[ REVIEW NOVEL + FILM ] “The Little Prince” by Antoine de Saint-Exupery

pprince
Judul : Le Petit Prince
Penulis : Antoine de Saint-Exupery
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 120 halaman
Genre : Fiksi – Fantasi
Harga Resmi : IDR 40,000 (IDR 28,900 via bukupedia)


Sosok “aku”—anonim—memiliki minat yang besar pada gambar saat ia masih berumur enam tahun. Kala itu ia melihat gambar ular yang memakan bianatang buas. Dengan imajinasinya, ia pun mencoba membuat sebuah gambar dimana seekor ular sanca menelan bulat-bulat seekor gajah.

hatNamun saat gambarnya itu diperlihatkan pada orang-orang dewasa, mereka berpikir gambar itu hanyalah gambar sebuah topi. Maka “aku” membuat gambar yang lebih menjelaskan gambar apa yang sudah dibuat sebelumnya.

sancaNamun saat sekali lagi ia memamerkannya pada orang dewasa, mereka justru menasehati “aku” agar lebih memahami tentang ilmu-ilmu lain. Maka dengan berat hati, “aku” memilih profesi lain dan menemukan minatnya yang baru dengan mengemudikan pesawat.

“…Orang dewasa tidak pernah mengerti apa-apa sendiri, maka sungguh menjemukan bagi anak-anak, perlu memberi penjelasan terus menerus.” ㅡ hal. 9

“Aku” tumbuh dewasa seorang diri karena ia tidak memiliki banyak teman. Suatu hari, ia menerbangkan pesawatnya ke tempat yang jauh. Dalam perjalanannya, pesawat itu mogok dan terjatuh di gurun Sahara yang hanya terlihat pasir di sejauh mata memandang. Namun betapa terkejutnya “aku” begitu ia menemukan sesuatu saat subuh tiba.

prince

.

.

.

the-little-prince-2015.35599

The Little Prince
Release Date : October 2015
Director : Mark Osborn
Distributor : Paramount Pictures, Warner Bros, Paramount Vantage, Entertainment One


Seorang gadis cilik merasa kehilangan masa kanak-kanaknya karena sang ibu yang memaksanya untuk terus-menerus belajar demi memasuki sebuah sekolah bergengsi—WERTH ACADEMY. Ia mengikuti tes pertamanya dan telah menghapalkan jawaban yang brilian agar ia bisa diterima. Namun karena terlalu gugup, ia justru salah menjawab. Yang mengakibatkannya gagal dalam tes wawancaranya itu.

Sang ibu memutuskan untuk mencari suasana yang lebih bagus untuknya belajar. Maka mereka pun pindah rumah. Rumah baru mereka bersebelahan dengan seorang kakek yang memiliki penampilan dan hobi yang unik. Si kakek yang gemar dengan pesawat ini menjebol tembok rumah si gadis cilik dengan baling-baling pesawatnya di pagi pertama mereka bertetangga.

Awalnya si gadis cilik ini kesal pada si kakek. Sampai akhirnya di suatu malam, saat si gadis cilik tengah belajar, sang kakek menerbangkan pesawat kertas ke kamar si gadis cilik. Gadis itu membuka lipatan-lipatan pesawat kertas. Ia menemukan sepotong cerita di kertas itu.

vlcsnap-2015-12-05-22h18m58s6820_04_15_02

.

.

.

Buku “The Little Prince” lebih menitikberatkan pada pertemuan “aku” si pria penerbang dengan Pangeran Cilik. Si Pangeran Cilik ini tengah melakukan perjalanan ke berbagai planet dan bintang-bintang di jagad raya demi menemukan arti menjadi dewasa dan mencintai. Banyak cerita yang ia sampaikan saat menemani si pria penerbang.

“‘Sekali peristiwa, ada Pangeran Cilik yang berdiam di sebuah planet yang hampir tidak lebih besar dari dirinya sendiri dan yang memerlukan kawan…'” ㅡ hal. 22

“…Memilukan sekali, kalau melupakan teman. Tidak semua orang pernah mempunyai teman…” ㅡ hal. 22

Pangeran Cilik pernah mendatangi sebuah planet kecil yang didiami oleh seorang raja saja. Ada juga planet yang dihuni seorang diri oleh orang yang gila dipuji-puji. Ada lagi planet yang hanya didiami oleh seorang pemabuk. Juga ada planet yang didiami oleh seorang pebisnis yang gemar menghitung bintang agar ia bisa menjadi kaya. Lalu dari seorang ahli bumi yang ia temui di planet kecil yang lain, Pangeran Cilik ini disarankan untuk mengunjungi Bumi.

“‘…Mengadili diri sendiri lebih sulit daripada mengadli orang lain. Jika kamu berhasil, berarti kamu betul-betul orang yang bijaksana.'” ㅡ hal. 47

“…bagi orang-orang yang sombong, semua orang lain adalah pengagumnya.” ㅡ hal. 49
“…Orang-orang sombong hanya mendengar pujian semata.” ㅡ hal.50

Di Bumi inilah Pangeran Cilik menemukan banyak sekali ilham. Salah satunya saat ia bertemu dan berteman dengan seekor rubah merah yang membisikkan rahasia padanya. Juga pada sekumpulan bunga mawar yang akhirnya membuat Pangeran Cilik paham apa artinya mencintai bunga mawar satu-satunya yang hidup di planetnya.

“‘Buatku, kamu masih seorang bocah saja, yang sama dengan seratus ribu bocah lain…Buat kamu, aku hanya seekor rubah yang sama dengan seratus ribu rubah lain. Tetapi, kalau kamu menjinakkan aku, kita akan saling membutuhkan. Kamu akan menjadi satu-satunya bagiku di dunia. Aku akan menjadi satu-satunya bagimu di dunia…'” ㅡ hal. 82-83

“‘Kalian sama sekali tidak sama dengan mawarku, kalian belum apa-apa…Kalian belum dijinakkan siapa pun, dan kalian belum menjinakkan siapa pun…”
“Kalian cantik tapi hampa…Orang tidak akan mau mati demi kalian. Bunga mawarku, bagi sembarangan, tentu mirip dengan kalian. Tapi ia setangkai lebih penting dari kalian semua…Karena dialah mawarku.” ㅡ hal. 88

Saya tidak pernah merasa sedih seperti saat membaca bagian saat pria penerbang harus berpisah dengan Pangeran Cilik. Antoine menceritakannya dengan begitu indah dan menyedihkan di saat yang sama, membuat saya nyaris menangisㅡdan benar-benar menangis saat menonton filmnya. Terutama setiap dialog yang diucapkan Pangeran Cilik pada si pria penerbang sebagai salam perpisahan.

“‘Bila kamu memandang langit pada malam hari, karena aku tinggal di salah satunya, karena aku tertawa di salah satunya, maka bagimu seolah-olah semua bintang tertawa. Kamu seorang akan mempunyai bintang-bintang yang pandai tertawa!'” ㅡ hal. 106

Sementara untuk film, cerita fokus pada si gadis cilik yang tengah berusaha menemukan apa sebenarnya yang ia inginkan dalam hidupnya. Sampai akhirnya ia bertemu si kakek penerbangㅡyang tak lain tak bukan adalah si pria penerbang(dalam buku)yang menuaㅡdan mendapatkan cerita tentang Pangeran Cilik.

Memiliki ibu yang sangat perfeksionis dan diktator terhadap pendidikannya, membuat si gadis cilik ini serasa menemukan teman yang ia cari selama ini dengan berkenalan dengan si kakek penerbang. Cerita-cerita tentang Pangeran Cilik pun sukses membuatnya meninggalkan semua buku-buku pelajaran tebalnya.

“Ini adalah hidupmu dan ibu satu-satunya yang bertanggung jawab dengan hal itu.”
“Itu adalah hidupku menurut ibu, bukan menurutku! Kalau saja ibu ada di posisiku, ibu akan mengerti.”
“Kamu tahu pasti mengapa ibu bekerja dengan sangat keras.”
“Ibu sama saja seperti ayah. Terlalu sibuk, selalu bekerja. Berapa lama lagi sampai akhirnya ibu pergi meninggalkanku?” ㅡ menit 46.35 – 46.57

Namun setelah ia mengetahui akhir cerita si kakek penerbang dan Pangeran Cilik. Gadis itu merasa kesal karena Pangeran Cilik meninggalkan si kakek penerbang begitu saja dan membenci cerita itu. Ia emosi dan pergi dari rumah si kakek. Dan betapa kagetnya si gadis cilik saat keesokan malamnya, ambulans membawa tubuh renta sang kakek di depan matanya.

“Kalau kamu bisa menemukan sumur di tengah gurun, maka kita bisa pergi dan mencari Pangeran Cilik. Dia bisa menolong kita.”
“Tunggu, Anak Kecil. Kita tidak bisa pergi begitu saja.”
“Kamu benar. Kita harus perbaiki sayap pesawatnya dulu.”
“Tidak, tidak. Maafkan aku, tapi ketika tiba saatnya bagiku untuk pergi, aku harus pergi sendiri.” ㅡ menit 52.10 – 52.43

.

.

.

Buku “The Little Prince” sudah saya idam-idamkan sejak tahun lalu. Sebenarnya saya sudah dengar kalau buku ini banyak mengandung pesan, namun karena mood membaca buku terjemahan masih menurunㅡkecuali buku genre misteriㅡmaka saya tidak kunjung membelinya. Barulah saat saya dengar kalau filmnya sudah dibuat, saya merasa perlu membaca bukunya terlebih dulu.

Sialnya saya nggak kebagian nonton di cinema dan harus puas nonton di layar kecil leptop saya. Tapi kemudian saya bersyukur, karena kalau nonton di bioskop mah yang ada saya bakal malu-maluin karena sepanjang setengah awal film saya nyosotin ingus mulu karena nangis hahaha~

Seperti yang sudah banyak dikatakan orang, ada banyak pesan yang bisa dipetik oleh kita baik dalam buku maupun filmnya. Sekilas, bagi mereka yang belum pernah mendengar tentang “The Little Prince”, karya ini adalah konsumsi anak-anak. Padahal justru pada orang-orang dewasalah buku ini ditujukkan. Hanya saja kita para dewasa disuguhi sebuah kisah dari sudut pandang seorang anak kecil.

Misalnya saja saat Pangeran Cilik mendatangi banyak planet-planet kecil dan bertemu banyak orang-orang dewasa, ia mengetahui bahwa banyak sekali orang-orang dewasa yang memiliki pemikiran yang aneh dan rumit. Atau seperti filmnya dimana seorang ibu yang tega membatasi gerak anaknya untuk terus menerus belajar. Pendidikan itu memang penting, tapi pun sebaiknya anak juga dibiarkan tumbuh dengan mengenal banyak hal-hal menyenangkan dengan teman-teman bermainnya.

Oke, mari sekarang membahas kualitas bukunya sendiri. Buku yang cukup tipis yang kurang dari 150 halaman ini merupakan cetakan yang disempurnakan dari cetakan lawasnya yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka Jaya pada tahun 1979. Penerjemah buku iniㅡcetakan Gramediaㅡmengatakan bahwa ia sudah berencana untuk merombak terjemahan buku sebelumnya. Namun setelah ia mencocokkan hasil kerjanya dengan terjemahan buku lama, ia sadar bahwa ia justru menghilangkan keindahan seni bahasa yang ada di buku lama. Jadi penerjemah buku ini tidak banyak merubah terjemahan aslinya.

Memang terjemahannya tidak bisa dibilang terjemahan yang mudah dicernaㅡuntuk saya. Ada banyak kalimat yang menggunakan kata-kata yang sebenarnya bisa diganti dengan kata yang umum kita dengarkan sehari-hari. Tapi kembali seperti apa yang dikemukakan oleh penerjemah buku, bahwa justru di situlah letak keindahan buku ini. Mungkin Antoine sendiri juga menulis buku ini dengan bahasa yang serupa, sehingga kita pun diajak untuk menikmati bukunya dengan bahasa-bahasa yang sama.

Sama sekali tidak ada cacat dalam bukunya. Saya benar-benar menyukai ceritanya dari awal sampai akhirㅡterutama endingnya. Hanya saja dalam film, akhir ceritanya membuat membuat kening saya berkerut. Saya akan lebih senang jika akhir cerita Pangeran Cilik dibuat sama seperti buku. Tanpa harus dibuat versi dewasanya yang membuat saya justru merasa uhukillfeeluhuk.

Buku dan filmnya saya rekomendasikan untuk usia mulai usia dewasa mudaㅡterutama bukunya. Memang tidak ada salahnya jika anak-anak dan remaja menonton atau membacanya. Namun Antoine sendiri menuliskan bahwa buku ini memang lebih diperuntukkan bagi mereka-mereka yang sedang berada pada tahap pendewasaan diri sampai tahap dewasa. Mungkin karena ada banyak filosofi yang terkandung di dalam karyanya yang bisa saja tidak bisa dipahami mereka yang di bawah umur 🙂

limauntuk buku dengan cerita yang begitu hangat
4untuk visualisasi film yang keren dan penyampaian yang baik

N.B : cobalah untuk membaca bukunya sambil mendengarkan “Fine On The Outside” dan “I See You” milik Priscilla Ahn :’)
Advertisements

2 comments on “[ REVIEW NOVEL + FILM ] “The Little Prince” by Antoine de Saint-Exupery

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s