[ REVIEW NOVEL ] “Cafe Waiting Love” by Giddens Ko

cafe
Judul : Cafe Waiting Love
Penulis : Giddens Ko
Penerbit : HARU (HARU media)
Tebal : 404 halaman
Genre : Fiksi – Roman – Chinese Novel
Harga Resmi : IDR 76,000


“Setiap orang sedang menunggu ‘seseorang’nya…”

 

Li Siying yang saat itu sedang duduk di kelas 3 SMA, ingin merasakan bagaimana menjadi orang yang mandiri dengan melakukan pekerjaan paruh waktu. Ia pun bekerja pada sebuah cafe yang diberi nama “Waiting Love”. Dinamai demikian karena sang bos berharap cafe ini barangkali akan menjadi tempat bagi setiap pengunjungnya untuk menemukan orang yang ditunggunya.  Di dalam cafe ini, selain nyonya bos si pemilik, ada seorang pegawai lagi bernama Albus. Bersama dengan mereka berdua, Siying bertemu dengan macam-macam orang di cafe itu. Mulai dari orang-orang iseng yang memesan kopi yang sama sekali tidak tertera di menu, orang-orang yang penasaran dan memesan kopi spesial racikan nyonya bosㅡyang juga tengah menanti ‘orang yang tepat’ untuknyaㅡsampai seseorang yang berhasil membuat Siying tidak pernah bisa mengalihkan pandangannya.

“Aku belum pernah berpacaran. Tapi aku tahu bahwa seseorang yang percaya pada cinta seharusnya menghargai momen setiap kali jantungnya berdegup kencang. Kemudian dengan berani mengejar kali berikutnya, kali berikutnya, dan kali berikutnya lagi.” hal. 42

 

Yang Zeyu. Laki-laki penikmat kopi kenya yang sering berkunjung ke Cafe “Waiting Love” bersama kekasihnya. Dia adalah pribadi yang selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk pasangannya. Bahkan jika itu berarti dia harus sering mengalah dan menutupi karakter aslinya di hadapan sang kekasih, ia tidak keberatan. Sayangnya, terkadang ia juga lelah berperan menjadi orang lain dan sering mengakhiri hubungannya. Membuatnya harus bolak-balik berganti pasangan. Sampai akhirnya Siying menemukannya dan menjadi sahabatnya. Di depan Siying, Zeyu tidak harus menjadi orang lain. Di depan Siying, Zeyu tidak harus berpura-pura. Di depan Siying, Zeyu bisa dengan mudah bercerita tentang apapun yang ingin ia katakan. Tanpa harus menjaga apapun, tanpa beban apapun. Ia merasa bebas.

“Menyukai barang yang disukai pacar, sepertinya adalah PR-ku dalam berpacaran.” hal. 156
“…Semoga suatu hari nanti, aku bisa dengan gembira memesan dua gelas kenya.” hal. 161

 

A Tuo. Laki-laki yang terkenal karena nasib sialnya. Pacarnya memilih meninggalkannya dan berpacaran dengan seorang lesbian. Sebenarnya A Tuo tidak terlalu masalah dengan banyak ejekan yang dilayangkan padanya, tapi tidak dengan Siyingㅡyang merasa memiliki pengalaman yang sama dengan A Tuo saat SD. Saat mengunjungi cafe “Waiting Love” untuk pertama kalinya, Siying membentak teman-teman A Tuo yang mengejek laki-laki itu di depan matanya. Ia bahkan memarahi A Tuo yang bersikap polos dan pasrah tanpa melawan. Ia mengatakan bahwa A Tuo harus lebih tegas sedikit agar ejekan-ejekan itu tidak berlarut-larut. Dan sejak insiden itu, A Tuo dan Siying berteman baik. A Tuo sering mengajak Siying untuk bertemu teman-temannya yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Bahkan A Tuo semacam menjadikan Siying sendiri sebagai salah satu harta karunnya.

“‘Kau jangan tergesa-gesa, tunggulah pelan-pelan. Emas murni tidak takut ditempa dengan api. Cinta tidak takut menunggu…'” hal. 167

.

.

.

“…seorang laki-laki yang tidak percaya diri tentu saja tidak akan dapat bergerak untuk mengejar perempuan yang disukainya. Lagi pula, tidak ada perempuan yang menyukai laki-laki yang tidak percaya diri…” hal. 27

“Sejak awal kehidupan, setiap orang sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan seseorang di suatu tempat…” hal. 43

“‘…ada beberapa hal yang walau sampai sepuluh rubu tahun pun tidak akan berubah… Selamanya aku akan menunggumu untuk menjadi mempelai wanitaku.'” hal. 80

“Takdir memang seperti ini, sangat menarik. Semula kau ingin berkelana ke utara, tapi dia malah membuatmu terbang ke selatan, bahkan berpindah dengan sukarela.” hal. 191

“Cinta dipenuhi dengan ujian. Sayangnya kebanyakan orang senang dengan cinta, tapi merasa kalau cobaan cinta adalah sesuatu yang berlebihan dan amat kejam.” hal. 271
“Mungkin hubungan persahabatn juga memerlukan ujian. Hanya hubungan kekeluargaanlah yang memiliki dasar paling kuat.” hal. 273

“Siapa bersama dengan siapa, sebenarnya sudah ditentukan sejak awal. Tak peduli serumit apa pun suatu pertanyaan, jawabannya hanya ada satu. Dan hanya bisa satu.” hal. 319

“Dalam hidup setiap gadis, mereka menunggu hari datangnya seorang ksatria berkuda yang mengenakan jubah putih untuk hadir di sisinya, mempersembahkan sebuket bunga putih, menggandenga tangan gadis itu, dan mengundangnya naik ke atas kuda untuk pergi bersamanya.” hal. 341

.

.

.

Cukup kaget saat pada suatu siang, saya masih posisi ada di tempat kerja, sebuah email kerjasama datang dari HARU. Lucky me, ternyata HARU memberikan kesempatan kepada saya untuk membuat review untuk buku ini. Sekali lagi terima kasih atas kepercayaannya, HARU 🙂

Well, “Cafe Waiting Love” adalah novel mandarin sekaligus karya Giddens Ko pertama yang saya baca. Didominasi warna hijau dengan penampakan motor King merah yang terparkir di teras depan cafe pada bagian coverㅡkece as usual from om Bambi :)ㅡsaya pun melahap buku ini segera setelah paketnya mendarat di rumah.

Cerita dalam buku ini menggunakan POV orang pertama, yaitu Siying, sebagai penutur cerita. Siying digambarkan sebagai gadis bersemangat dan supel. Karena itu ia bisa dengan mudah bergaul dengan banyak orang. Seperti nyonya bos yang terlihat seperti pemalas, Albus yang tomboy dan sangat expert dengan kopi, Zeyu yang tampan tapi sering bersembunyi di balik ‘topeng’, sampai A Tuo yang polos dan lugu. Dengan cepat, kalian pun akan menyukainya 🙂 Perjalanan cintanya pun unik. Meski tidak ada yang spesial—macam bertemu cowo tengil dalam sebuah pertengkaran yang akhirnya justru menjadi jodohnya, atau bertabrakan dengan cowo keren serba sempurna di sekolah lalu jatuh cinta—tapi saya menyukainya. Membaca buku ini seperti mengikuti kisah cinta gadis-gadis biasa yang sering saya temui di dunia nyata.

Buku ini notabene menggunakan alur maju, namun ada beberapa flashback yang digunakan untuk menuturkan cerita dari Siying dan nyonya bos. Di sini saya sempat menemukan kerancuan karena keduanya sama-sama dijadikan penutur cerita alias si “aku”. Kemudian sama dengan judulnyaㅡCafe Waiting Loveㅡpada separuh awal buku, setting cerita akan banyak terjadi di dalam cafe. Namun begitu Siying menjadi seorang mahasiswa, cafe ini pelan-pelan sedikit kehilangan perannya. Memang masih sering disebut, namun adegan lebih banyak terjadi di kehidupan kampus Siying dan pergaulannya dengan teman-temannyaㅡtermasuk Zeyu dan A Tuo.

Semakin masuk ke dalam cerita, juga terdapat banyak karakter-karakter baru yang muncul. Jadi perlu menyiapkan memori lebih di dalam kepala untuk bisa mengingat mereka dengan baik hahaha~ Dan dari sekian banyak karakter yang diperkenalkan, karakter favorit saya jatuh pada Albus. Gadis yang enggan dipanggil dengan namanya sendiri dan memilih untuk dipanggil dengan nama depan Dumbledore dalam serial Harry PotterㅡAlbus Dumbledore. Ia diceritakan sebagai lesbian, tomboy dan dingin. Ia sangat ahli dalam meracik kopi, sekalipun ia sendiri tidak bisa minum kopi karena sakit lambung yang dideritanya. Selain itu, ia juga diam-diam memiliki sifat perhatianㅡyang ditunjukkan dengan caranya sendiri. Karena memiliki banyak kelebihan, pacar A Tuo pun berpaling padanyaㅡspoiler alert. Tapi meskipun begitu, ia juga sama sekali tidak mengejek atau merendahkan A Tuo. Bahkan saat A Tuo menitipkan kado untuk mantan pacarnya itu, Albus dengan baik hati bersedia melakukannya.

Untuk alih bahasa saya rasa tidak ada masalah. Meski buku terjemahan dari HARU yang menjadi favorit saya masih dari novel J-lit, namun terjemahan “Cafe Waiting Love” sudah cukup bagus. Kalaupun ada yang aneh, paling-paling datang dari penamaan makanan-makanan yang dimakan Siying dan A Tuo di rumah bibi pisau emasㅡbisa dibaca di dalam bukunya. Karena memang nama makanan-makanan itu sangat ajaib dan rasanya diterjemahkan ke bahasa manapun akan susah untuk menemukan kata yang tepat 😀

Saya susah memasukkan buku ini dalam kategori teenlit atau young adult. Sebenarnya ceritanya cukup ringan, tanpa konflik-konflik rumit atau adegan-adegan ‘berbahaya’. Jadi bisa dikonsumsi untuk mereka yang sudah mulai masuk remaja. Namun dengan terselipnya tema LGBT, seperti lesbianㅡmeski tidak ditonjolkan dalam ceritaㅡagak-agaknya remaja harus diberi lampu kuning juga sebelum membacanya. Untuk saya pribadi sih seperti itu 🙂

Dalam kalimat penutupnya, Giddens Ko mengatakan bahwa buku ini adalah buku yang istimewa karena untuk pertama kalinya ia membuat sebuah cerita yang sama sekali tidak memasukkan unsur fantasi seperti yang selama ini ditulisnya. Bahkan A Tuo sendiri pun ternyata adalah tokoh nyata yang sedikit banyak berpengaruh dalam kehidupan sang author.

Seperti Siying, ada orang-orang yang begitu lama memperhatikan seseorang yang mereka suka. Menunggunya datang memberi perhatian, berharap suatu saat orang itu menyadari perasaan mereka yang terpendam selama ini. Ada juga orang-orang yang seperti Zeyu, yang dalam penantiannya berulang kali tersesat dan jatuh dalam pelukan orang yang salah. Namun dia dengan gigih dan yakin, tetap mencari gadis yang diharapkan benar-benar akan menjadi gadisnya kelak, meskipun harus berulang kali patah hati. Ada pula orang-orang yang tidak berambisi sedikitpun, dan hanya membiarkan takdir menuntun dan mempertemukannya dengan orang yang tepat suatu saat nanti; seperti A Tuo. Orang-orang ini punya cara masing-masing untuk menemukan cinta. Namun seperti yang sudah sering kita dengarㅡpun saya tuliskan pada bagian quotesㅡtelah ada seseorang yang sejak awal kehidupan telah digariskan untuk menjadi pendamping kita. Hanya saja mungkin dia tidak datang dengan serta merta. Ia bisa saja datang melalui serangkaian ujian, salah satunya adalah ‘menunggu’. Memang menjemukkan, terkadang melelahkan. Tapi semua itu akan terbayar begitu kita menemukannya, orang yang akan selalu menyajikan senyum di depan mata dan merengkuh kita dalam kehangatan. Jadi mari menunggu orang yang tepat itu dengan sabar, karena bisa jadi ia pun juga tengah melalui ujian untuk menemukan kita. Jika lelah menanti seorang diri, silakan datang dan berkunjung ke cafe “Waiting Love”. Siapa tahu kita justru akan menemukan ‘seseorang’ itu juga tengah beristirahat di sana 🙂

3.5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s