[ REVIEW NOVEL ] “Winter” by Marissa Meyer

winter
Judul : Winter
Penulis : Marissa Meyer
Penerbit : SPRING (HARU media)
Tebal : 900 halaman
Genre : Fiksi ㅡ FantasySci-FiDysthopia
Harga Resmi : 139,000 IDR

Selama ini, Winter Blackburn dianggap sebagai putri yang gila. Ia kerap melakukan hal-hal aneh, yang tak mencerminkan posisinya sebagai seorang putri. Dan tak seperti penduduk Bulan lain yang menggunakan anugerah Bulan mereka untuk memanipulasi orang lain, putri Winter berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menggunakan kekuatannya itu sama sekali. Karena keputusannya inilah ia kerap mendapatkan halusinasi-halusinasi aneh di kepalanya, bahkan sering kali merupakan sesuatu yang seram.

Dia melihat es merambat ke atas pergelangan tangannya, menuju siku. Di mana es itu berada, di situlah dagingnya mati rasa.
Es itu di bahunya sekarang. Lehernya. ㅡ hal. 13

Di saat semua orang di istana menjauhinya karena segala bentuk keanehan yang ia miliki, adalah Jacin Clay, seorang pengawal istana yang juga teman Winter sejak kecil, tetap setia berada di sampingnya. Pemuda itu selalu menenangkannya saat serangan halusinasi itu datang. Pemuda itu juga yang selalu setia menemani dan mendengarkan Winter saat ia mengoceh tentang hal-hal tidak jelas. Bahkan sekalipun Jacin pernah kabur dari kerajaan Bulan, pada akhirnya ia kembali karena mengkhawatirkan Winter.

“Tapi aku cukup yakin, selama kau menjadi putri yang membutuhkan perlindungan, kau akan selalu terjebak denganku.” ㅡ hal. 685

Namun meskipun putri Winter memiliki segala keanehan-keanehan di atas, tak ada satu orang penduduk Bulan pun yang menyanggah bahwa ia memiliki paras yang cantik. Bahkan kecantikannya jauh melebihi ibu(tiri)nya sendiri, Ratu Levana, sekalipun Winter memiliki bekas luka di wajahnya yang tak bisa hilang.

Sebuah cacat yang langka di dunia mereka yang sempurna… bekas lukanya membuat Winter menarik untuk dilihat dan entah bagaimana, memang aneh, dia justru terlihat cantik. Cantik. ㅡhal. 31

Dan merasa hal itu adalah sebuah ancamanㅡkarena dengan cinta dari orang-orang Bulan, Winter bisa saja merebut tahta yang ia dudukiㅡRatu Levana memiliki rencana untuk menyingkirkannya.

“Kenapa kau membenciku?” ㅡ hal. 585

Di sisi lain, Cinder dan kelompok kecilnya menyusun rencana untuk menuju Bulan dan menjalankan misi menggulingkan dan mengakhiri kekejaman pemerintahan Levana, baik untuk kebaikan Bumi juga Bulan sendiri. Namun misi tersebut penuh dengan rintangan dan mustahil untuk dilakukan. Yang mungkin harus memaksa Cinder untuk mengorbankan teman-temannya sendiri untuk mewujudkannya.

“Jangan. Jangan pernah berpikir ini akan menjadi yang terakhir kalinya kita bertemu satu sama lain.” ㅡ hal. 107

.

.

.

“Kupikir akan menyenangkan kalau kita sesekali melangkah keluat dari papan permainan.” ㅡ hal. 88

“Kau tahu, beberapa orang mungkin mengatakan bahwa melakukan hal yang benar adalah hadiah itu sendiri.” ㅡ hal. 156

“Kita berpikir kita akan menjadi baik hanya dengan memilih untuk melakukan perbuatan baik saja. Kita bisa membuat orang bahagia. Kita bisa menawarkan ketenangan, kepuasan, atau cinta, dan itu pasti baik. Kita tidak melihat bahwa kebohongan menjadi jenis kekejaman tersendiri.” ㅡ hal. 299

Kadang-kadang, lebih baik jika tidak mengetahui sesuatu. ㅡ hal. 142

“Yah, tapi rusak tidak sama dengan tidak bisa diperbaiki.” ㅡ hal. 521

“Aku mulai bertanya-tanya apakah mungkin kesempurnaan adalah cacat itu sendiri… Meskipun mungkin sebuah cacat dapat berkontribusi untuk kesempurnaan.” ㅡ hal. 565

.

.

.

Akhirnya saya berhasil menyelesaikan petualangan Cinder melalui “Winter” ini. Salut untuk penerbit Spring yang tidak membuat pembaca menunggu terlalu lama untuk menyelesaikan seri “The Lunar Chronicles” ini. Tak tanggung-tanggung, hanya butuh waktu yang tak lebih dari satu tahun untuk menerbitkan keempat buku seri karya Marissa Meyer ini. Perjuangan yang patut diacungi jempol! 🙂

“Winter” yang merupakan buku penutup seri “The Lunar Chronicles” ini memiliki total halaman yang cukup fantastis jika dibandingkan dengan ketiga buku pendahulunya, yakni 900 halaman. Dan dalam buku ini pula, sekali lagi, penulis akan mengajak kita untuk membaca ulang dongeng “Snow White” dengan kemasan yang berbeda. Akan ada beberapa perubahan yang mungkin tidak kita temukan di dongeng orisinilnya, baik penambahan maupun hilangnya beberapa adegan dari dongeng.

Selain jumlah halaman, “Winter” juga memiliki pembeda dari ketiga buku sebelumnya, yaitu dari sisi setting cerita. Jika di ketiga buku awal setting tempat berada di Bumi, dalam “Winter” kita akan diajak untuk ‘menginjakkan kaki’ di Bulan. Saya suka sekali cara penulis mendeskripsikan situasi di Bulan dengan detil dan seolah benar-benar hidup, yang digambarkan sangat berbeda dengan Bumi.

Dalam buku ini, selain Winter dan Jacin, penulis menghadirkan sejumlah karakter baru yang mendukung jalan cerita. Dan sekali lagi saya dibuat kagum dengan kemampuan penulis yang mampu menghadirkan karakter-karakter pendukung yang tidak hanya sekedar tempelan. Peran sekecil apapun tetap mendukung berkembangnya cerita. Benar-benar dipikirkan secara matang! 🙂

Untuk karakter favorit sih saya masih setia dengan Kapten Thorne yang sangat cassanova itu 😀 Bahkan dalam buku ini, saya mendapatkan beberapa momen dimana dia terlihat cute, apalagi menyangkut perasaannya terhadap Cress. Dan sumpah, guyonannya tentang Wolf-Scarlet di bab 12 tentang bayi serigala serius bikin saya ngakak total! XD

Buku ini juga masih setia menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan fokus yang dibuat berganti-ganti antara tokoh satu dengan yang lain. Kabar baiknya, saya sudah cukup terbiasa dengan fokus cerita yang berganti-ganti sehingga saya tidak mendapatkan kesulitan lagi dalam proses membaca haha~

Dalam buku keempat ini, tidak ada intro santai seperti ketiga buku sebelumnya. Sejak dibuka, cerita sudah membuat deg-degan. Dan semakin masuk dalam cerita, terutama bagian di mana Cinder menjalankan misinya, rasanya semakin tegang dan saya tidak bisa berhenti membaca. Nyaris full action dan ada gore di beberapa bagian. Untungnya hanya dalam bentuk tulisan dan tidak dituliskan dalam bentuk yang sadis.

Ngomong-ngomong, meski judulnya “Winter”, sebenarnya saya merasa scene Winter dan Jacin sedikit kurangㅡtidak seperti Cinder dan Kai yang beberapa kali bertemu di bazar, Wolf dan Scarlet di dalam kereta, atau Cress dan Thorne di padang pasir. Memang ada satu-dua scene yang menunjukkan kedekatan mereka, namun menurut saya sih masih kalah jika dibandingkan dengan ketiga couple pendahulunya.

Dari keempat pasangan tersebut, saya ada di tim WolfLet. Sikap keras kepala Scarlet dan sifat ganas-tapi-manja Wolf anehnya justru menjadi kemistri yang unik yang membuat saya jatuh cinta. Dan apakah di sini hanya saya saja yang merasa bahwa, jika dibandingkan tiga pasangan yang lain, merekalah yang paling ‘terbully‘? haha~

Sekarang mari kita bahas tampilan bukunya 😀

Cover? Sudahlah, siapa sih yang tidak suka artwork dari @hanheebin -ssi? Saya sendiri sangat suka dengan desain cover buku keempat ini. Lebih menggambarkan Winter, alih-alih Levana seperti yang ada di cover aslinya. Dan fortunately covernya kembali tebal, Saudara-saudara! Tak perlu lagi khawatir akan tertekuk sana-sini dan baca pun jadi nyaman!

Alih bahasanya juga keren, as usual, tak perlu diragukan sama sekali. Terima kasih sekali kepada seluruh tim penerjemah dan editor yang bertugas dalam proyek “The Lunar Chronicles” ini. Sehingga kami, para pembaca, bisa membaca buku dengan kualitas terjemahan yang super seperti ini. Amat sangat membantu untuk pembaca seperti saya yang kualitas Englishnya masih level ancur XD

Kekurangannya sih hanya dari margins yang tidak rapi, bahkan ada beberapa halaman yang nomor halamannya terpotong sedikit. Mungkin kesalahan saat pemotongan ya. Selain itu, ukuran bukunya nggak ada yang sama lho, jadi terlihat aneh saat dipajang di rak. Meski sama sekali tidak mengganggu keseruan membaca bukunya, mungkin ini bisa jadi catatan untuk penerbit sekaligus penerbitannya ke depannya 🙂

Dengan ini saya juga berjanji pada diri saya sendiri untuk melengkapi seri ini dengan dua buku ekstranyaㅡ”Fairest” dan “Stars Above”. Agak pesimis akan diterbitkan oleh Penerbit Spring sih, karena sampai sekarang pun pihak mereka belum memberikan keterangan pasti. Jadi kemungkinan besar saya akan beli buku berbahasa Inggris, sekalipunㅡsekali lagiㅡEnglish saya sama sekali nggak beres lols

Dalam dunia ini selalu ada sebab-musabab dalam setiap kejadian. Begitupun dengan keburukan, selalu ada alasan mengapa hal tersebut terjadi. Meskipun demikian, dengan alasan itu, kita tidak bisa lantas menghalalkan dan membenarkan setiap tindak-tanduk dan perilaku kita. Apalagi jika yang kita lakukan menjurus ke arah yang tak baik. Karena pada akhirnya segala keburukan akan selalu kalah oleh kebaikan, cepat atau lambat 🙂

4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s