[ REVIEW NOVEL ] “Scarlet” by Marissa Meyer

scar
Judul : Scarlet
Penulis : Marissa Meyer
Penerbit : SPRING (HARU media)
Tebal : 444 halaman
Genre : Fiksi ㅡ FantasySci-FiDysthopia
Harga Resmi : IDR 81,500


SCARLET BENOIT, tengah berjuang mencari grand-merenya yang hilang secara misterius. Meskipun para polisi dan detektif telah menyerah dan mengambil kesimpulan bahwa neneknya menghilang atas kemauan sendiri namun Scarlet yakin neneknya itu hilang diculik.

“Namun neneknya sudah menghilang lebih dari dua minggu. Pergi begitu saja tanpa mengirimkan pesan, tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa peringatan apapun.” ㅡ hal. 13

Suatu hari, saat ia tengah mengantarkan sayur-sayuran dari perkebunan ke restoran milik pelanggan tetap neneknya, Scarlet nyaris terlibat perkelahian dengan salah satu tamu yang mengatakan bahwa nenek Scarlet gila dan sengaja melarikan diri dari rumah. Tamu yang tidak terima mendapat serangan dari Scarlet itu bahkan mengancam Scarlet bahwa gadis itu bisa saja berakhir seperti neneknya. Saat itulah, seorang laki-laki melesat dengan cepat dan mencekik leher tamu tadi, memaksanya untuk minta maaf pada Scarlet.

Di luar restoranㅡScarlet dan laki-laki tadi diusir keluar oleh sang pemilik atas kegaduhan yang mereka buatㅡScarlet berterima kasih kepada laki-laki tadi dan mengajaknya berkenalan. Anehnya dengan cepat Scarlet bisa bercakap-cakap dengan laki-laki asing yang bahkan menawarkan diri untuk membantu Scarlet bekerja di perkebunan itu. Laki-laki yang menyebutkan namanya sebagai Wolf.

“‘Aku mungkin tidak cocok menghadapi manusia, tapi seperyinya aku akan berhasil di pertanian. Binatang suka padaku.'”
“Binatang peternakan mana yang tidak menyukai serigala?'” ㅡ hal. 33

Saat Scarlet tiba di rumah, ia terkejut saat mendapat lampu  kamar tidur neneknya menyala. Menyangka bahwa neneknya telah kembali, dengan cepat Scarlet menuju ke sana. Namun semakin terkejutlah ia saat yang ia dapati di kamar itu bukanlah sang nenek, melainkan ayahnya yang sudah sangat lama tidak ia temui.

Kenyataan yang mengejutkan ia dengar dari bibir sang ayah. Bahwa ayah Scarlet dan sang nenek diculik dan diinterogasi untuk mengorek sebuah rahasia yang disembunyikan oleh nenek Scarlet. Menurut sang ayah, komplotan penculik itu memiliki tato pada siku mereka. Tato yang Scarlet tahu juga terlihat ada di di bawah siku Wolf.

Dengan kemarahan yang kembali memuncak, Scarlet mencari Wolf ke tempat dimana laki-laki itu biasa beradaㅡsebuah rumah kosong yang digunakan untuk adu kelahi. Serta merta Scarlet meminta penjelasan dari Wolf, namun dengan tegas laki-laki itu berkata bahwa dia tidak termasuk dalam komplotan yang menculik ayah dan neneknya. Scarlet menuntut lebih, namun sebelum Wolf sempat melakukannya, orang-orang memaksanya untuk naik ke atas ring dan bertarung.

Barulah keesokan harinya Wolf datang ke rumah Scarlet dan mencoba meyakinkan gadis itu bahwa ia tidak ada hubungannya dengan komplotan penculik yang dimaksud Scarlet. Scarlet sendiriㅡyang masih tidak bisa percaya begitu saja pada Wolfㅡentah bagaimana bersedia bercerita tentang apa yang menimpa neneknya pada laki-laki itu. Tanpa Scarlet duga, Wolf mendadak menawarkan dirinya untuk membantu mencari grand-mere.

Akankah Scarlet menerima bantuan dari laki-laki yang masih sangat asing baginya itu? Apakah Wolf sebenarnya tidaklah semencurigakan penampilannya? Atau justru kebaikannya ini hanya perangkap untuk menjebak Scarlet? Dan akankah Scarlet menemukan grand-mere?

SEMENTARA ITU di belahan dunia yang lain, di Persemakmuran Timur, Cinder tengah dalam usahanya untuk melarikan diri dari penjara istana. Dengan bantuan dari teman sesama pelariannya, Carswell Thorne, ia juga berhasil membajak pesawatㅡmilik Amerika yang dicuri Thorneㅡdan memutuskan untuk pergi ke Eropa. Dia ingin menemui Michelle Benoit, yang Cinder yakin tahu banyak hal tentang dirinya. Yang mengetahui bagaimana dirinya sebelum menjadi cyborgㅡsebelum menjadi seorang Linh Cinder. Yang mengetahui mengapa Cinder harus mengalami semua ini.

.

.

.

“‘…harusnya kita tidak menghakimi dia, atau siapa pun, tanpa mencoba memahami mereka terlebih dahulu. Bahwa harusnya kita mendapatkan kisah selengkapnya sebelum mengambil kesimpulan.'” ㅡ hal. 163

“‘Aku bilang aku akan melindungimu dan itu yang akan kulakukan.'”
“‘Kalau aku mencoba melindungimu, itu bukan merupakan sebuah kebodohan.'” ㅡ hal. 266

“‘Kau mungkin orang Bulan gila, tapi kau tidak jahat. Sepanjang kau menggunakan daya pikatmu untuk menolong orang laun…maka tak ada yang perlu disesalkan.'” ㅡ hal. 337

“‘Tinggallah bersamaku. Lindungi aku, seperti janjimu padaku.'” ㅡ hal. 382

“…itu berarti kau adalah ratuku yang sejati, Karena itu, kau mendapat kesetiannku.'” ㅡ hal. 420

“‘Aku menghargai semua yang kau berikan kepadaku. Meskipun aku tidak pantas mendapatkan itu semua.'” ㅡ hal. 431

“‘Aku kira aku sadar lebih baik aku mati karena mengkhianati mereka, daripada hidup karena aku mengkhianatimu.'” ㅡ hal. 432

“Tapi kalau kau memberiku kesempatan… yang kuinginkan hanyalah melindungimu. Berada dekat denganmu. Selama aku sanggup.'” ㅡ hal. 434

.

.

.

“Scarlet” adalah buku kedua dari seri The Lunar Chronicles milik Marissa Meyer, dari jumlah total 4 bukuㅡditambah beberapa buku pelengkap. Mengadaptasi dongeng “Little Red Riding Hood” (Gadis Bertudung Merah dan Serigala) dari Grimm bersaudara, Meyer menyulapnya menjadi cerita baru yang dibumbui adegan action yang mungkin tidak akan kita temukan dalam dongeng aslinya.

Jika dalam “Cinder” kita diajak mengenal (New) Beijing, dalam “Scarlet” kita diajak jalan-jalan ke Rieux, Perancis Selatan, meski seperti apa kota in tidak ditulis secara mendetilㅡtidak jauh berbeda dengan New Beijing di buku pertama. Selain itu, ada juga beberapa setting pendukung dalam perjalanan Scarlet menemukan grandmerenya.

Masih menggunakan sudut pandang orang ketiga, dalam “Scarlet” fokus akan terpecah dari sisi Scarlet, Cinder, Kai, dan Wolf. Part masing-masing karakter muncul secara selang-seling dalam bukunya. Karena saya yakin saya akan cukup kesulitan jika cerita dipecah di tengah jalan, maka saya menggunakan metode “menuntaskan cerita Scarlet dulu, baru membaca milik Cinder” haha~ Namun untuk Teman-teman yang sudah terbiasa dengan cerita dengan banyak fokus karakter di dalamnya mungkin tidak akan kesulitan dengan hal ini. Toh Meyer sudah membaginya dalam bab-bab tersendiri 🙂

Tidak banyak tokoh tambahan dalam buku ini, itupun juga tidak semuanya berpengaruh banyak pada jalan cerita.  Sedikit yang membuat saya kecewa adalah tentang absennya dokter Erland pada buku ini. Tapi tak apalah, saya yakin dia akan kembali muncul di seri yang lain 😀 Sebagai gantinya, saya jatuh hati pada sosok Wolfㅡini mungkin pertama kalinya saya menyukai tokoh utama dalam sebuah ceritaㅡyang digambarkan sebagai sosok tangguh dengan keahliannya dalam bertarung namun  fanatik pada tomat 😀 Dan jika Teman-teman melihat fanart yang dibuat oleh lostie815ㅡbisa googlingㅡsaya yakin kalian akan sependapat dengan saya. Cant tell ya more about him karena bisa berpotensi spoiler hehehe~

Poin plus yang bisa saya dapat dari seri ini adalah penulis lebih mengeksplor interaksi dua tokoh utama. Dalam Cinder, saya merasa Kai dan Cinder tidak mendapatkan adegan romantis yang cukup. Berbeda jauh dengan Scarlet dan Wolf yang punya banyak interaksi manis, bahkan beberapa kali sedikit “kejauhan” untuk dilakukan gadis usia 16 tahunㅡScarlet. Selain itu, seperti yang sudah saya tuliskan di awal, dalam “Scarlet” kita akan disuguhi adegan-adegan action yang cukup banyak. Beberapa malah cenderung sadis, meski tidak ditunjukkan secara terang-terangan.

Dengan kedua poin di atas, terlihat bahwa penulis berusaha keras untuk memperbaiki buku pertamanyaㅡdan berhasil. Selain itu, dengan adanya adegan action tadi, buku ini juga bisa lebih dinikmati oleh pembaca laki-laki. Semoga untuk kedua buku yang lain, penulis akan memberikan ide-ide lain yang lebih mengejutkan 🙂

Namun sayang nih, saya masih kurang dipuaskan dengan endingnya. Saya mengharap sesuatu yang lebih “menggantung”, meskipun akhir cerita yang disuguhkan penulis juga sama sekali tidak jelek. Selain itu pada halaman 148, tertulis bahwa Adri adalah ibu tiri Cinder. Sempat berbincang dengan kak Nurina sih tentang ini, dan katanya memang dari buku aslinya memang tertulis “stepmother”. Istilah “tiri” ini juga sering sekali dipakai oleh pembaca-pembaca lainㅡbeberapa kali saya temukan di twitter dan IG. Padahal sudah jelas bahwa Cinder adalah anak angkat keluarga Linh.

Selanjutnya untuk terjemahan bukunya. Saya tidak pernah meragukan kualitas terjemahan dari HARU media. Tidak hanya bagus, namun penggunaan kata-katanya pun tepat. Tidak terasa kaku dan rapi. Terima kasih banyak untuk kakak Penerjemah yang telah menyampaikan buku ini dengan baik dalam bahasa kita, juga kakak Editor dan pak Man yang selalu teliti dan berusaha menyajikan yang terbaik untuk pembaca 🙂

Cover buku kedua kali ini tidak menggunakan desain aslinya. Dengan bantuan nona @hanheebin (instagram), yang sudah terkenal dengan kepiawaiannya dalam menggambar, penampakan Scarlet bisa lebih terlihat jika dibanding cover aslinya. Saya menyukai ilustrasi pistol perak di pinggangnya. Bentuknya yang tidak biasa itu lho~ 😀

Meskipun Scarletㅡjuga Cinderㅡdiceritakan sebagai gadis remaja berusia 16 tahun, namun dengan adanya interaksi yang sedikit “berani” antara Scarlet dan Wolf, ditambah beberapa adegan kelahi yang cukup sadis, saya sangsi buku ini tepat dibaca oleh mereka yang berada di usia remaja awal. Mungkin akan aman jika sudah menginjak usia 17 tahun ya hehe~

Buku ketiga dari seri “The Lunar Chronicles” nanti diberi judul “Cress” dengan cerita yang mengadaptasi dari dongeng Rapunzel, si mbak-mbak(?) berambut pirang panjang itu. Penasaran sekali seperti apa cerita cantik yang akan disuguhkan Meyer di dalamnyaㅡsaya menahan diri untuk nggak membaca versi Englishnya nih. Semoga buku ini bisa lancar dalam proses penerbitannya dan segera bisa dipeluk ya? 😀

 

3.5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s