[ REVIEW NOVEL ] “Love Theft #1” by Prisca Primasari

love
Judul : Love Theft #1
Penulis : Prisca Primasari
Tebal : 192 halaman
Genre : Fiksi – Young Adult
Harga Resmi : IDR 55,000


Frea Rinata, gadis yang merupakan mahasiswi jurusan Musik ini sama sekali tidak merasa bahwa dirinya punya bakat yang mumpuni di dunia yangㅡinginㅡia geluti itu. Prestasinya tak bisa dikatakan bagus. Dosen-dosen juga beranggapan ia sering kali keluar dari kaidah musik klasik setiap kali perform. Kesempatan-kesempatan emas untuk bisa bermain musik di acara-acara berkelas, bahkan belajar musik ke luar negeri, tidak pernah bisa ia raih.

Dengan ketidakberuntungannya itu, akhirnya Frea memutuskan untuk mengambil cuti kuliah meskipun ia sudah ada di semester-semester akhir. Ia muak dengan hal-hal berbau musik dan ingin rehat selama satu semester. Menghabiskannya dengan sesuatu yang seru, seperti membantu bisnis pamannya. Bisnis yang membuat Frea punya kehidupan lain.

Aku punya dua kehidupan:
1. Menjadi mahasiswi payah di kampus.
2. Bergaul dengan sekelompok pencuri. ㅡ hal. 1

YA! Bisnis seru yang akan Frea lakoni selama masa cuti kuliahnya itu adalah dengan membantu pamannya menjadi asisten anak-anak buahnya saat mencuri. Namun bukan asal mencuri. Bisnis sang paman yang diberi nama Arthropods ini mencuri untuk tujuan amal. Barang-barang yang dicuri akan dijual, dan uang hasil penjualan tersebut akan disalurkan untuk mereka yang membutuhkan. Meskipun demikian,  Frea bukannya tidak sadar bahwa bisnis yang digerakkan pamannya itu salah.

…berteman dengan para pencuri, menjadi orang kepercayaan pamanku. Dari sudut pandang mana pun, ini salah. ㅡ hal. 11

Dalam Arthropods, Frea dekat dengan dua orang laki-laki yang bernamaㅡsamaranㅡNight dan Liquor. Dua pribadi yang memiliki sifat berlawanan, Night yang begitu ramah dan Liquor yang begitu dingin. Akibat terlalu sering berada di sekitar kedua orang itu untuk menjadi asisten operasi pencurianㅡbaik pamannya meminta atau tidakㅡFrea jadi semacam tertarik dengan masa lalu keduanya. Tidak sekali dua kali ia mencoba mengorek apa yang menjadi penyebab kedua laki-laki tampan itu bersedia bergabung dengan pamannya.

…anehnya aku tidak pernah menganggap mereka jahat, Karena, aku yakin mereka bukanlah orang jahat. ㅡ hal. 35

Namun Frea tidak sadar jika suatu hari ketertarikannya itu membawa bumerang untuk dirinya sendiri. Saat hatinya tertarik pada salah seorang di antara keduanya, dan berpotensi dihancurkan bahkan sebelum ia sempat mengutarakannya.

.

.

.

“Saya harus pulang. Bukankah itu tujuan kita pergi? Untuk pulang.” ㅡ hal. 34

…Dan hati yang hancur terkadang mengobati diri sendiri dengan asal-asalan.Seperti kaca pecah yang disatukan secara serampangan. ㅡ hal. 55

“Itulah yang diingikan para pengkritikmu. Membuatmu mengira dirimu tidak punya bakat.” ㅡ hal. 80

Orang bilang kalau kita sudah berusaja tetepau tidak berhasil, berusahalah lebih keras. Kalau kita sudah berusaha keras tapi tidak berhasil juga, berusahalah lebih keras lagi. Begitu seterusnya. ㅡ hal. 80

…kalau orang sudah terbiasa memakan sampah, lambungnya pun tidak akan mampu menelan mekanan yang lebih layak. ㅡ (Natsume Soseki) hal. 123

Karena dosa yang dilakukan berkali-kali tidak akan terasa seperti dosa lagi. ㅡ hal. 125

“Orang nggak bisa selamanya hidup sendirian. Kita selalu butuh tempat untuk cerita.” ㅡ hal. 152

.

.

.

Love Theft adalah buku Prisca Primasari pertama yang saya baca. Selain dengan tema ceritanya yang mengangkat kehidupan para pencuri yang tak biasa, saya juga penasaran kenapa penulis menuliskan bukunya lewat self publishing alih-alih lewat penerbit major seperti yang selama ini penulis lakukan. Dan sampai buku pertama ini berakhir, saya masih belum menemukan jawabannya hahaha

Covernya manis. Jika buku satu dan buku dua disatukan, maka cover akan memperlihatkan pita hitam-putih, judul, serta nama pengarang yang lengkap. Menjadi poin plus juga kenapa saya mau membaca bukunya. Rasanya baru buku ini yang memiliki cover unik di antara koleksi buku saya di rak 🙂

Sudut pandangnya diambil dari sisi FreaㅡPOV orang pertama. Dengan sudut pandang ini, otomatis kita akan lebih banyak disuguhi pergolakan batin Frea. Selain itu, dengan sudut pandang ini, pembaca juga akan diajak untuk ikut menerka-nerka seperti apa masa lalu yang terjadi pada Night dan Liquor. Meskipun saya mungkin akan lebih suka jika menggunakan POV orang ketiga karena bisa ikut memahami karakter Night dan Liquor 🙂

Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam buku tidak terlalu banyakㅡmembuat saya bersyukur sekali karena tidak harus banyak mengingat. Selain ketiga tokoh utama (Frea, Liquor, dan Night), dari Arthropods muncul sang paman, Vito, dan pencuri lain bernama Tarantula. Sedangkan karakter-karakter pendukung lain muncul Cocoㅡkorban pencurian yang kasusnya menjadi sorotan di buku satu iniㅡserta beberapa teman Frea.

Karakter favorit? Tarantula 😀 Karena sifat slengekannya yang kontras dari Night si ramah dan Liquor si dingin. Tapi meskipun dia terlihat seenaknya, dia punya sisi dewasa juga lho. Saat ia memilih melepaskan gadis yang disukainya karena gadis itu ternyata menyukai orang lain. Dia bahkan sampai mengurungkan keinginannya untuk mengutarakan perasaannya. Siapakah gadis beruntung itu ya? 😀

Penggunaan bahasanya mayoritas menggunakan bahasa baku dalam narasi, namun lebih bebas di dialog, Dan meski setting bukunya ada di daerah Jakarta, entah saya merasa nuansa(?)nya tidak seperti berada di dalam negeri sendiri. Mungkin karena pemilihan nama-namanya yang terkesan seperti nama Barat ya 🙂 Dan saat membaca buku ini, saya juga seperti membaca fanficorific lebih tepatnya. Karena ceritanya, yang meski berbau kriminal, namun masih bisa digolongkan dalam cerita ringan tanpa konflik-konflik hidup yang berat seperti novel-novel yang lain. Mungkin baru akan disajikan di buku keduanya ya? Well, lets see then 🙂

Entah melalui riset atau memang penulis memang menguasainya, saya suka info-info tentang judul instrumen musik dalam buku ini. Kebetulan sekali beberapa hari ini saya sedang menggilai instrumen-instrumen klasik juga, macam “Por Una Cabeza” dan “Chopin Nocturne Op.9 No.2″ㅡdan beberapa lagi yang saya nggak hapal judulnyaㅡyang saya jadikan pengiring saat membaca buku ini. Bisa dicoba lho untuk (calon) pembaca yang lain 🙂

Biasanya sih saya nggak pernah mempermasalahkan typo. Buat saya hal-hal semacam kesalahan pengetikan sudah menjadi hal yang sangat lumrah terjadi, jadi saya nggak akan buang-buang waktu untuk mengoreksi kata-kata yang akan membuat waktu membaca jadi makin lama 🙂 Tapi di buku ini saya sedikit ganjil dengan penggunaan “mengiakan” alih-alih “mengiyakan” sihㅡmungkin karena banyak muncul. Karena jika imbuhan “me-kan”nya dihilangkan, maka “mengiakan” akan menjadi “ia” yang lebih mengarah pada “dia”. Tapi ini dari pengetahuan saya saja sih, yang belum punya skill sehebat penulis hehe

Kemudian sedikit ulasan tentang Arthropods. Menurut saya akan lebih baik informasi itu dimunculkan di awal cerita. Dalam buku, kita baru akan menemukannya di halaman 123, sepertiga bagian terakhir bukunya. Tapi saya yakin penulis punya alasan tersendiri kenapa meletakkannya di sana.

Lalu absennya pembatas buku. Ini sama sekali nggak fatal sih. Hanya mau curcol kalau saya sedikit kecewa saat nggak menemukan bookmark di dalam buku, padahal sudah berpikiran akan mendapat pembatas berbentuk pita utuh yang cantik seperti yang ada di cover hehehe

Wellmeskipun demikian, buku ini masih tetap bagus sekali untuk dibaca. Apalagi untuk Teman-teman yang mencari cerita ringan sambil teman minum teh di sore hari, namun juga tidak mau disuguhi cerita dengan kualitas yang ecek-ecek, jelas wajib baca buku yang satu ini. Apalagi ada dua cowok kece yang bisa diidolakan di dalamnya hehe

Namun meski memiliki cerita yang ringan, saya masih melabeli buku ini dengan Young Adult sih. Karena ada adegan ciuman di dalamnya, dan juga ada pertanyaan tentang ‘tidur’ yang diajukan Frea pada Liquor. Meski hanya satu-dua, tapi saya rasa sih belum cukup pantas untuk remaja membacanya.

4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s