[ REVIEW NOVEL ] “Bintang Jatuh” by Silvarani

jatuh
Judul : Bintang Jatuh
Penulis : Silvarini
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 166 halaman
Genre : Fiksi – Romance – Islam
Harga Resmi : 42,000 IDR


Sebuah tamparan diterima Bintang setelah ia memutuskan hubungan yang telah ia jalin dalam tiga tahun ini dengan kekasihnya. Alena, nama gadis itu, pergi setelah puas mengamuk dan meninggalkan tanda telapak tangannya di pipi Bintang. Keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka yang diambil Bintang, dikarenakan Alena terlalu mendesaknya untuk segera menikah. Sementara kondisi ayah laki-laki itu belum stabil dari penyakit kompleks dalam tubuhnya, dan Alena tak mau menunggu lebih lama lagi.

Untuk mengobati rasa sakit hatinya, Bintang menyanggupi perintah atasannya untuk mengikuti seminar jurnalistik di Jogjakartaㅡyang awalnya sempat ia tolak. Sesuai rencananya, ia akan pergi ke kota tersebut dengan mengenakan kereta. Saat menunggu ular besi itu tiba di stasiun, ia diperdengarkan berbagai macam lagu yang seakan menyindir kesendiriannya, membuatnya banyak teringat tentang Alena.

Sampai kemudian sesosok gadis berkerudung hijau tosca menegur Bintang karena terganggu oleh asap rokok yang dihisapnya. Masih didukung suasana hati yang buruk, Bintang menolak untuk mematikan rokoknya. Namun saat matanya tanpa sengaja menangkap sederet kalimat sendu dalam notes yang dibawa gadis berkerudung itu, Bintang merasa iba dan akhirnya bersedia berhenti merokok.

Dan betapa terkejutnya Bintang saat rupanya di dalam kereta, ia mendapati gadis berkerudung hijau tadi mendapat kursi tepat di hadapan kursinya. Kebetulan itu membuat Bintang jadi penasaran terhadap si gadis berkerudung. Ia pun berinisiatif untuk mengajaknya berkenalan, meski si gadis sering-seringnya menanggapi dengan cuek dan dingin. Setidaknya ia tidak pelit memberitahukan namanya, Saya.

.

.

.

Apakah manusia yang sedang patah hati termasuk manusia yang merugi karena membuang-buang waktu untuk memikirkan luka patah hatinya? ㅡ hal. 13

“… Kita nggak pernah tahu perasaan orang, Bin. Termasuk orang itu sendiri.” ㅡ hal. 73

“… Sombong tidak cuma ditunjukkan oleh harta, pangkat, jabatan, ilmu, atau keimanan yang dimiliki seseorang, tetapi juga cinta yang ada di hati seseorang itu. Kalau seseorang merasa kekuatan cintanya begitu besar dan merasa tak ada kekuatan apa pun yang dapat menandinginya, justru di situ Allah akan memberinya ujian. Salah satunya, dengan dipisahkan.” ㅡ hal. 74

Menyelimuti hati dengan zikir dan shalawat memang menyejukkan hati. ㅡ hal. 97

…ada kekuatan lebih besar yang seharusnya lebih kuagungkan, melebihi kekuatan cinta yang bisa berakhir. ㅡ hal. 108

“Aku percaya…setan dan malaikat itu ada adalah dua wajah manusia.” ㅡ hal. 122

Manusia yang lulus ujian adalah manusia yang dalam kondisi senang ataupun  sedih, dia tetap ingat pada Allah. ㅡ hal. 147

Manusia yang naik kelas bukanlah manusia yang malah marah-marah atau menyekutukan Allah karena takdir kurang baiknya, tetapi mereka yang berubah menjadi manusia yang lebih mulia dan lebih tebal imannya. ㅡ hal. 148

.

.

.

Bintang Jatuh adalah buku kedua Silvarani yang saya baca setelah novelisasi AADC. Alhamdulillah, kesempatan ini saya dapatkan lewat tawaran menjadi host baca bareng buku ini di linimasa twitter saya 🙂

Bintang Jatuh membawa tema tentang perjalanan seseorang yang kembali bangkit dari sakit hatinya dan menemukan jalan kembalinya menuju Allah. Jadi selain berbau asmara, buku ini juga membawa banyak nilai-nilai agama. Untuk saya yang membacanya saat Ramadhan, buku ini sangat cocok sekali untuk dibaca dalam momen-momen suci seperti ini. Ada beberapa sentilan di dalamnya yang bisa membuat kita berkaca tentang mengagungkan perasaan cinta pada sesama makhluk Allah. Bahwa sesungguhnya tidak ada yang lebih agung dari kekuatanNYA 🙂

Buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama, dengan Bintang sebagai dominan dan Saya di salah satu bab. Namun selain itu juga digunakan sudut pandang orang ketiga saat diceritakan flashback kisah Bintang-Alena. Untuk saya pribadi, tidak ada masalah dengan buku yang memiliki jenis sudut pandang lebih dari satu, selama penulis bisa menyampaikannya dengan baik. Hanya saja, mungkin dari segi font bisa diubah jenisnya, agar bisa membandingkan mana sudut pandang Bintang, Saya, maupun sudut pandang penulis.

Penulis tidak membuat banyak karakter dalam buku ini, jadi cukup mudah untuk mengingat tokoh-tokoh di dalam buku. Namun saya menemukan ada beberapa karakterㅡterutama yang muncul di akhir ceritaㅡyang tidak begitu mendukung perkembangan cerita dan mungkin tidak akan banyak berpengaruh jika dihilangkan.

Kemudian untuk karakter Bintang. Di sini dia memang dituliskan memiliki adat keluarga yang tidak mengijinkan adik ‘melangkahi’ kakaknya untuk menikah, namun informasi dari daerah mana adat itu serta daerah asal keluarga Bintang tidak disebutkan. Jadi agak aneh saat di depan saya menemukan dialog berbahasa Jawa antara Bintang dan sang kakak, namun kental bergue-gue dengan Saya yang punya keluarga dari Jawa Tengah juga.

Penggunaan bahasa dalam Bintang Jatuh tidak berbeda dari AADC. Penulis masih menggunakan bahasa baku pada paragraf-paragraf narasi, namun bebas di dialog. Di sini saya sedikit terganggu dengan banyaknya tiga titik yang muncul, karena kebanyakan rasanya tidak perlu dibubuhkan. Meski keberadaannya tidak mengganggu jalan cerita sama sekali.

Sedangkan latar belakang cerita ada di Jakarta dan Jogjakarta. Khusus Jogja, penulis juga menyebut beberapa destinasi yang dikunjungi Bintang meski tidak dijelaskan dengan begitu mendetail. Mungkin yang sering ke daerah Jogja dan sekitarnya, pasti sudah mengenal tempat-tempat tersebut 🙂

Ngomong-ngomong saya sedikit kurang suka dengan jenis kertas cover nih. Jika tidak diperlakukan hati-hati bisa mudah tertekuk dan meninggalkan bekas. Ilustrasi covernya pun kurang mewakili isi ceritanya yang banyak memasukkan unsur Islam. Selain itu, bookmark pun juga absen dalam buku ini.

Well, jika Teman-teman tertarik untuk baca Love In Londonㅡmasih karya penulis yang samaㅡdari Around The World Series GPU, ada baiknya baca dulu buku ini. Karena Love in London semacam sekuel dari Bintang Jatuh 🙂

Cerita di dalam buku lulus dari adegan-adegan dewasa atau tema-tema berat. Jadi buku ini sudah aman untuk dibaca untuk mereka-mereka mulai usia remaja. Apalagi bagian keislamannya yang mungkin bisa menjadi pesan yang sangat baik untuk anak-anak muda jaman sekarang yang terkadang terlalu mementingkan asmara di atas segalanya hehe

tiga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s