[ REVIEW NOVEL ] “11.11” by Lucia Priandarini

lucia
Judul : 11.11
Penulis : Lucia Priandarini
Penerbit : Grasindo
Tebal : 170 halaman
Genre : Fiksi – Young Adult Romance
Harga Resmi : IDR 50,000


Sejak lahir, manusia adalah sebuah angka yang tidak ia pilih. ㅡ hal. 2

Menjelang hari bahagianya bersama Ramon yang tinggal menghitung hari, Btari justru merasa bimbang merayapi hatinya. Ia pikir, mungkin ia gugup karena sebentar lagi hidupnya akan berubah memasuki sebuah fase yang baru. Untuk mengatasinya, ia mengikuti sebuah open trip ke Bromo dan Malang. Dimana kota terakhir itu adalah kota kenangan untuk Btari. Kota asalnya sebelum keluarganya memutuskan pindah ke Jakarta.

Kata orang, bepergian membantu manusia menemukan kembali sesuatu yang hilang, atau yang belum ia genggam. ㅡ hal. 6

Btari sedang memikirkan banyak hal tentang hidupnya dalam pesawat yang ia naiki untuk menuju ke Malang, dan begitu serius. Sampai seorang pria di sebelah tempat duduknya mengiterupsi lamunannya dengan menanyakan hal absurd tentang teka-teki silang yang diisinya, tentang lima kotak kata yang berisi jawaban dari dasar seseorang melangsungkan pernikahan.

“… Bisa ‘harta’, ‘kuasa’, ‘biasa’, dan ‘nasib’. Semua bisa jadi dasar orang menikah, kan?” ㅡ hal. 9

Btari memperhatikan pria asing itu dengan seksama, memindai wajahnya, sampai akhirnya kepalanya mengenalinya sebagai Mikhail, teman sekelasnya sejak SD sampai duduk di bangku kelas 2 SMP.

Rupa-rupanya, Btari dan Mikhail berada dalam satu kelompok open trip yang sama. Dan selayaknya teman lama yang kembali bertemuㅡmeski mereka tidak pernah benar-benar mengobrol semasa menjadi teman sekelasㅡmereka saling bertukar kabar dan mulai membuka kotak kenangan mereka saat masih sekolah dulu. Mengisi sisa perjalanan mereka ke Malang dengan banyak cerita tentang teman-teman sekolah mereka yang lain. Untuk Btari, Mikhail jelas teman perjalanan yang tidak terduga.

… Masa laluㅡpada bagian ang menyenangkanㅡadalah energi. Seperti pelukan yang menentramkan. Sudut-sudut masa kecil kadang serupa sarang yang terlalu hangat untuk ditinggalkan. ㅡ hal. 16

Menemani petualangan-petualangan mereka menyinggahi berbagai tempat wisata di Malang, pembicaraan-pembicaraan mereka pun berlanjut dari mulai pekerjaan sampai dengan kehidupan. Mereka banyak bertukar pikiran tentang pandangan hidup. Btari tidak pernah tahu jika Mikhail juga bisa menjadi teman mengobrol yang menyenangkan, saat menyadari bahwa hanya dengan hitungan jam, ia bisa begitu akrab dengan Mikhail yang dulu terasa begitu asing.

“… Kita bisa cepat merasa akrab dengan orang yang baru kita temui. Sekaligus juga merasa tetap asing saat bersama orang lain yang sudah lama bersama kita. Seperti keluarga yang sulit memahamimu, atau seperti pasangan yang nggak tepat.” ㅡ hal. 18

Namun, open trip yang Btari harapkan akan membuat pikirannya lebih jernih justru tidak berjalan sesuai rencana. Dalam kunjungan rombongan ke Batu, sebuah kabar berita lewat telepon menghantamnya. Membuat gadis itu membuka rahasia-rahasia yang ia kunci rapat dari semua orang selama ini, dan menjadikan Mikhail sebagai pendengarnya. Tanpa ia ketahui, bahwa Mikhail pun ternyata memiliki cerita yang nyaris sama. Seluruhnya terkuak saat waktu menunjukkan angka 11.11.

“Nggak pernah ada yang salah dengan ar jernih tanpa apa pun, Itu seperti … menerima tanpa menuntut. Tanpa peru tambahan rasa dan warna. Seperti cinta tanpa syarat.” ㅡ hal. 32

“Karena kamu hanya datang dari masa lalu dan kemungkinan besar kita tidak akan bertemu lagi.” ㅡ hal. 95

.

.

.

“… Nggak semua orang bisa memilih. Sebagian besar cuma bisa menerima.” ㅡ hal. 35

“Tidak. Nggak ada satu rumus pasti yang bisa mendefinisikan jalan hidup yang sukses itu seperti apa.” ㅡ hal. 38

“… Manusia seharusnya memang tidak mengambil tempat terlalu lapang di atas Bumi dan menggusur sawah, kebun, rawa, hutan, atau hewan.”
“… Sudah waktunya tempat tinggal manusia tumbuh ke atas. Bukan melebar. Bumi tidak bisa menampung tempat tinggal tujuh miliar manusia yang ingin punya kavling rumah sendiri.” ㅡ hal. 46

“Kadang orang hidup bersama karena nggak tahu caranya hidup sendiri.”
“Kadang orang hidup sendiri karena tidak tahu cara hidup bersama orang lain.” ㅡ hal. 66

Teman masa kecil, betapa pun menjengkelkan ataupun asing pada masa lalu, tetap seperti saudara sepupu yang datang menginap di waktu libur. ㅡ hal. 76

… Jauh lebih mudah untuk menghakimi orang lain tanpa bertanya dan mendekat. ㅡ hal. 81

“… Tapi, kupikir sedih sekali ketika kita baru bisa bersyukur karena memikirkan orang yang lebih menderita dari kita.” ㅡ hal. 106

“Perpisahan dengan orang yang tidak ingin bersamamu selalu indah. Kalaupun belum terasa indah sekarang, pasti terasa nanti, saat kamu bertemu orang yang benar-benar ingin bersamamu.”
… Dunia tidak runtuh dan waktu tetap berjalan meski manusia merasa sedang jadi orang paling malang. ㅡ hal. 113

“… Manusia ingat detik hal-hal yang sangat ia sukai. Juga hal-hal yang paling ia benci.” ㅡ hal. 120

“Bahagia yang sederhana itu kadang-kadang saja datangnya. Buatku bahagia itu harus dipilih dan diusahakan.” ㅡ hal. 126

“Katanya, sih, kalau kamu mengagumi orang dengan pikiran, itu namanya baru sekedar suka. Tapi, cinta itu mengagumi dengan hati. Dan, orang bilang kamu baru benar-benar bahagia kalau yang kamu pikirkan dan yang kamu rasakan sejalan.” ㅡ hal. 129

“… jangan pernah hidup bersama orang yang tidak bisa menerimamu sepenuhnya. Atau, yang berusaha mengubahmu menjadi seseorang yang bukan kamu.”
“‘… Jadi, orang yang terlalu baik itu sama buruknya dengan orang yang tidak baik. Untuk apa, sih, seseorang meninggalkan orang yang terlalu baik? Untuk bersama orang yang lebih buruk?'” ㅡ hal. 136

“Katanya bahan bakar paling dahsyat seorang penulis adalah kesedihan.” ㅡ hal. 148

“… Kamu tahu kan, hampir semua nasihat yang kita butuhkan dalam hidup ada dalam film anak-anak.” ㅡ hal. 156

.

.

.

Bisa dibilang saya membeli buku ini karena judulnya. Saya menggemari angka 11 karena di situlah letak huruf pertama dalam nama saya 🙂 Dan semakin yakin membeli saat saya membaca blurb perihal orang dari masa lalu yang kembali datang. Entah bagaimana namun tema semacam ini selalu membuat saya tertarik.

Jadi, jika ditanya apakah tema dalam buku ini baru, saya jujur harus menjawab: tidak. Saya sempat menemukan beberapa buku, cerita lepas, dan komik yang memiliki tema yang sama. Namun sebuah tema lain yang diusung penulis dalam buku ini membuat ceritanya berbeda dari yang lainㅡklu untuk yang belum baca : berhubungan dengan kromosom 11. Ditambah dengan open trip yang menampilkan Malang dan Batuㅡkota yang akan selalu saya rindukanㅡmembuat saya jatuh hati makin dalam dengan buku ini.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga, kita akan diajak untuk mengenal Btari dan Mikhail dengan baikㅡmeski porsi Btari dibuat lebih banyak. Selain mereka berdua, ada banyak karakter yang dihadirkan. Namun dari sekian banyak karakter yang dimasukkan, mungkin hanya adik Btari saja yang menurut saya mendapat perhatian spesial dari penulis.

Lalu siapakah karakter favorit saya? Mas Mikhail. Diceritakan sebagai pribadi yang bebas dan selalu berpikiran positif. Mikhail nyaris tersenyum di sepanjang buku. Menjadi penyeimbang untuk Btari yang auranya cenderung….emo? hehehe Ada banyak sekali dialog milik Mikhail yang menohok saya. Rasanya nggak mungkin dia nggak akan mendapatkan cinta dari pembaca 😀

Cerita dalam buku ini hanya terjadi dalam 1×24 jam. Selain dipisahkan bab, cerita juga dipecah dalam sub-bab yang menggunakan penunjuk waktu dalam bentuk jam digital. Meski mungkin agak sulit membayangkan bagaimana sebuah ceritaㅡromansa apalagiㅡmulai awal sampai akhir hanya terjadi dalam satu malam, namun begitu membaca buku ini, saya merasa semua yang terjadi dalam buku ini bisa saja masuk akal.

“Dan, kita cuma perlu 1 x 24 jam untuk mengurai semua benang kusut dalam hidup masing-masing…” ㅡ hal. 163

Penggunaan bahasanya mayoritas ejaan baku, namun agak bebas di dialognya. Sedangkan untuk gaya bahasa; jujur saya yang lebih menyukai diksi-diksi ringan ini agak keteteran juga membaca buku ini. Bisa dibilang diksi yang digunakan penulis ada di tingkat menengah ke atas. Untuk paragraf-paragraf narasi, beberapa kali saya harus membaca berulang kali agar benar-benar paham maksudnya. Namun jika teman-teman sudah terbiasa membaca buku dengan rangkaian kata-kata rumit, membaca buku ini pasti nggak akan menemukan kesulitan  kok. Mungkin malah suka 🙂

Untuk latar belakang cerita, seperti yang sudah saya sebutkan di awal, mengambil kota Malang, Batu, dan Bromo di dalamnya. Saya senang sekali saat Malang digambarkan dengan begitu hidup oleh penulisㅡbaik sekarang maupun di masa awal tahun 2000an. Mungkin karena penulis juga merupakan orang Malang, maka tidak sulit untuk menggambarkan kota tersebut dengan detil dan apik. Well, untuk saya pribadi, Malang adalah kota yang tidak akan pernah berhenti menarik perhatian saya. Saya lahir di sana, bersekolah di sana, dan sampai sekarang bermimpi untuk bisa tinggal di sanaㅡsemoga Allah mengijinkan hehe (ini kenapa jadi curcol segala? XD )

Saya juga salut dengan informasi seputar kromosom ke-11 yang disajikan dalam buku. Dibuatkan bagian tersendiri di akhir buku, lengkap dengan gambar pendukungnya. Saya yakin risetnya pastilah juga detil.

Jika ada yang follow Instagram saya, mungkin Teman-teman sudah lihat video pendek saya untuk buku ini. Ada banyak sekali quotes tentang hidup di dalamnya. Meski demikian saya nggak bisa menuliskan semuanya di sini. Selain karenan kontennya yang akan jadi sangat panjang, beberapa juga berpotensi spoiler. Jadi saya hanya menuliskan beberapa yang kelihatan netralㅡyang nyatanya masih saja banyak 😀

Dalam buku, sebenarnya saya kurang begitu puas dengan penyelesaian konflik ayah Btari. Sedikit spoiler, untuk masalah sepelik ituㅡmeski Btari tidak cukup dekat dengan seluruh anggota keluarganyaㅡagaknya sedikit aneh Btari bisa dengan begitu mudah mengesampingkannya karena emosi pada Ramon. Bagaimanapun juga, ayah tetaplah ayah.

Kemudian untuk cover, rasanya kurang mewakili isi cerita. Dengan isi buku yang banyak menceritakan masa lalu antara Btari dan Mikhail, rahasia keduanya tentang keluarga masing-masing, serta open trip, mungkin akan lebih tepatㅡmenurut sayaㅡjika mengambil salah satu di antaranya.

Buku ini aman dari hal-hal berbau dewasa ataupun adegan ‘bikin gerah’. Namun dengan tema dan juga dialog-dialog antara Btari dan Mikhail, yang menurut saya masih agak berat untuk remaja, maka saya kategorikan buku ini dalam Young Adult 🙂

…manusia memang lahir dengan angka yang tidak ia pilih. Jumlah uang lebih sedikit, tingkat kecerdasan lebih rendah, ataupun tubuh yang tidak tinggi. Tetapi hidup selalu menawarkan kepastian dengan peluang yang sama bagi tiap manusia, 50:50.

Bahagia atau sedih, puas atau kecewa, mencoba atau menyesal, gagal atau berhasil. tetapi karena kegagalan memaparkan lebih banyak pelajaran dibanding keberhasilan, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama manusia terus berusaha. Dan barangkali benar adanya, bahwa pada akhirnya yang paling penting dari semua angka adalah jumlah kebaikan dan keburukan yang dilakukan manusia dalam hidupnya. ㅡ hal. 168

4

Advertisements

6 comments on “[ REVIEW NOVEL ] “11.11” by Lucia Priandarini

    • kalau saya sih asik-asik saja 🙂 secara umur juga para karakter sudah pada dewasa, dan memang kondisi cerita dalam buku kebanyakan serius sih. jadi buat saya malah akan agak gimana gitu kalo tau-tau muncul joke di tengah-tengahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s