[ REVIEW NOVEL ] “Yang Sulit Dimengerti Adalah perempuan” by Fitrawan Umar

yang
Judul : Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan
Penulis : Fitrawan Umar
Penerbit : Exchange
Tebal : 245 halaman
Genre : Fiksi – Roman – Young Adult
Harga Resmi : IDR 59,000


Bagi Renja, dulu saat mereka masih SD, Adelia Shofia hanyalah anak pindahan yang manja saat ia mengadu pada guru hanya karena kotak pensilnya raib. Sialnya kotak pensil anak perempuan itu justru ditemukan di dalam tas Renja sendiri, membuatnya harus dipanggil ke ruang guru padahal Renja bahkan sama sekali tidak merasa menyentuh tas Adel. Untungnya seorang teman yang ternyata adalah dalang di balik kejadian itu mengaku dan Renja pun akhirnya bisa bebas dari hukuman.

Tanpa Renja duga, kejadian kotak pensil itu justru membuatnya dan Adel dekat. Ia dan Adel sering pulang sekolah sama-sama, tidak satu dua kali juga Adel mengajaknya mampir dulu di rumahnya untuk sekedar membaca majalah Bobo atau bermain playstation. Bahkan pernah suatu hari, Renja menjadi pahlawan untuk Adel saat anak perempuan itu dikeroyok anak-anak sekolah lain yang hendak memalaknya. Dari insiden itu, sebuah luka tertoreh di kening Renja dan berbekas sampai saat ini. Renja ingat sekali, kala itu Adel menangis sesenggukan saat melihat darah mengalir dari keningnya. Sejak saat itu pula, rasanya Renja menyukai anak perempuan yang awalnya ia pikir manja itu.

Namun mendadak Adel hilang. Ia pindah—bersama keluarganya—tanpa memberitahunya. Tanpa mengucapkan salam perpisahan padanya. Suatu hari ia mendengar dari warga sekitar bahwa keluarga Adel pergi karena ayahnya ketahuan melarikan uang koperasi simpan pinjam.

Beberapa tahun berlalu. Renja tumbuh dewasa dan mungkin sudah nyaris melupakan sosok Adelia Shofia dari ingatannya. Namun siapa sangka, takdir ternyata ingin bermain-main dengan mereka. Renja menemukan gadis itu lagi, Adel, saat tengah makan siang bersama kawannya selepas ospek kampus.

“…Aku harus mengakui bahwa aku aku telah jatuh cinta. Aku ingin ia tahu bahwa perasaanku untuknya lebih dari sekadar teman masa kecil. Aku harus merencanakan sesuatu untuk ini semua.” ㅡhal. 87

“’Kita sudah ditakdirkan bertemu kembali…Ini pasti sudah berada dalam rencana Tuhan.” ㅡ hal. 111

Tak ingin melewatkan kesempatan ini, Renja pun berinisiatif untuk kembali mendekati Adel. Barangkali, dengan menggali momen-momen masa kecil mereka bersama-sama, perasaan yang dulu sempat tumbuh dan menghilang bisa kembali terpupuk dan memunculkan lagi tunas-tunas asmara di antara mereka. Namun kemudian Renja tahu, usaha yang sedang dilakoninya ini ternyata tidak semulus harapannya. Ada banyak hal yang terjadi di antara mereka, dan sebanyak itu pulalah Renja menemukan kenyataan bahwa perempuan adalah makhluk yang sulit dimengerti olehnya.

“…aku tidak pernah bisa mengerti perempuan. Aku bahkan curiga bahwa perempuan tidak pernah mengerti diri mereka sendiri; apa yang membuatnya bahagia, apa yang bisa membuatnya sakit hati, dan seterusnya.” ㅡhal. 169

.

.

.

“’Semua perempuan…suka dengan laki-laki yang berjuang.’” ㅡ hal 74

“…Jika ingin memiliki seseorang di masa depan, kia juga harus memilikinya di masa lalu.” ㅡ hal. 110

“’…Jodoh bisa diatur dan dipilih, tetapi cinta tidak. Seseorang tak pernah bisa merencanakan bakal jatuh cinta dengan siapa.’” ㅡ hal. 116

“’…kalau sakit hati, tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Kau hanya bisa melakukan hal-hal yang sanggup membuatmu bahagia, yang menutup kesedihan dari pikiranmu. Atau kalau kau tidak menemukan kebahagiaan lain, setidaknya jangan pusingkan dirimu dengan mencari obat kesedihan.’” ㅡ hal. 153

“…Akan selalu ada keajaiban dalam cinta. Cinta tidak sama dengan logika.”ㅡ hal. 164

“…Kalau kau tidak berniat mencintai seseorang, jangan biarkan ia menaruh harapan terlalu lama padamu…” ㅡ hal. 195-196

“Melupakan seseorang lalu mencintai orang lain tidaklah semudah menguras bak mandi lalu mengisinya…” ㅡ hal. 208

“…Ya, belajar melepaskan orang yang dicintai. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar…” ㅡ hal. 229

“…Jika kau jatuh cinta, maka milikilah ia yang kau cinta. Jika kau jatuh cinta, maka yakinlah bahwa kau adalah orang yang tepat untuk menjaga dirinya selamanya.” ㅡ hal. 234

.

.

.

Sejak awal melihat buku ini di sosial media, selain judul, covernya sudah membuat saya jatuh cinta. Didominasi warna putih dengan gambar wajah sesosok laki-laki pada siluet wajah seorang perempuan. Kemudian saya iseng mengadu keberuntungan saat mas Dion dari BBI bagi-bagi buntelan untuk mereview buku ini. Yang, syukur Alhamdulillah, nama saya terpilih untuk kesempatan itu.

Perkiraan saya saat membaca paragraf pertama blurb di belakang novel, saya akan disuguhi cerita dengan pemilihan bahasa sastra yang cukup rumit. Namun begitu membaca halaman pertama, perkiraan itu seketika patah saat saya menemukan buku ini memiliki penuturan yang tidak berbeda dengan novel-novel lain yang telah saya sebelumnya. Saya sedikit lega karenanya 🙂

Buku ini menggunakan POV orang pertama, yaitu Renja. Di sini kita akan diajak untuk mengikuti sepak terjangnya dalam menaklukkan hati Adel. Dengan sudut pandang ini, kita juga diajak untuk melihat bagaimana seorang Renja memahami perempuan, yang menurutnya adalah pribadi rumit. Yang secara tidak langsung mengajak saya berkaca juga, apakah saya juga termasuk dalam kategori “perempuan yang sulit dimengerti” 🙂

Di beberapa bab awal buku, kita akan sedikit bermain lompat-lompatan dengan alur maju-mundur. Setiap habis satu adegan masa kuliah, kita akan dilempar kembali ke masa kecil Renja-Adel. Meski saya cukup ngos-ngosan untuk menyamakan langkah, tapi saya menikmati cara penulis bercerita di buku ini.

Dalam buku ini, fokus cerita lebih banyak ada pada latar belakang keluarga Adel, yang sedikit banyak berpengaruh pada hubungannya dan Renjaㅡmeski beberapa kali juga timbul malasah antara mereka karena kecerobohan Renja. Saya sempat dibuat gemas dengan Adel juga sih. Namun sekali lagi, perempuan kan selalu bertindak dengan mengedepankan perasaannya. Rasanya jika saya ada di posisi Adel, saya pun mungkin akan melakukan hal yang sama 🙂

Karakter yang ditonjolkan dalam buku ini adalah Renja, Adel, dan Rustang—sahabat Renja. Dan pada Rustanglah saya menaruh ketertarikan. Dalam imajinasi saya, dia adalah laki-laki bertubuh cukup atletis dan punya potensi jadi algojo dalam kegiatan ospek mahasiswa hahaha~ Rustang bisa dibilang sebagai sahabat yang sangat setia. Dia selalu mendukung apapun yang Renja rencanakan, sekalipun itu membahayakan mereka. Dan meski dia tipikal yang temperamental, tapi di satu sisi ia juga bisa menjadi pribadi yang dewasa jika bicara asmara. Saat ia mengatakan pada Renja tentang bagaimana melepaskan seseorang yang kita sayangi demi melihatnya bahagia, misalnya. Ah~ saya suka persahabatan merekalah pokoknya! /thumbssss up/

Ada beberapa tempat-tempat menarik di daerah Pinrang yang disebut dalam buku ini. Memang tidak dijelaskan secara mendetail, tapi cukup pula menambah wawasan untuk saya. Terutama pantai Akkarena, rasanya ingin juga ke sana dan menikmati suasana yang sama dengan saat Renja menyatakan perasaannya pada Adel 🙂 Kemudian ada juga yang menggelitik rasa penasaran saya tentang pernikahan antar sepupu dalam buku ini. Rasanya ingin bertanya pada penulis apakah di Pinrang kebudayaan ini diijinkan, mengingat pernikahan dengan seseorang yang hitungannya masih saudara memang tabu untuk dilakukan 🙂

Kekurangan yang saya tangkap sih mungkin ada pada adegan-adegan di kampus. Saya hanya menemukan kehidupan BEM Fakultas Teknik yang penuh dengan tawuran. Berharap bisa mendapat adegan di dalam kelas dan cuplikan kegiatan belajar mengajar. Jadi saya bisa mengintip juga, gimana sih kuliahnya anak teknik itu? Bahasan seperti apakah yang mereka pelajari setiap hari? 🙂

Dari tema cerita yang diangkat, buku ini cocok untuk pembaca mulai usia remaja. Memang ada adegan tawuran dan perploncoan, namun saya rasa masih dalam tahap wajar untuk dikonsumsi remaja di bawah 17 tahun.

Kemudian tentang dua quotes terakhir yang saya tulis di atas, rasanya keduanya terkesan bertolak belakang ya 🙂 Dua quotes itu datang dari Rustang dan Renja, yang masing-masing punya pemikiran berbeda tentang menyikapi jatuh cinta. Tapi saya menyetujui keduanya. Saat menyukai seseorang, tentunya kita harus memperjuangkannya dengan gigih. Seperti kalimat yang sering kita dengar, “Selama janur kuning belum melengkung, apapun masih bisa terjadi”. Maka kita pun harus membuktikan bahwa kita adalah pribadi yang tepat dan pantas untuknya, menunjukkan bahwa kita sanggup menjadi pelindung orang yang kita sayangi itu. Namun kita juga harus ingat, segigih apapun usaha kita, ada Tuhan yang memiliki digdaya yang jauh lebih kuat dari kita. DIAlah yang menentukan setiap akhir dari usaha kita. Jika suatu saat kehendakNYA berkata “Tidak.”, bukankah memang sudah seharusnya kita rela dan melepaskan mereka yang kita cintai? Barangkali memang bukan dengan kita kebahagiaan mereka akan terwujud 🙂

Ngomong-ngomong, saya suka endingnya 🙂

4

Advertisements

2 comments on “[ REVIEW NOVEL ] “Yang Sulit Dimengerti Adalah perempuan” by Fitrawan Umar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s