[ REVIEW NOVEL ] “Cinder” by Marissa Meyer

cindere
Judul : Cinder
Penulis : Marissa Meyer
Penerbit : SPRING
Tebal : 384 halaman
Genre : Young Adult Fantasy ㅡ Sci-Fi
Harga Resmi : IDR 79,000


Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam
populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh
manusia, cyborg, dan android.
Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang
Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang
tepat untuk menyerang.

Linh Cinder adalah seorang mekanik handal yang terkenal. Bersama dengan andoid cewek buatannya, Iko, mereka membuka sebuah stan di pasar yang ada di dekat alun-alun New Beijing. Meskipun dia masih muda, terlebih lagi dia adalah seorang perempuan, namun kecakapannya dalam memperbaikin banyak android telah banyak terdengar sampai ke seluruh negeri. Sayangnya ia memiliki sebuah kekurangan. Kekurangan yang selalu membuatnya dipandang dengan tatapan aneh oleh semua orang. Kekurangan yang membuat semua orang takut padanya. Ia adalah cyborg.

“‘Kabel-kabel di tubuhku kan tidak menularkan penyakit?'” ㅡ hal. 9

Suatu hari, secara mengejutkan, Pangeran Kaitoㅡpewaris tahta satu-satunya di Persemakmuran new Beijingㅡdatang  dan mengunjungi stan bengkel milik Cinder. Bukan main terkejutnya Cinder atas kedatangan tamu kehormatan yang datang dalam penyamaran itu.

“…pikirannya kosong. Dengan detak jantungnya yang semakin cepat, retinanya memindai wajah pemuda itu, yang tampak sangat akrab karena telah bertahun-tahun dilihatnya di netscreen…” ㅡ hal. 11

Pangeran Kai membawa android miliknya untuk diperiksa Cinder. Pada Cinder, Pangeran Kai bercerita bahwa android itu sangat penting artinya dan ia ingin benda itu segera diperbaiki sebisa mungkin sebelum festival kota dimulai.

Festival kota kali ini adalah perayaan yang diadakan untuk memperingati 126 tahun yang berlalu sejak berakhirnya perang dunia keempat. Dan kali ini festival terasa begitu istimewa. Karena pada festival nanti, kerajaan akan mengadakan sebuah pesta dansa. Rumornya, pesta dansa itu diadakan untuk mencarikan Pangeran Kai seorang calon pendamping hidup. Untuk alasan inilah, wanita-wanita di penjuru New Beijing berlomba-lomba mempersiapkan diri untuk tampil cantik di acara itu nantinya. Seluruh wanita……sepertinya……tapi mungkin tidak untuk Cinder. Karena ia tahu, pesta dansa itu bukan miliknya.

“Dia adalah cyborg, dan dia tidak akan pernah pergi ke pesta dansa.” ㅡ hal. 37

.

.

.

“Cinder” adalah buku pertama dari rangkaian seri “The Lunar Chronicle” yang diterbitkan oleh Penerbit SPRING mulai awal tahun ini. Seperti yang sudah bisa ditebak oleh kebanyakan (calon) pembaca, buku ini mengambil ide dasar dari dongeng Cinderella yang melegenda, dengan bumbu-bumbu penyedap yang ditambahkan sehingga tidak hanya fokus menceritakan perjuangan seorang gadis untuk datang ke pesta dansa Pangeran 🙂

Setting cerita diambil dari kota Beijing baru (New Beijing) pada tahun ke 126 sejak perang dunia keempat berakhir (yang semuanya adalah imajinasi penulis) di masa depan. New Beijing sendiri sepertinya dibuat sebagai negara persemakmuran. Sementara Bumi sendiri sudah memiliki teknologi yang sangat maju dan mutakhir, melihat banyaknya cyborg dan android yang digunakan. Sampai-sampai mobil adalah barang yang sangat kuno dalam cerita ini 😀 Bahkan Bulan pun telah menjadi benda angkasa yang bisa dihuni!

Kemudian pada buku pertama ini, cerita difokuskan pada wabah pandemik yang menyerah bumi yaitu Letumosis.

“Letumosis. Demam biru. Pandemi di seluruh dunia. Ratusan ribu korban tewas. Penyebabnya tidak diketahui, penyembuhnya tidak diketahui.” ㅡ hal. 55

Wabah ini menghinggapi tubuh manusia dalam empat tahap. Mulai dari tahap satu yang masih ringan, sampai dengan tahap empat yang paling kritis. Dan penyakit ini tidak akan sembuh dengan sendirinya, melainkan membutuhkan sebuah vaksin. Dan untuk menemukan vaksin inilah, ada banyak hal yang harus diketahui dan dihadapi Cinder,  sampai dengan tentang kebenaran jati dirinya yang sebenarnya.

Tokoh-tokoh dalam buku ini tidak jauh berbeda dengan dongeng Cinderella. Selain Cinder dan Pangeran yang menjadi tokoh utama, tidak ketinggalan pula keluarga Cinder yang terdiri dari ibu (Adri) dan kedua saudara perempuannya (Pearl, dan Peony). Bedanya, jika kita mengenal Cinderella sebagai anak tiri, Cinder dalam buku ini dikisahkan sebagai anak angkat. Dan meski peran sang ibu masih sama jahat, namun salah satu saudari Cinder dalam buku ini menyukainyaㅡPeony.

“‘Aku tidak meminta dibuat seperti ini. Aku tidak meminta kau atau orang lain mengadopsiku. Ini bukan salahku!'” ㅡ hal. 69

Sementara itu, tokoh utama antagonis diberikan kepada Ratu Levana yang merupakan pemimpin rakyat Bulan, yang memiliki maksud tersembunyi untuk menginvasi Bumi tunduk di bawah kakinya.

Dalam sudut pandang pun “Cinder” memiliki sedikit perbedaan dari Cinderella. Dalam dongeng klasiknya, kita akan lebih banyak disuguhi sudut pandang melalui sisi Cinderella. Sementara dalam “Cinder”, dengan menggunakan POV orang ketiga sebagai tokoh utama, cerita tidak hanya didominasi oleh kisah Cinder si cyborg, tapi kita juga akan disuguhi cerita melalui sudut pandang Pangeran Kai. Sehingga kita pun akan sedikit banyak menemui problem yang dihadapi sang Pangeran di dalam istana.

Untuk saya, alur ceritanya cenderung lambat. Meski konflik sudah dimunculkan sejak halaman-halaman pertengahan, namun klimaksnya sendiri baru ada di halaman nyaris terakhir. Itupun disertai dengan akhir yang tidak begitu memuaskan saya. Saya memang sudah yakin cerita akan dibiarkan menggantung sebagai endingnya. Namun entah saya merasa cara penulis melakukannya sedikit kurang sedap, untuk saya pribadi nih 🙂

Karakter favorit saya adalah Dokter Erland. Dia adalah dokter yang bertugas mencari vaksin Letumosis dan bekerja di dalam istana. Dia punya rahasia besar tentang siapa dirinya dan misi tersembunyi yang ia rencanakan. Cinder adalah satu-satunya orang yang mengetahuinya, langsung dari bibir sang dokter. Dan dia juga tahu tentang identitas Cinder yang sejujurnya. Saling mengetahui kartu pamungkas satu sama lain, Dokter Erland mengajak Cinder untuk bekerja sama. Membuat saya berharap dia akan muncul di buku-buku selanjutnya, untuk mengetahui apakah misi yang direncanakannya berhasil atau tidak.

Sedangkan untuk buku-buku selanjutnya, nantinya pada buku kedua hingga keempat, akan ada dongeng klasik lain yang direpresentasikan menjadi cerita baru oleh Marissa Meyer, seperti gadis bertudung merah, Rapunzel, dan Putri Salju. Rasanya bakalan sayang untuk dilewatkan juga nih!

Sekarang saya akan membahas package novelnya. Cover masih menggunakan ilustrasi orisinilnya dari penerbit New York sana. Jujur, saya lebih setuju jika SPRING konsisten menggunakan ide penggunaan cover orisinil ini ketimbang membuat ilustrasi baru. Mungkin karena saya terbiasa melihat buku-buku terjemahan Barat menggunakan cover aslinya kali ya? 😀

Untuk alih bahasa? Ya ampun, saya cinta sekali! Nyaris mendekati sempurna jika tak ada typoㅡsaya nggak akan membahasnya sih, karena typo buat saya sudah sangat lumrah. Super good job untuk kak Yudith sebagai penerjemah yang berhasil merepresentasikan buku ini sebagus aslinyaㅡsaya tidak membaca versi Englishnya, tapi saya yakin seperti itu 🙂

Sebenarnya ada banyak quotes yang ingin saya tuliskan. Namun kebanyakan malah berpotensi spoiler, jadi tidak saya berikan. Yang jelas, kalau lihat buku ini di toko buku, sayang banget kalau nggak dibawa pulang. Rekomendasi untuk yang suka fantasy berbau sci-fi, apalagi dalam balutan dongeng klasik seperti ini. You guys need to try this book lah! 😀

Buku ini juga nggak ada warning yang cukup serius kok. Adegan ciuman hanya ada sekali dan itupun tidak dituliskan dalam adegan yang berbahaya. Kalau untuk saya sih, sebenarnya buku ini bisa dibaca oleh siapa saja asal sudah masuk remaja. Meski dari penerbit aslinya di New York, buku ini ini dilabeli Young-Adult 😀

3.5

Advertisements

One comment on “[ REVIEW NOVEL ] “Cinder” by Marissa Meyer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s