[ REVIEW NOVEL ] “Perfect Pain” by Anggun Prameswari

perfect
Judul : Perfect Pain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : Gagasmedia
Tebal : 316 halaman
Genre : Fiksi – Abusive – Violence – Roman
Harga Resmi : IDR 50,400


Bidari, yang akrab dipanggil Bi, memimpikan sebuah rumah yang hangat. Ia menikah dengan Bram dua belas tahun silam. Bagi Bi, Bram adalah sosok yang paling memahami dirinya. Paling mencintainya. Bersama dengan Bram, ia bisa hidup dengan bebas, terbebas dari segala caci maki yang biasa dilayangkan sang ayah padanya. Pernikahan yang dilakoninya dengan Bram telah menghadirkan Karel, anak yang seakan melengkapi kebahagiaan Bi. Memiliki keduanya, Bi merasa hidupnya lengkap. Tapi itu dulu. Sebelum Bi sadar bahwa ia telah membuat kesalahan besar.

“Rumah adalah tempat kau titipkan hatimu agar kau ada alasan untuk pulang.” ㅡ hal. 7
“…meja makan selalu punya cerita tentang apa-apa saja yang terjadi pada sebuah keluarga. Meja makan yang dimiliki seorang keluarga bahagia, tentu merekam kisah-kisah yang mengembangkan senyum dan haru…” ㅡ hal. 11
“…Kadang-kadang aku bertanya, kalau meja makanku bisa bicara, apa benda itu akan memohon untuk berganti pemilik, sehingga bisa merekam kisah-kisah yang lebih bahagia?” ㅡ hal. 20

Bram berubah. Ia bukan lagi laki-laki yang dulu dikenal Bi. Kini Bram lebih mirip monster, yang setiap saat dan waktu menyakiti Bi setiap kali ia melakukan kesalahanㅡsengaja ataupun tidak. Pukulan dan tendangan sudah jadi makanan sehari-hari Bi. Sudah tidak terhitung lagi kekerasan yang ia alami. Terkadang ia tidak tahan, terkadang ia ingin lari. Namun keinginan itu tidak pernah terwujud. Bi bertahan, diam di tempat, dan terus menerima luka-luka dari Bram.

Karellah alasannya. Karellah sumber kekuatannya. Karellah satu-satunya pegangan terakhir yang membuat Bi rela menerima semua perlakuan keji dari Bram, suaminya.

“Air keran mengalir, dingin mencuci luka teriris itu. Mudah memang menyembuhkannya. Cuci bersih, beri obat luka, balut plester. Selesai.
Namun bagaimana dengan luka hatiku? Bagaimana menyembuhkannya?…” ㅡ hal. 35-36

Sampai akhirnya, suatu ketika, Karel pun tidak luput dari sasaran amukan Bram. Bi tidak punya pilihan lain lagi selain pergi meninggalkan rumahㅡsetelah memukul suaminya yang nyaris mencekik Karelㅡdan meminta pertolongan. Dari sinilah Bi menemukan seseorang yang dapat memberi perlindungan untuk dirinya dan Karel. Seseorang yang dapat menjadi tempat untuk berbagi. Seseorang yang dapat menjadi tempat untuk bersandar. Dan mungkin seseorang yang dapat membuat Bi mengerti seperti apa arti ‘rumah’ yang sebenarnya.

.

.

.

“‘Jangan jadikan orang lain lasanmu bahagia atau sedih. Pada dasarnya manusia itu sendiri. Kita lahir sendiri, mati juga sendiri. Jadi, jangan takut pada kesendirian.'” ㅡ hal. 91
“‘Bahagia datangnya dari diri sendiri. Setiap orang harus bahagia, dengan atau tanpa siapa pun dan apa pun…'” ㅡ hal. 92
“…Setiap orang sejatinya sendiri. Saat kita tak tahu lagi harus mengandalkan siapa. satu-satunya yang kita punya hanya diri sendiri.” ㅡ hal. 132

“‘Mereka bilang menikah itu berkat perjodohan Tuhan. Apa yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak boleh dipisahkan manusia. Katanya juga perceraian itu halal, tapi dibenci Tuhan. Tapi, mereka yang bilang begitu, seharusnya cari tahu dulu kenapa keputusan cerai itu bisa diambil.'” ㅡ hal. 146

“‘Biasanya seorang ayah paling sayang dengan anak perempuan, Bi.'” ㅡ hal. 149
“‘A father is every girl’s first love. Suka nggak suka, Bi, relasi ayah dan anak perempuannya akan selalu memengaruhi bagaimana anak perempuan memilih pasangannya.'” ㅡ hal. 150

“‘…Dengan bercerita, kita bisa mengurangi beban pikiran. Dengan bercerita, kita bisa menyampaikan ganjalan di dalam hati…dengan kamu bercerita, kamu mungkin bisa melihat masalah dengan lebih jelas dan menemukan jalan keluarnya.'” ㅡ hal. 156

“‘Ada hal-hal yang begitu indah, tapi hanya bisa dikenang. Sejauh apa pun kita berusaha menghidupkannya kembali, nggak akan pernah bisa.'” ㅡ hal. 175

“‘…setiap hari adalah awal yang baru. Yang sudah lewat jangan dijadikan penyesalan dan yang akan datang tidak perlu ditakutkan. Kita hidup di detik ini, bukan sedetik yang lalu atau sedetik yang akan datang.'” ㅡ hal. 266-267

“…perempuan memang boleh dianggap lemah secara fisik. Hati lebih berkuasa. Menjadikan kami lebih emosional. Namun, kami dianugerahi intuisi. Perempuan dan intuisinya, bukan sesuatu untuk diremehkan.” ㅡ hal. 297

“‘Setiap orang punya masa lalu, Bi. Hati manusia itu persis koper besar. Terus-terusan dijejali kenangan buruk, emosi negatif, rasa marah, semuanya. Makanya jadi berat. Susah dibawa ke mana-mana, jadinya teronggok begitu saja. Biar enteng, Bi, kita harus membuang semua yang memberatkan. Itu proses yang terus berjalan, nggak boleh berhenti.'” ㅡ hal. 313

.

.

.

Bi, tokoh utama, di sini diceritakan sebagai gadis yang menghadapi kesulitan melepaskan diri dari suaminya yang ‘ringan tangan’. Posisinya yang tidak memiliki pekerjaan merupakan salah satu faktornya. Sehingga demi sekolah Karel, ia rela tetap tinggal di rumahnya yang bagaikan neraka.

Saya jadi teringat wejangan yang sering diucapkan ibu sejak saya kecil. Ibu selalu menanamkan pengertian agar kelak jika saya dewasaㅡsekarangㅡsaya harus tetap bekerja. Memang mencari nafkah adalah kewajiban suami. Tapi kita tidak pernah tahu bagaimana cerita yang digariskan Tuhan bukan? Karena itu tidak ada salahnya kalau kita para perempuan juga memiliki pekerjaan sebagai pegangan. Bahkan untuk beberapa kasus yang pernah saya jumpai, pekerjaan ini juga membuat derajat perempuan lebih terangkat. Sehingga laki-lakiㅡbahkan suamiㅡtidak asal memandang remeh. Dan buku ini menunjukkannya.

“Perfect Pain” adalah buku yang dapat menginspirasi para perempuanㅡterutama mereka korban KDRT. Memang perempuan biasa dipandang rapuh dan lemah, namun sebenarnya kita memiliki kekuatan yang kadang-kadang tidak kita sadari. Ada banyak quotes bagus yang bisa dijadikan renungan, yang saya tuliskan di atas adalah beberapa di antaranya.

Karakter favorit saya adalah si kecil Karel 🙂 Dengan keadaan yang dialami orangtuanya, Karel tumbuh menjadi anak yang lebih cepat dewasaㅡmeski di banyak bagian dia sering jadi bocah imut 🙂 Ia selalu berusaha melindungi sang ibu sekalipun usia dan ukuran badannya mungkin tidak akan mampu untuk menandingi sang ayah. Begitupun setiap ucapannya yang selalu memberikan semangat untuk Bi tetap bangkit 🙂

“Perfect Pain” ini adalah novel Anggun Prameswari kedua yang saya baca setelah “After Rain”, yang keduanya sama-sama diterbitkan Gagasmedia. Sebenarnya begitu menyelesaikan membaca “Perfect Pain”, saya merasa tidak banyak perbedaan antara buku ini dengan “After Rain”. Sama-sama menceritakan tentang seorang wanita yang masih terikat dalam sebuah hubungan dan dalam usaha mengakhirinya, lalu bertemu dengan hero yang membuat pandangannya terbuka dan berani untuk melepaskan diri. Penggambaran karakter ketiga tokoh utama pun rasanya sedikit mirip. Bahkan saya menemukan ada beberapa dialog yang  sekilas mirip dengan dialog-dialog “After Rain”. Namun “Perfect Pain” ini jelas menawarkan cerita yang lebih dewasa ketimbang novel debut Anggun Prameswari tersebut. Membahas topik yang lebih berani pula 🙂

Kemudian ada juga kekurangan dari bukunya sendiri. Saya kurang suka jenis kertas untuk cover,  terlalu tebal. Jadi saat membaca lembar-lembar awal dan akhir, saya sedikit kesusahan. Ditekuk sedikit langsung menimbulkan bekas dan membuat cover cacat 😦 Lalu gambar pemisah setiap adegan, perasaan saya saja atau memang gambar yang sama dengan cover buku “Dear Miss Tuddles”ㅡminus tea set di atas meja?

Buku ini saya rekomendasikan untuk mereka yang sudah cukup umur. Ada banyak adegan kekerasan juga adegan ciuman di dalamnya. Jadi meski buku ini mengandung pesanㅡdan ceritaㅡyang bagus, ada baiknya bagi mereka yang di bawah umur untuk menahan diri dulu 🙂

Ngomong-ngomong saya jadi ingat waktu Gagasmedia mengadakan vote untuk cover buku. Waktu itu saya memilih cover bergambar cookies berbentuk hati yang tumpah dari toples kaca dan ada salah satu cookie yang retak. Namun setelah membaca bukunya, saya jadi sepakat dengan mereka yang memilih cover pajangan porselen ini 🙂

4


Entri ini diikutsertakan dalam event Baca Bareng BBI Desember 2015
1446204064

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s