sampingnya. Kalau boleh…

“…Ia baru menyadari ia senang mendengar celotehan gadis itu. Ia suka mendengarkan suara Tara. Seolah memahami perasaan Tatsuya…” ㅡ hal.54

.

.

.

“Hidup ini sungguh aneh, juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit, kali lainnya hidup mengempaskanmu begitu keras ke bumi. Ketika aku menyadari dialah satu-satunya yang paling kubutuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telingaku dia juga satu-satunya orang yang tidak boleh kudapatkan…” ㅡ hal. 235

.

.

.

Saya membaca buku ini pertama kali saat kuliah. Seorang adik tingkat menawarkan pada saya untuk membaca buku ini dengan alasan…yah, mungkin sudah bisa ditebak karena alasan apa 🙂 Saya membacanya lagi agar lebih memahami cerita—karena waktu itu saya membacanya dalam kondisi masih terbayang-bayang tugas kuliah dan lain-lain hahaha—serta agar bisa membuat reviewnya. Dan pendapat saya setelah sekali lagi membaca buku ini masih belum berubah. Buku ini masih merupakan buku Ilana Tan yang—sejauh ini—paling saya sukai.

Porsi cerita dibagi dengan sangat pas. Konflik dihadirkan di waktu yang tepat, tidak buru-buru atau terlalu lambat. Sehingga penyelesaiannya pun jadi tidak terasa seperti dikejar-kejar jumlah halaman buku. Selain itu, dalam buku ini Ilana Tan benar-benar memberikan peran yang sangat kuat pada setiap karakternya. Bahkan peran kecil seperti Elise—yang hanya membacakan email-email dari Tatsuya di radio—pun memiliki andil dalam perkembangan cerita. Membuat buku ini nyaris saya beri poin sempurna.

Kalaupun ada yang mengganjal sih sebenarnya bukanlah hal-hal yang bersifat penting. Contohnya saja, pada akhir bab 2. Saat itu Tara baru ingat kalau dia sudah punya janji dan tanpa sadar mengiyakan ajakan jalan-jalan dari Tatsuya. Tapi di bab 3 tidak diceritakan sama sekali tentang janji tersebut, dan tahu-tahu Tara sudah pergi menemui Tatsuya. Kemudian ada juga beberapa destinasi wisata yang dikunjungi dalam novel tapi tidak terlalu dijabarkan keindahannya. Padahal untuk saya, Paris merupakan salah satu kota yang memiliki pemandangan vintage yang menjanjikan.

Karakter yang paling saya favoritkan dalam buku ini adalah Sebastien. Karakter ini semacam jembatan alias “obat nyamuk” dalam hubungan Tatsuya-Tara. Sebastien selalu ada untuk Tara sebagai seorang kakak dan sebagai sahabat untuk Tatsuya. Dan jujur saja, sejak pertama kali membaca buku ini saat kuliah dulu sampai sekarang, saya masih kecewa saat tahu bukan pada Sebastienlah perasaan Tara berlabuh hahaha~

Untuk yang masih belum baca, buku ini masih bisa saya kategorikan sebagai buku aman yang bisa dinikmati oleh pembaca mulai usia remaja. Tidak ada adegan orang dewasa dan tema ceritanya pun tidak terlalu berat. Hanya saya mau memberikan sedikit pesan saja, SIAPKAN TISU untuk kalian yang gampang menitikkan air mata 🙂

4.5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s