[ REVIEW NOVEL ] “Take Off My Red Shoes” by Nay Sharaya

2016-09-27-09-48-25-1
Judul : Take Off My Red Shoes
Penulis : Nay Sharaya
Penerbit : Grasindo
Tebal : 234 halaman
Genre : Fiksi ㅡ TeenlitDramaRetelling
Harga Resmi :  55,000 IDR

Athalia dan Natasha adalah sepasang gadis kembar yang tinggal di panti asuhan. Sejak dulu, mereka terkenal karena tak terpisahkan. Bahkan saat hanya salah satu saja di antara mereka yang hendak diadopsi, pada akhirnya gadis yang satu lagi pun turut serta. Seakan-akan, tidak akan pernah ada yang dapat memisahkan mereka.

Natasha adalah gadis yang fanatik terhadap warna merah. Ia mengoleksi apapun yang memiliki warna merah menyala. Kegemarannya itu turut membuatnya menyukai dongeng “Gadis Bersepatu Merah” sejak kecilㅡmeskipun ia menolak akhir tragis dari dongeng itu. Ia juga memiliki sebuah benda kesayangan sekaligus istimewa yang ia simpan sejak meninggalkan panti asuhan. Sebuah sepatu merah pemberian Athalia.

Sebut saja benda itu pembawa keberuntungan. ㅡ hal. 12

Sedangkan Athalia adalah gadis yang sejak kecil memiliki mimpi untuk bisa menjadi penari yang handal. Namun suatu hari kemalangan menimpa dirinya yang membuatnya harus rela mengubur dalam-dalam mimpinya itu. Semua orang yang begitu mengkhawatirkan kondisinya, mengubahnya menjadi gadis yang sedikit manja. Di sekolah pun ada banyak cowok yang bersedia antri untuk mendapatkan hatinya. Ia nyaris memiliki semua yang diinginkan gadis di dunia.

Ares. Seorang kakak yang kehilangan adiknya saat ia masih kecil. Rasa kehilangan yang besar membuat orang tua Ares akhirnya memutuskan untuk mengadopsi Natasha dan Athalia dari panti asuhan. Dulu ia pikir, ia akan mampu berlaku adil kepada kedua adik barunya itu. Sampai suatu hari ia sadar bahwa ia tidak mampu melakukannya. Sebuah kesalahan besar yang menghancurkan salah satu dari si kembar.

Tidak ada orang biasa di dunia ini yang bisa berbuat adil sepenuhnya. Hati mereka pasti akan memihak pada salah satu, itu adalah sebuah kepastian. Yang ada hanyalah, mereka yang berusaha untuk berbuat adil. ㅡ hal. 227

Kegan tidak pernah tahu bahwa gadis yang pernah membuat pelipisnya bocor waktu kecil akan mampu menarik perhatiannya begitu mereka beranjak remaja. Ia tidak pernah berpikir bahwa gadis itu akan jadi semenarik ini. Bahkan sekalipun ia tahu ada ‘cacat’ dalam diri gadis itu, ia tidak mampu berpaling. Sekalipun gadis itu selalu memiliki figur seseorang di dalam matanya.

“Lo nggak berhak marah sama orang yang cinta sama lo, seburuk apa pun dia. Seandainya dia bisa milih, dia bakal milih orang lain.” ㅡ hal. 212

.

.

.

…sepatu flat merah yang akan membuat mereka tampak memukau. Seperti kumpulan putri yang menar, tak berhenti menari. ㅡ hal. 60

Kenapa merah?”
“Karena merah selalu terlihat menarik. Selalu menonjol di mana pun dia berada dan kamu nggak perlu kesuliatn nemuin dia walaupun berada di tengah-tengah orang asing.” ㅡ
hal 174

Kadang kala ada kejadian atau situasi yang benar-benar tidak kita inginkan, atau kita yakini tidak akan pernah terjadi, malah datang begitu saja dengan jalan yang tak diduga. ㅡ hal. 134

Sudah kubilang, kembalikan sepatu keberuntunganku, maka kalian tidak akan mendapatkan bencana. ㅡ hal. 185

Ending-nya si gadis itu nggak patuh sama ibu angkatnya, terkena kutukan sang sepatu merah, lalu dia nggak bisa mengendalikan dirinya, nggak bisa berhenti menari, dan akhirnya dia kehilangan kakinya yang terus-menerus menari memasuki hutan,” ㅡ hal. 125

.

.

.

“Take Off My Red Shoes” adalah seri retelling kedua dari Grasindo yang saya miliki, setelah sebelumnya saya membahas “The Mirror Twins”. Buku ini mengacu pada dongeng “Kutukan Sepasang Sepatu Merah” yang merupakan karya klasik dari H. C. Andersen. Sebenarnya untuk dongengnya sendiri saya masih belum baca secara detil, namun intinya sih sudah sering dengar.

Berbeda dengan “The Mirror Twins” yang menggunakan setting Barat, buku ini memilih latar tempat di Indonesia. Meskipun seperti yang saya tuliskan di atas, para karakternya memiliki nama-nama Barat.

Pemilihan setting lokal ini berpengaruh pada pemilihan bahasa dalam buku. Kita akan menemukan banyak bahasa gaul dalam percakapan antar tokoh, meski bahasa baku menjadi dominannya. Kemudian jika dalam review “The Mirror Twins” saya menyebutkan beberapa kalimat kasar yang agak kurang sesuai dengan pembaca yang kebanyakan remaja, maka kita tidak akan menemukan satupun dalam buku ini. Jadi lumayan aman untuk dikonsumsi oleh mereka yang seusia dengan para karakter dalam buku.

Sudut pandang yang digunakan penulis dalam buku ini adalah orang ketiga sebagai penutur cerita dengan fokus ada pada Natasha sebagai tokoh utama. Ada juga fokus karakter-karakter lain, namun part Natasha lebih menonjol ketimbang yang lain. Sedangkan untuk alur, selain alur maju yang mendominasi, penulis juga menghadirkan beberapa flash-back.

Selain keempat tokoh yang saya tulis di atas, ada beberapa tokoh lain yang dimunculkan oleh penulis sebagai pendukung cerita. Hanya saja untuk saya, kebanyakan di antara mereka eksistensinya kurang kuat. Padahal satu-dua karakter punya peran cukup berpengaruh dalam perkembangan cerita lho, bukan tempelan belaka. Namun saya merasa kehadiran mereka kurang ‘terasa’.

Dalam buku ini, penulis menghadirkan sebuah tema unik yang berhubungan dengan kejiwaan. Saat menyadarinya, jujur saja, saya sangat tertarik dan menantikan seperti apa klimaks ceritanya. Namun, lagi-lagi menurut saya, penulis kurang menuliskannya dengan detil. Teka-tekinya nyaris gagal mengundang rasa penasaran saya. Emosi saya pun kurang diaduk-aduk. Padahal, sungguh, pemilihan temanya menarik buat saya.

Kemudian masalah cinta segitigaㅡbuat saya sih bukan segi empatㅡantara para karakter juga kurang dapat perhatian nih. Mungkin baru benar-benar terlihat menjelang akhir buku. Mungkin karena fokus lebih banyak ada pada Natasha dan kefanatikannya pada merah, jadi porsi untuk karakter lain mengembangkan diri dan perasaannya terasa kurang.

Sedikit SPOILER untuk ending cerita nih. Sebenarnya saya berharap akan menemukan akhir yang…ehem…minimal bad ending lah, jika melihat seperti apa jalan ceritanya. Namun rupanya keberuntungan tidak memihak pada saya sih. Karena… yah, dongeng kan seharusnya memang nggak selesai dengan akhir yang buruk agar anak-anak nggak ketakutan. Begitu pula para pembaca yang mungkin banyak yang ingin melihat akhir yang bahagia juga 🙂

Sebenarnya ketimbang sepatu merah, saya merasa buku ini lebih menceritakan hanya “merah”nya saja. Meski untuk beberapa  bagian, sepatu merah memang digunakan sebagai acuan. Namun inti cerita yang ingin disampaikan buku ini sedikit banyak sudah selaras dengan dongengnya dengan sentuhan tema-tema lain yang cukup menarik. Selain topik kejiwaan yang saya sebutkan di atas, ada juga topik tentang cheerleader 😀

Kefanatikan akan selalu berujung pada hal-hal yang tak baik, dan tak sedikit pula yang justru merugikan diri sendiri. Maka alangkah baiknya jika kita membiasakan untuk mengontrol diri dengan menyukai sesuatu/seseorang dengan ala kadarnya. Karena pun, Tuhan tidak pernah menyukai siapapun yang mencintai segala sesuatu di Bumi secara berlebihan, kecuali cinta kepadaNYA 🙂

tiga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s