[ REVIEW NOVEL ] “Replay” by Seplia

replay
Judul : Replay
Penulis : Seplia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 224 halaman
Genre : Fiksi – RomanceYoung Adult
Harga Resmi : IDR 50,000


Nada kabur dari rumah dan memilih untuk hidup sendiri di apartemen. Ia tidak mau lagi tinggal serumah dengan ayahnya, yang menurutnya adalah orang yang menyebabkan kematian ibunya. Ayahnya berselingkuh dengan sekretaris muda di kantor, dan hubungan gelap itu diketahui oleh sang ibu. Ibu Nada yang tidak bisa memaafkan perbuatan sang ayah pun memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Nada pikir, ia akan bisa hidup tenang dengan tinggal di apartemen yang jauh dari ayahnya, namun rupanya ia salah. Selain karena gangguan dari sang ayah yang tanpa kenal lelah terus menerus menyambangi apartemennya untuk meminta maafㅡtentu saja Nada tidak sudi melakukannya dan sering-seringnya akan membanting pintu di depan muka ayahnya ituㅡrupanya tetangga sebelah pintu Nada pun nyaris membuatnya gila.

Audy, nama gadis yang tinggal di sebelah apartemen Nada, adalah gadis yang berulang kali melakukan percobaan bunuh diri. Ia adalah gadis yang posesif terhadap kekasihnya, Nino, dan kerap marah jika pacarnya itu terlihat dekat dengan perempuan lain. Bahkan Nada pernah menjadi dewi penyelamat saat Audy hendak melakukan bunuh diri karena bertengkar gebat dengan kekasihnya itu di apartemen.

Awalnya Nada juga tidak punya niat untuk mencampuri urusan keduanya. Namun karena ia dan Audy bertetangga, ditambah ia sering bertemu dengan Nino di kampus, Nada jadi semacam dekat dengan mereka. Audy pun sering memperingatkan Nada untuk tidak mendekati Tito, bukannya Nada sendiri juga ingin merebut Nino darinya. Siapa sih yang mau berurusan dengan gadis posesif seperti Audy? Salah-salah Nada bisa jadi korban amukan gadis itu.

Lalu, sebuah tugas di kampus membuat Nada terpaksa dekat dengan Nino. Nada, yang seorang mahasiswa jurusan tari, membutuhkan musik untuk mengiringi tarian yang akan ia pakai dalam ujiannya. Nino yang merupakan anak band pun bersedia membantu Nada, dan hal ini membuat mereka berdua sering bertemu dan menjadi makin dekat. Bahkan mereka sering menyembunyikan pertemuan-pertemuan rahasia mereka dari Audy.

Tapi Nada tahu, ia tidak bisa semakin dekat lagi dengan Nino. Ia tidak mau melihat Audy berang dan kembali melakukan bunuh diri. Ia sudah berjanji tidak akan membiarkan orang mati konyol dengan cara itu. Namun di lain pihak, pelan-pelan Nino jadi terlihat istimewa di matanya. Dapatkah Nada menepati janji?

.

.

.

“Kedekatan bisa saja terjalin ketika dua orang yang terluka saling menambal sulam untuk menutup luka masing-masing.” ㅡ hal. 88

“‘Kesetiaan kadang beda tipis dengan keterpaksaan,'” ㅡhal. 92

“‘Kalau suatu saat kebahagiaan tidak memihak, masih yakin kamu akan jadi 0rang baik?'” ㅡ hal. 143

“‘Terlalu hiperbola juga tidak baik, Anak muda.'” ㅡ hal. 194

“‘…Perjalanan ke depan akan sangat sulit. Lebih baik kamu tidak melaluinya sendirian. Kamu akan lelah di tengah jalan dan pada akhirnya memilih menyerah.'” ㅡ hal. 198

“‘Ada dua jalan yang bisa dipilih manusia jika ditimpa masalah. Bangkit dan melanjutkan hidup, atau tetap berlimang luka dan menyiksa diri sendiri…'” ㅡ hal. 198

“‘…Untuk mendapatkan cinta yang bertahan sampai akhir hayat itu tidak datang dengan sendirinya, melainkan diciptakan bersama.'” ㅡ hal. 204

.

.

.

Replay adalah novel yang saya dapatkan setelah memenangkan sebuah GA yang diadakan oleh salah satu blogger buku, April. Yang membuat saya tertarik untuk ikut berkompetisi mendapatkan buku ini adalah tema tentang bunuh diri serta keberadaan orang ketiga. Untuk karakter-karakter seumuran anak kuliahan, tema ini terasa cukup berat. Saya jadi ingin tahu seperti apa ceritanya diramu 🙂

Selain kedua tema di atas, buku ini juga menceritakan tentang seni tari dan musik. Karena itulah terdapat miniatur penari dan sekeping disk untuk covernya. Terasa lapang sebenarnya, tapi entah saya suka dengan cover minimalis ini. Hanya mungkin warna kuningnya yang terasa sedikit ngejreng 😀

Buku ini menggunakan alur maju untuk dalam penceritaannya. Awalnya saya berharap rahasia-rahasia yang ada di dalam buku ini akan disajikan dengan flashback. Tapi ternyata tidak terkabul, karena seluruh teka-teki dipecahkan lewat story telling oleh para karakternya. Meskipun begitu, saya dan (calon) pembaca lain akan lega karena seluruh rahasia yang ada akan dituntaskan dengan baik tanpa ada yang digantung 🙂

Dalam Replay ada banyak tokoh dengan watak yang berbeda-beda. Misalnya saja Nada yang digambarkan sebagai gadis yang gigih dalam mewujudkan mimpinya sebagai penari namun mudah terpancing emosinya, terutama masalah perselingkuhan ayahnya. Ada juga Nino, yang bekerja keras dengan teman-teman bandnya untuk bisa mewujudkan cita-cita diterima di label rekaman. Atau Audy yang berpotensi menjadi karakter yang akan dibenci para pembaca, namun sebenarnya memiliki alasan yang cukup masuk akal kenapa melakukan banyak hal yang menyebalkan. Setiap karakter memperoleh peran dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tidak ada karakter yang ditonjolkan dengan kebaikan-kebaikan atau kelebihan yang membuat sempurna. Terasa seperti kita tengah mengikuti kisah anak-anak remaja-dewasa yang memang sedang mencari jati diri mereka. Dan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, kita akan mudah memahami pergolakan batin setiap karakter dalam bukuㅡmeski fokus masih ada pada Nada.

Karakter favorit saya adalah Artitoayah Nadaㅡdan Ken 😀
1. Ayah Nada tipikal ayah yang tidak pernah mengambil hati sekalipun mendapatkan perlakuan buruk dari sang anak. Mungkin karena sebenarnya ia sendiri sadar dan maklum, serta merasa pantas mendapatkan perlakuan yang merupakan buah hasil tindakan cerobohnya di masa lalu. Selain itu, dia gaul sekali lho. Beberapa kalimat yang diucapkannya membuat saya senyum-senyum sendiri 😀
2. Lalu Ken. Iya, karena nama saya mejeng di bukunya dong /dijambak/. Dia adalah drummer Nightfallㅡband milik Ninoㅡdan merupakan karakter yang ceria. Lagaknya cukup slengekan dan ngajak kelahi, tapi justru itulah yang saya suka 😀 Dia dan ayah Nada semacam menjadi ‘peregangan’ dalam buku setelah saya diajak serius untuk menekuni kisah Nada-Nino-Audy yang cenderung suram. Malahan setiap kali Ken muncul, saya semacam merasa bahwa saya sendiri yang masuk dalam cerita hahaha~

Untuk latar, penulis tidak menyebutkan secara pasti dimana letak lokasi ceritanya. Jadi pembaca bisa mengimajinasikan sendiri tempat dan lokasi cerita di dalam buku. Namun mungkin untuk mereka yang lebih suka dengan penggambaran setting yang jelas, hal ini cukup bisa menjadi kelemahan juga. Kalau untuk saya pribadi sih netral-netral saja, selama ceritanya disajikan dengan baik.

Seperti label yang sudah dituliskan, buku ini ditujukan untuk para remaja-dewasa. Dengan adanya juga adegan ciuman di dalam buku, untuk mereka yang masih remaja muda sepertinya harus tahan dulu untuk baca buku ini ya. Temanya sendiri juga cukup berat untuk dibaca mereka yang berusia belasan awal sih.

Di awal buku, penulis telah menuliskan bahwa para karakternya memiliki masalah dan kekurangannya masing-masing. Setelah membacanya, saya jadi semacam menyiapkan diri untuk menghadapi anak-anak yang mungkin akan sering membuat saya jengkel. Jadi meskipun saya masih sering kesal saat Audy bolak-balik ingin mati, sering males kalau Nada mulai tidak bisa mengontrol emosi, dan tidak suka saat Nino sering mendekati Nadaㅡpadahal dia masih berhubungan dengan Audy, namun dengan cepat saya berpikir : jika saya ada di posisiㅡdan di umur yang samaㅡdengan mereka, bukan tidak mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama. Lalu berhubung pekerjaan saya sendiri sering berinteraksi dengan anak-anak muda, buku ini cukup menjadi pembelajaran untuk menghadapi mereka, masa-masa di mana masih sering mengedepankan emosi dan selalu ingin dimengerti 🙂

Buku ini bisa menjadi pembelajaran untuk semua, menurut saya. Khususnya bagi mereka para dewasa muda yang mungkin sama-sama tengah dihadapkan dalam peliknya masalah hidup. Lewat buku ini, kita akan diajak belajar bagaimana untuk bisa memaafkan dan membuka hati. Kita akan diajak belajar bagaimana untuk berani menghadapi masalah dan bukannya lari. Karena sakit dan perihnya hidup terkadang kita rasakan justru karena kita menatapnya seperti itu. Seandainya kita bisa lebih sabar dan legowo menghadapi setiap masalah di dalamnya, maka hidup tidak akan terasa berat seperti yang kita pikul sebelumnya 🙂

tiga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s