[ REVIEW NOVEL ] “Ada Apa Dengan Cinta?” by Silvarani

CikiA-zUgAUx_fc
Judul : Ada Apa dengan Cinta?
Film : Rudi Soedjarwo
Novelisasi : Silvarani
Penerbit : Gramedia
Tebal : 192 halaman
Genre : Fiksi – Remaja – Romance
Harga Resmi : IDR 50,000


Cinta memiliki segala hal yang nyaris sempurna dalam hidup. Keluarga yang bahagia, keempat teman-teman anggota madingㅡAlya, Karmen, Maura, dan Millyㅡyang disayangi dan menyayanginya, kecantikan yang membuat namanya dielu-elukan nyaris seluruh siswa-siswi di sekolah ditambah cowok-cowok yang mengantri demi mengajaknya berkencan, serta prestasinya di bidang sastra yang sudah diakui sekolah. Rasanya tak ada kekurangan yang bisa membuat harinya kelam.

Tapi kita tetap menari, tarian cuma kita yang tahu.
Jiwa ini adalah tandu…
Duduk saja… maka akan kita bawa semua…
Karena kita… adalah… satu.

Namun sebuah kompetisi menulis puisi yang diadakan sekolah di tahun ketiga SMAnya, mendadak menjadi awal dari serentetan perubahan-perubahan pada dirinya. Ketika namanya tak lagi disebutkan sebagai pemenang lomba, melainkan orang lain. Siswa kelas sebelas yang nama dan kehadirannya nyaris kasat mata selama ini. Seorang siswa bernama Rangga.

Kulari ke hutan kemudian teriakku
Kulari ke pantai kemudian menyanyiku
Sepi
sepi
dan sendiri aku benci

Demi kepentingan mading sekolah, Cinta menekan segala bentuk kekecewaan karena kekalahannya dan mencari Rangga untuk diwawancara. Siapa sangka, justru sikap tak mengenakkan yang ia terima. Pemuda itu memperlakukannya seperti seorang pengganggu yang mengusik ketenangannya dalam “dunia buku”nya. Membuat pertengkaran antara keduanya tak terelakkan.

Namun Cinta tak bisa berbohong, bahwa ada yang menarik dari diri Rangga. Cowok itu telah menjadi candu untuk Cinta dan terlalu sulit untuk dilupakan begitu saja, entah bagaimana. Sampai-sampai membuat Cinta berbohong pada teman-temannya, pelan-pelan membuatnya menjauh tanpa ia sendiri sadari. Berujung pada harga mahal yang harus ia terima yang mengancam persahabatannya.

Ketika Cinta sendiri pun ikut mempertanyakan
dirinya dan persahabatannya menjadi taruhan, apa yang
sebaiknya ia lakukan?

.

.

.

…ayah adalah sosok yang selalu melindungi dan memberikan kebahagiaan kepada istri dan anak-anaknya, bukannya pukulan bertubi-tubi. ㅡ hal. 17

“Indonesia yang bersatu, jangan sampai cuma di masa lalu… Indonesia yang berbudi luhur, jangan sampai tercemar dan hancur. Indonesia yang berbahasa indah, jangan sampai kelak mencari-cari keindahan bahasanya di perpustakaan-perpustakaan di Leiden dan Harvard.” ㅡ hal. 26

Bila emosi mengalahkan logika, terbukti banyakan ruginya. Bener, kan? ㅡ hal. 80

“Jangan kau pikir cewek kelihatan marah itu bener-bener marah. Itu cuma taktik buat memancing inisiatif kau.” ㅡ hal. 91

Memang benar apa kata orang bahwa membangun dan memelihara itu cukup sulit dan membutuhkan waktu yang lama. Namun hanaya dibutuhkan waktu yang sangat singkat untuk menghancurkan apa yang sejak lama dipelihara.

.

.

.

Saya yakin, jika saya bertanya pada sepuluh orang randomㅡmulai usia remajaㅡmaka separuhnya, atau malah lebih, pasti mengenal “Ada Apa Dengan Cinta”. Bagaimana tidak? Movie pertamanya bisa dibilang sukses besar dengan ditonton jutaan kali kala ituㅡ2002ㅡdengan keberadaan bioskop yang mungkin hanya bisa ditemukan di kota-kota besar.

Ceritanya yang lain dari kebanyakan film remaja, membuat “Ada Apa Dengan Cinta” (selanjutnya akan saya singkat dengan AADC) berhasil mendapatkan perhatian lebih dari para penikmat film. Bahkan punya efek yang cukup besar dalam bidang lainnya, seperti kecintaan remaja akan sastra, juga penjualan buku AKU yang sempat muncul dalam film. Padahal jika dipikir-pikir, tema yang diangkat pun bukannya tema yang sama sekali baru. Namun para penggarap film tersebut mengemasnya sedemikian rupa sehingga terlihat apik dan sangat menarik. Ditambah para pemain film yang bisa menghidupkan setiap karakter dengan cakap.

Kini, 14 tahun berlalu sejak kemunculan movie pertamanya, dan bahkan nyaris berbarengan dengan sekuel film tersebutㅡAADC2ㅡGramedia bersama Silvarani menerbitkan sebuah buku yang diadaptasi dari AADC. Dan beruntung sekali, saya mendapat kesempatan untuk mencicipi bukunya langsung dari sang penulis. Alhamdulillah… Ini buku kak Silvarani pertama yang saya baca lho! 😀

Buku ini adalah buku kedua yang saya baca yang merupakan adaptasi dari film, setelah sebelumnya saya membahas “The Stolen Years”. Pun sama dengan novel tersebut, AADC juga memiliki alur yang sama persis dengan filmnya. Namun tidak berarti novel ini tidak memiliki perbedaan. Namun sebelum membahas tentang perbedaan dalam buku, pertama-tama saya ingin menyampaikan beberapa hal untuk mereka yang masih awam sekali tentang AADCㅡapalagi untuk mereka yang seumuran dengan usia film AADC pertama itu sendiri.

Pertama, jangan berpikir untuk menemukan hal-hal berbau “kekinian” di dalam bukunya ya. Karena setting ceritanya adalah tahun 2002, dimana HP bahkan belum menjangkau seluruh lapisan masyarakatㅡorang kaya sekalipun ^^; Jadi silakan melemparkan(?) diri dulu ke tahun 2002, atau kalau saran saya sih, tonton lah film-nya dulu agar bisa lebih menghayati hehe yuk sekarang kita bedah bukunya lebih dalam 🙂

Tema ceritanya masih seputaran anak SMA dengan segala problematika mereka, termasuk cinta. Diselipkan juga sedikit tentang domestic violence (kekerasan dalam rumah tangga). Sedang poin yangㅡmenurut sayaㅡmembuat film ini menarik persahabatan geng Cinta. Dimana geng tersebut digambarkan saling melengkapi dan solid, yang mungkin bisa dijadikan pelajaran juga nih untuk Teman-teman yang masih duduk di bangku sekolah untuk lebih memaknai arti persahabatan 🙂

Keberadaan Rangga, hero yang cakep dan mampu membius semua pembacaㅡmaupun penontonㅡdengan setiap puisinya, juga merupakan daya tarik film serta bukunya. Kala itu, tipikel-tipikel cowok semacam ini kayanya sangat digandrungi ya? Atau mungkin sampai sekarang? 😀

Saya sangat bersyukur karena nggak terlalu banyak tokoh yang dihadirkan. Setiap karakter punya porsi masing-masing dan sangat mendukung perkembangan cerita. Intinya, mereka nggak cuma dipajang dan side story mereka juga bukannya dibuat sebagai basa-basi. Keren lah! ^^b

Untuk bukunya, penggunaan bahasanya mayoritas baku di narasi dan bebas di dialog. Dan saya salut banget lah dengan bagaimana penulis bisa mengembangkan cerita AADC ini sedemikian rupa. POV orang ketiga yang digunakan penulis dalam bukunya juga lebih memudahkan kita untuk lebih memahami dan eksplor masing-masing karakter, meski fokusnya masih ada Rangga dan Cinta. Hanya saja saya merasa kurang di porsi Rangga nih, porsinya masih sedikit sekali. Karena filmnya lebih banyak fokus di Cinta, saya awalnya berharap buku ini bisa lebih mengembangkan part Rangga. Tapi tidak apalah, bukan masalah yang terlalu berarti 🙂

Jika Teman-teman menonton filmnya dulu, maka saat membaca bukunya, Teman-teman pasti akan langsung memahami apa yang saya maksud perbedaan di atas tadi. Yup, penulis merombak sedikit cerita AADC. Beberapa adegan ditambahkan, yang tidak akan kita temukan dalam filmnya, dan ada juga yang dihilangkan. Namun meski dengan penambahan atau pengurangan cerita ini, Teman-teman nggak akan merasa ceritanya jadi aneh. Justru, kalau kata saya, lebih membantu kita memahami filmnya lebih jauh. Apalagi pengembangan cerita saat adegan Cinta ngelempar minuman ke Borne, suka banget itu saya! =D

Hanya saja nih, saya merasa bagian intro bukunya kurang greget. Kalau saya termasuk orang yang awam sekali dengan AADC dan membaca buku ini terlebih dahulu, bab-bab awal buku ini tidak begitu menarik minat saya dan agak kaku ^^; Namun masalah ini terbayar saat…sim salabim! Di halaman agak ke dalam, ceritanya dengan segera mengalir smooth dan terasa jauh lebih enak untuk dinikmati. Dan yang jelas buku ini berhasil mengadaptasi versi filmnya dengan baik lah, you guys should try this one! 😀

Ngomong-ngomong AADC menargetkan pembacaㅡdan penontonㅡmulai usia remaja. Meski demikian, saya tidak memasukkan cerita ini dalam kategori teenlit dengan adanya unsur KDRT dan adegan kissing di dalamnya. Yah, mungkin untuk mereka-mereka yang seusia Cinta-Rangga lah, SMA gitu hehe

Filmㅡserta bukunyaㅡmungkin merupakan pembuktian bahwa cinta terkadang bisa merusak segalanya, persahabatan contohnya. Terkadang, saat jatuh cinta, kita enggan menengok ke arah lain kecuali pada objek yang kita cintai itu. Tidak menyadari bahwa mungkin ada hal yang salah yang telah kita lakukan hanya karena kita jatuh cinta. Bahkan tidak peduli apapun dan hanya menomorsatukan kebahagiaan kita sendiri saat bersama dengan objekㅡorang-orangㅡyang kita sayang dan cinta. Setuju nggak nih?

Seperti kata Melly Goelaw dalam lagunya, “Walaupun banyak yang menentangku, kuhanya ingin bahagia!”; cinta kadang membuat kita egois. Bukan hal yang salah sebenarnya dengan membuat diri sendiri bahagia, namun jika kebahagiaan kita justru membawa hal yang buruk bagi orang lain, terutama untuk persahabatan, apakah itu benar?

Mungkin membagi porsi yang adil antara cinta dan persahabatan adalah jalan keluarnya. Selalu terbuka dan jujur, agar tidak ada pihak yang terluka atau membuat kita terbebani. Jika kita bisa melakukannyaㅡsetidaknya sedikitㅡsahabat-sahabat kita pun juga pasti akan memahami dan tidak merasa ditinggalkan oleh kita yang sedang kasmaran. Bukankah sudah menjadi tugas sahabat untuk selalu mendukung kebahagiaan kita juga? 😀

3.5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s