[ REVIEW NOVEL ] “The Mirror Twins” by Ida R. Yulia

mirror
Judul : The Mirror Twins
Penulis : Ida R. Yulia
Penerbit : Grasindo
Tebal : 175 halaman
Genre : Fiksi – Misteri – Kriminologi
Harga Resmi : IDR 49,000


Vincent dan Emma Atherton adalah dua saudara kembar identik. Saat melihat pada satu sama lain, mereka seperti tengah bercermin dan menatap wajah mereka sendiri. Itulah mengapa mereka dijuluki si kembar cermin. Namun meski wajah mereka bak pinang dibelah dua, kenyataannya sifat Vincent dan Emma sangat bertolak belakang. Jika Emma adalah gadis baik-baik yang sayang pada sang ibu, Vincent lebih mirip berandal dan tak akur dengan ibunya.

Meski wajah kami sangat mirip, ia berusaha menjadi sosok yang berbeda denganku, sengaja atau tidak.

Semuanya dimulai dari peristiwa meninggalnya sang ayah karena tertembak oleh polisi saat kedapatan melakukan transaksi kokain. Meninggalkan keluarga Atherton dalam keadaan ekonomi yang tak menentu. Whitney, kakak tertua di keluarga Atherton, harus menjadi tulang punggung keluarga dengan pekerjaan entah apa di luar sanaㅡbahkan ia juga memiliki anak di luar nikah, entah oleh siapa. Emma dan ibunya juga harus bekerja keras membangun bisnis kue kecil-kecilan untuk menambah pemasukan. Mungkin hanya Vincent yang bertindak semaunya dengan sibuk membuat onar di luar rumah dan membawa masalah di dalam rumahㅡmeski dia juga bekerja di sebuah bengkel.

“Satu-satunya bakat Vincent yang tetap bertahan memang melarikan diri. Ia tak ahli dalam gal lainnya. Dan, merokokㅡoh, jika itu masuk ke dalam bakat. Lalu mabuk-mabukan? Pergi ke bar untuk mempermalukan diri sendiri? Atau, menindik tubuh untuk bermain perempuan?” ㅡ hal. 67

Sampai suatu malam, terjadi hal yang besar yang mengubahㅡsekali lagiㅡkehidupan keluarga Atherton. Segerombol orang mendobrak pintu rumah keluarga Atherton dan masuk dengan paksa. Mereka menyakiti Mrs. Atherton dan berkata bahwa Whitney telah membelot dan membawa lari uang bosnyaㅡReynold Hendaleㅡdalam jumlah yang sangat besar. Sebagai jaminan, mereka membawa Emma dan Vincent dan mengancam Whitney untuk segera menyerahkan diri.

Dalam insiden penculikan itu, tanpa terduga, Vincent banyak memiliki ide cemerlang untuk membantu ia dan Emma melarikan diri dari komplotan anak buah Reynold. Bahkan sampai cenderung ekstrim dengan melukai tangannya sendiri dan menjadikan darahnya untuk membuat jejak mereka menuju pintu keluar.

“‘Buat apa kau menyayat tanganmu sendiri untuk meninggakan jejak darah di lantai, hah?! Itu ide paling konyol yang pernah kudengar seumur hidupku! Kau bahkan tidak tahu Hansel and Gretel!'” ㅡ hal. 121

Namun perjuangan mereka untuk bisa melarikan diri tak semulus apa yang direncanakan Vincent. Anak laki-laki itu sendiri justru harus berkorban lebih saat komplotan anak buah Reynold menyiksanya dengan keji dan memaksa darahnya mengalir lebih banyak lagi. Sanggupkah Emma dan Vincent melarikan diri? Pulang berdua? Dan selamat sampai kembali di rumah?

Aku bahkan tak yakin kami bisa kembali pulang.

.

.

.

“Bagi seorang gadis kecil, sosok ideal dalam keluarga yang bisa memberikan perlindungan dan rasa nyaman, sekaligus sahabat yang baik, adalah kakak laki-lakinya… Seorang kakak laki-laki akan dengan sukarela mengalah pada adik perempuannya, melindunginya, karena ia tahu, ia ada untuk sang adik sebagai semacam substitusi ketika ayah mereka tak hadir.” ㅡ hal. 1

“Kau tak akan sukses membuat gusar seorang cowok yang merokok hanya dengan merebut rokoknya. Kau harus mematikannya di telapak tanganmu sendiri. Bagi mereka, itu sudah seperti ajakn minta berantem.” ㅡ hal. 12

“…demi Tuhan! Serendah-rendahnya seorang anak itu ketika dia sampai hati membuat ibunya menangis!” ㅡ hal. 89

“‘Ayolah! Tak ada gunanya membanding-bandingkanyang telah lalu! Yang penting kan sekarang!'” ㅡ hal. 164

“‘…apapun kesulitan yang menghadangmu, kau pasti akan bisa melaluinya jika kau cukup berani.'” ㅡ hal. 173

.

.

.

“The Mirror Twins” adalah salah satu dari 4 buku seri retelling Grasindo yang cukup sukses di tahun 2015 kemarin. Seperti yang telah saya sebutkan dalam sinopsis di atas, novel ini terinspirasi oleh dongeng Hansel and Gretel yang disekap oleh penyihir untuk dijadikan santapan. Dalam dongeng tersebut, diceritakan Hansel meninggalkan remah-remah roti sebagai jejak pulang. Sementara dalam buku ini, penulis menggantinya dengan jejak-jejak darah Vincent. Untuk kasus penculikannya sendiri, penulis menyebutkan bahwa idenya diadaptasi dari kasus penculikan kakak-adik Blackwell di Indiana, Amerika Serikatㅡnamun saat saya mencoba search kasus penculikan ini di Google, saya tidak menemukan apapun.

Buku ini diceritakan dari sisi Emma dan Vincent, namun menggunakan sudut pandang orang ketiga. Saya suka pemilihan kata dan cara penulis menyajikan bukunya. Rasanya saya seperti tengah membaca sebuah novel terjemahan. Ada beberapa kalimat yang dituliskan dalam bahasa Inggris yang membuat settingnyaㅡIndiana, Amerika Seikatㅡterasa lebih hidup meski penulis tidak terlalu banyak eksplor. Alurnya sendiri rapi, ditambah dengan kasus penculikan yang sedikit ekstrim.

Hanya saja di sini, yang menurut saya kurang tepat, kata-kata vulgar dibiarkan begitu saja tanpa sensor. Sebenarnya pemakaiannya sendiri tidak benar-benar ditujukan untuk hal-hal bersifat porno. Namun karena sudah termasuk sumpah serapah, akan lebih baik jika diberikan sensor, apalagi jika sasaran pembaca yang diinginkan penulis dan penerbit ditargetkan mulai usia remajaㅡmeskipun saya juga cukup yakin remaja-remaja jaman sekarang sudah banyak sekali yang paham dengan kata-kata kasar.

Ada cukup banyak tokoh yang dihadirkan dalam buku ini, terutama tokoh-tokoh dari bengkel tempat Vincent bekerja dan anak-anak buah Reynold. Dari keseluruhan tokoh, Reynold Hendale yang menurut saya paling kurang porsinya. Dia adalah bos tempat Whitney bekerja dan bisa dibilang dalang dari penculikan Vincent dan Emma. Tapi kemunculannya di buku hanya “datang dan pergi begitu saja”. Akan sangat mendukung cerita, jika Reynold lebih sadis dan lebih banyak ambil bagian dari penculikan si kembar.

Selain kasus penculikan yang ditonjolkan dalam buku ini, terdapat juga unsur genre keluarga. Tentang bagaimana keluarga Atherton yang retak pelan-pelan kembali bersatu. Bahkan menurut saya, porsi genre ini jauh lebih banyak ketimbang penculikan itu sendiri.

Awalnya saya pikir, cerita akan segera to the point dan kasus penculikannya segera muncul di seperempat bagian awal bukunyaㅡbahkan berharap lebih cepat. Namun saya salah. Di separuh awal cerita, kita masih diajak untuk berkenalan dengan Vincent dan kenakalan-kenakalannya. Untuk saya pribadi, yang lebih menantikan adegan penculikannya, jujur sedikit merasa bosan. Mungkin di sini penulis ingin mengajak pembaca memahami bahwa anak nakal tidaklah selalu benar-benar nakal dan antipati. Namun akhirnya saya merasa konflik utamanya justru tidak mendapatkan porsi yang sama imbang. Dengan total halaman yang kurang dari dua ratus, dan konflik yang baru benar-benar muncul di separuh akhir ceritaㅡmasih harus dikurangi beberapa halaman untuk ending ceritaㅡsaya benar-benar merasa kurang dipuaskan dengan kasus penculikan ini.

Di akhir buku, pada bagian “Tentang Penulis”, dituliskan bahwa buku ini adalah karya penulis yang paling cepat dibuat, yang hanya memakan dua minggu saja. Cukup menjelaskan kenapa saya semacam bisa merasa ada bagian yang sedikit dipaksa dan kaku di dalam ceritaㅡbagian festival musim panas Indiana. Seandainya waktu yang diberikan sedikit lebih banyak, kemungkinan saya juga akan mendapatkan adegan penculikan yang lebih memuaskan 🙂

Dengan banyaknya kalimat vulgar yang mucul dalam buku, ditambah adegan dalam bar dengan beberapa paragraf berbau porn, saya menyarankan agar buku ini dibaca oleh mereka yang sudah ada dalam usia legalㅡremaja akhir(?) minimal. Penculikannya pun juga menyelipkan sedikit gore meski tidak ditunjukkan terang-terangan. Jadi memang rasanya akan jadi lampu merah untuk mereka yang masih usia remaja.

Saya pribadi tidak bisa mengatakan bahwa buku retelling ini berhasil menghidupkan dongeng Hansel and Gretel. Namun bukan berarti idenya buruk; bagus malahㅡmeski terdapat beberapa kekurangan yang saya rasakan di atas. Pesannya juga disampaikan dengan baik, bahwa keluarga memang sudah seharusnya tidak tercerai berai.

Keluarga, entah mau kita sadari atau tidak, adalah sebenar-benarnya “RUMAH”. Saat semua orang di luar sana mencaci maki dan memusuhi kita, keluargalah yang akan merentangkan tangan untuk memeluk saat kita menangis. Saat orang-orang di luar sana membuat kita berubah menjadi orang lainㅡorang yang burukㅡkeluarga selalu berbesar hati untuk menerima, menganggap semuanya semacam proses menemukan jati diri. Saat kita ‘tersesat’ di jalan yang tak seharusnya, keluargalah yang selalu ‘menyalakan cahaya’ dan membimbing kita kembali. Dan tak peduli seberapa kitaㅡsebagai anakㅡmemberontak, menyakiti, atau bahkan lari jauh sampai ujung dunia, keluarga selalu ada di sana. Membukakan pintu setiap hari, menanti kita kembali.

Mungkin terkadang memang sulit untuk menerima keadaan keluarga yangㅡsering-seringnyaㅡberbeda dari apa yang kita harapkan. Namun Tuhan, dengan cara yang hanya IA ketahui sendiri, telah menjodohkan kita untuk lahir di keluarga tersebut. Alih-alih terlahir di keluarga lain yang kita sering iri saat melihatnya. Mungkin kita hanya tidak tahu saja apa mauNYA. Mungkin kita hanya belum tahu saja apa yang disiapkanNYA nantinya. Mungkin kita hanya perlu bersabar sampai waktunya tiba dan mengetahuinya; bahwa keluarga kita ini adalah keluarga yang benar-benar tepat untuk kita pulang dikala telah letih dengan dunia di luar sana 🙂

tiga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s