[ REVIEW NOVEL ] “Purple Eyes” by Prisca Primasari

pur
Judul : Purple Eyes
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Inari (HARU Group)
Tebal : 144 halaman
Genre : Fiksi – FantasyYoung AdultRomance
Harga Resmi : IDR 45,000


Solveig meninggal selama hampir 1,5 abad. Dan selama itu pula ia mengabdikan diri untuk menjadi asisten Halstein, dewa kematian. Tugasnya banyak; mulai dari menyiapkan makanan sang dewa, menyiapkan baju-bajunya, membuat arsip-arsip data orang-orang yang telah meninggal, sampai membimbing roh orang-orang yang meninggalㅡuntuk menentukan apakah ia akan memilih mati atau tetap hidup. Bahkan terkadang ada situasi-situasi khusus dimana Halstein juga harus turun sendiri ke Bumi untuk menjalankan tugasnya sebagai dewa kematian, dan Solveig juga harus ikut serta.

Seperti kali ini, saat Halstein harus menemukan dan membunuh seorang pelaku pembunuhan berantai. Pembunuh itu dengan keji selalu mencungkil lever para korban-korbannya yang telah tewas sebelum ditinggalkan. Dan dengan menyamar menjadi dua orang yang hendak memesan souvenir, Halstein dan Solveig mendatangi rumah salah satu korbanㅡNikolaiㅡuntuk bertemu dengan kakaknya, Ivarr Amundsen.

Solveig tidak menyukai Ivarr pada awalnya. Laki-laki itu, baginya, tak lebih dari patung yang sama sekali tak punya emosi maupun ekspresi. Bahkan ia tak terlihat bersedih atas apa yang menimpa adiknya yang malang.

Pemuda di depan Solveig ini, sebaliknya, mirip sekali dengan patung lilin. Dipahat dengan sangat indah, halus di setiap tubuhnya.
Namun tanpa rasa. ㅡ hal. 38

“Berjalan-jalan dengannya seperti berjalan-jalan bersama manusia tanpa jiwa.” ㅡ hal. 41

Namun sekalipun Solveig sudah mengatakan kejengkelannya tentang pemuda itu pada Halstein, sang dewa kematian justru memberinya misi yang terlampau sulit untuk dilakukan. Yaitu membuat Ivarr kembali menunjukkan emosinya seyogyanya manusia biasa. Tak bisa menolak sang atasan, dengan berat hati Solveig menjalankan tugas tersebut. Pelan-pelan mendekati Ivarr dan memancing laki-laki itu agar mau bereskpresi seperti yang iaㅡdan Halsteinㅡinginkan.

“… Di hati Ivarr Amundsen, ada emosi yang luar biasa besar. Tugasmu adalah memancing emosi itu keluar.” ㅡ hal. 40

Sementara itu, Ivarr bukannya sama sekali tak merasa ada yang berbeda dari kedua kliennya itu. Tidak sekali dua kali ia curiga dan bertanya langsung pada Solveig, gadis yang menurutnya sangat berbeda dari semua gadis yang telah ia kenal sebelum-sebelumnya. Membuatnya tidak pernah sekalipun menolak permintaan gadis itu, seabsurd apapun.

…Berbeda dengan gadis-gadis lain, keberadaan Solveig selalu terasa janggal baginya. Ivarr tidak tahu kejanggalan apa tepatnya.
Dia hanya tahu bahwa gadis itu benar-benar janggal. ㅡ hal. 34

“Kenapa Anda ingin memahami saya?”
“Anda berbeda. Itu saja.” ㅡ hal. 91

Pelan-pelan, misi yang harus dilakoni Solveig membuatnya dan Ivarr saling merasa nyaman dan semakin akrab. Entah bagaimana, muncul perasaan aneh dalam diri mereka masing-masing. Perasaan hangat yang dengan cepat menjalar dalam hati mereka. Namun kendalanya jelas sekali.

Pemuda itu masih hidup,
 dan gadis itu sudah mati.

“Jangan jatuh cinta padanya.” ㅡ hal. 42

.

.

.

“Orang menangis karena kehilangan itu wajar.” ㅡ hal. 50

“… Tahukah Anda, perasaan seseorang lebih mengalir kalau dia menulis dengan tangan, alih-alih dengan mesin?” ㅡ hal. 62

“Tidak ada yang tahu kapan kematian datang.” ㅡ hal. 77

… Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi. ㅡ hal. 78

Terkadang, ada seuatu yang perlu dikorbankan.
Demi tujuan yang lebih baik. ㅡ hal. 86

Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih. ㅡ hal. 117

Tidak ada salahnya memiliki harapan, baik ketika hidup maupun setelah mati. ㅡ hal. 123

“… Kalau kau sudah meraih semua yang kau inginkan, yang tersisa bagimu hanyalah beristirahat dengan tenang. Dan menjalani kehidupan yang lebih baiksetelah kematian.” ㅡ hal. 123

“Bukan aku yang menentukan kebahagiaanmu. Kau sendirilah yang menentukannya.” ㅡ hal. 125

Di negara mana pun, alasan yang berhubungan dengan cinta sepertinya merupakan sesuatu yang paling menyentuh hati. ㅡ hal. 132

.

.

.

“Purple Eyes” adalah buku dari penerbit Inari pertama yang saya baca. Tertarik karena saya jatuh cinta pada tulisan kak Prisca setelah duologi “Love Theft” yang telah saya bahas kemarin, ditambah komentar para early reviewer yang bilang bahwa buku ini magis sekali.

Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, “Purple Eyes” memiliki genre fantasi tentang dunia kematian. Awalnya saya pikir akan sedikit kesulitan karena nyaris berbulan-bulan tidak lagi pegang buku dengan genre tersebut. Namun syukurlah apa yang saya takutkan tidak terjadi. Ceritanya mengalir smooth dan saya bisa dengan cepat menikmatinya. Bukti pertama bahwa buku ini telah berhasil menyihir saya dengan baik 🙂

Untuk temanya sendiri sebenarnya saya sudah tidak asing, danㅡjujur sajaㅡsejak membaca bab awal, saya sudah bisa menebak nyaris keseluruhan isi cerita dalam buku. Namunㅡsekali lagi, magisㅡpenulis mampu mengemas tema tersebut menjadi cerita yang berbeda sekaligus manis dan hangat. Imajinasi saya juga diajak bermain-main dengan setting cerita yang diambil di Inggris dan Norwegiaㅡdi benua Eropa yang menurut saya sangat romantis itu. Saya yakin Teman-teman calon pembaca juga akan menyukainya nanti.

Jika “Love Theft” menggunakan sudut pandang yang hanya menonjolkan karakter heroinenya saja, dalam buku ini kita akan diajak untuk benar-benar mengenal karakter-karakter dalam buku dengan sudut pandang orang ketiga. Penokohannya sendiri, menurut saya, tidak jauh berbeda dengan karakter-karakter yang ada dalam “Love Theft”. Bahkan aura gloomy(?)nya pun mirip-mirip. Jadi saya tidak perlu banyak beradaptasi 🙂

Sedangkan untuk pemilihan bahasa, karena menggunakan latar di luar Indonesia, “Purple Eyes” secara penuh menggunakan ejaan baku baik paragraf narasi maupun dialog. Namun meskipun demikian tidak membuat ceritanya akan jadi kaku seperti sedang membaca buku terjemahan kebanyakan kok, tenang saja 🙂

Informasi yang saya temukan di dalam buku kembali membuat saya kagum dengan penulis. Dalam buku kita akan menemukan destinasi-destinasi tempat Solveig-Ivarr berkunjung. Ada pula mitos-mitos jaman dulu serta dongeng-dongeng yang disebutkan. Membuat buku ini terkesan antik, dengan paduan klasik dan modern 😀

Dengan jumlah halaman yang tidak sampai menyentuh angka 200, alur ceritanya tergolong cepat. Pun setiap bab rata-rata tidak lebih dari lima lembar. Meski demikian, penulis berhasil membuat cerita ini tidak lantas terkesan tergesa. Paling hanya beberapa bagian saja yang menurut saya penjabarannya sedikit sekali, selebihnya sih sudah pas.

Saya nyaris tidak menemukan apapun untuk dikomentari, kecuali satu: KURANG PANJANG! Mungkin karena sejak awalㅡlagi-lagi, magisㅡbuku ini membuat saya tak bisa berhenti baca, nggak bisa dilepas. Jadi begitu sampai di halaman terakhir, mendadak jadi uring-uringan. Nggak rela ceritanya selesai haha~ Oh, btw, membaca buku ini kembali membuat saya seakan sedang membaca fanfic lho 🙂

Cerita “Purple Eyes” bukan tergolong cerita berat, namun dalam buku terdapat kiss scene dan kisah pembunuhan yang cukup kejiㅡmeski praktik pembunuhannya sendiri tidak diceritakan. Maka dengan alasan tersebut, saya mengategorikan buku ini dalam young adult. Saya cukup strict sih masalah ini.

Tidak akan ada orang yang mampu menyembuhkan lukanya sendirian. Bahkan mungkin, tidak akan ada orang yang sanggup bertahan dengan hidup sendirian. Karena sejak awal, kita sudah ditakdirkan untuk tidak menjadi makhluk individu dan selalu membutuhkan orang lain.

Salah satu alasannya, mungkin adalah untuk menyadarkan kita dari hal-hal yang kita lakukan; yang mungkin saja menyalahi aturan hidup. Karena terkadang, hal-hal yang kita anggap benar, bisa saja berarti sebaliknya bagi orang lain. Selain itu, keberadaan mereka juga akan membuat kita memandang hidup dengan sudut pandang yang lebih baik. Menjauhkan kita dari rasa pesimis yang sering kali justru membuat kita tidak bisa bahagia. Keberadaan mereka juga sanggup membuat kita merasa terlindungi sekaligus ingin melindungi di saat yang sama. Membuat kita lebih merasa berarti.

Yang kita lakukan cukup membuka diri. Membiarkan mereka datang dengan kehangatan lalu meraih tangan kita dan menggandengnya. Membiarkan mereka melengkapi hidup kita dan melimpahinya dengan cinta dan kasih sayang, serta membawa cahaya-cahaya harapan yang mungkin tanpa kita sadari nyaris padam dalam diri kita 🙂

4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s