[ REVIEW NOVEL ] “kahve” by Yuu Sasih

kahve
Judul : kahve: Shamrock & Raven
Penulis : Yuu Sasih
Penerbit : de TEENS (Diva Group)
Tebal : 240 halaman
Genre : Fiksi ㅡ Fantasy ㅡ Surealis ㅡ Mystery
Harga Resmi : 40,000 IDR

Kakak perempuan Kencana, Saras, tewas bunuh diri dengan meloncat dari gedung perkuliahan. Yang tak dimengerti Kencana, Saras baru saja mendapatkan sebuah ramalan baik dari sebuah kedai kopi. Ampas kopi dalam cangkirnya membentuk shamrockㅡsemanggi daun tiga, lambang yang diyakini sebagai terkabulnya sebuah keinginan besar.

Demi mencari jawaban atas misteri tersebut, Kencana memutuskan untuk pergi ke Jakarta, dan kuliah di tempat yang sama dengan kakaknya.

“Aneh, padahal dia mendapat shamrock.”
“Kalau orang mau bunuh diri, nggak penting apa yang didapat sebelumnya. Apalagi kalau cuma ramalan konyol.” ㅡ hal. 22

Di Jakarta, ia berhasil menemukan Black Dreams, kedai kopi yang dikunjung Saras dan mendapatkan ramalan shamrock itu. Dia pun berkenalan dengan Farran, pemilik Black Dreams sekaligus tasseograferㅡpembaca ramalan lewat ampas kopi atau tehㅡdi sana. Pertemuan pertama mereka tak bisa dibilang baik, karena Kencana terus memberikan komentar tak sedap pada Farran dan juga ramalannya. Namun di kunjungan kedua, Kencana mendapatkan kejutan dari sebuah gudang penuh cangkir-cangkir kopi hasil ramalan. Cangkir milik Saras pun termasuk di dalamnya.

“Saat orang sudah putus asa, hal seremeh apa pun akan dijadikan pegangan harapan.” ㅡ hal. 82

Dalam perjalanannya menguak misteri kematian Saras, Kencana juga bertemu dengan orang-orang yang dulunya dekat dengan kakak perempuannya itu. Mereka adalah Linda dan Rasy. Mereka bertiga dengan segera menjadi akrab, dan baik Linda maupun Rasy, selalu ada dan membantu Kencana dalam upayanya itu. Meski keduanya pun rupanya memiliki rahasia yang awalnya tak bisa dibuka di depan Kencana.

.

.

.

“Kita nggak bisa selalu menyiapkan semua hal sendiri. Saat ada yang luput dari persiapan kita, minta orang lain untuk membantumu dan percaya.” ㅡ hal. 5

“Cara terbaik untuk keluar dari masalah adalah dengan kelihatan penurut.” ㅡ hal. 26

“Setiap orang tertekan dengan caranya masing-masing. Orang lain tidak bisa melihatnya karena mereka juga sibuk dengan penderitannya sendiri.” ㅡ hal. 85

“Malaikat artinya kabar baik. Terutama kabar bai dalam percintaan.” ㅡ hal 101

“Nggak ada yang bisa kembali ke masa lalu. Kita bisa tetap bertahan dirundung masa lalu, tapi tidak ada yang benar-benar kembali. Yang memutuskan pergi pasti akan pergi.” ㅡ hal. 133

“Tidak semua hal harus muncul di depanmu sebagai jawaban utuh. Kadang kamu harus mencari.” ㅡ hal. 136

.

.

.

Saya butuh waktu dua tahun untuk akhirnya bisa berani membaca buku ini. Alasannya adalah karena saya kenal dengan Yuu Sasih, sang penulis. Yuu selalu berhasil membuat saya menggemari karya-karyanya sejak saya masih aktif menulis untuk FFn. Namun berbeda dengan membaca fanfic, dengan memutuskan membaca buku ini, maka itu artinya saya akan menulis reviewnya juga. Sedangkan saya nggak yakin saya bisa memberikan komentar yang bagus tentang bukunya.

Sampai beberapa hari lalu saya pulang mengajar malam, membuat kopi sambil bingung memilih bacaan, buku ini seakan memanggil dari deretan TBR di rak. Serius, saya merasa dipanggilㅡlike, “Lu mau sampai kapan menghimpit gue di sini?”. Jadi akhirnya saya memberanikan diri untuk membacanya. Dan saya berhasil merampungkannya hanya dua-tiga jam saja.

Oke, cukup curhatnya. Saya bahas apa dulu nih enaknya?

Tema! Buku ini bertemakan kopi. Sesuatu yang saya gemari, jadi masuk dalam ceritanya tidak butuh banyak perjuangan(?). Memang saya tidak menemukan banyak varian kopi di dalam buku, karena ceritanya berfokus pada kahveㅡ kopi khas Turkiㅡyang ideal untuk pembacaan ramalan. Namun nuansa kopinya masih terasa kental sepanjang perjalanan bukunya.

Selain itu, Yuu juga menyelipkan isu-isu sosial lain yang nyaris semuanya menyangkutkan tentang perempuan. Dan saya menemukan ada semacam twist nyaris di akhir cerita, karena saya nggak memikirkan kemungkinan itu sampai ceritanya masuk sepertiga bagian terakhir. It was indeed a surprise for meWait, ini spoiler bukan? haha~

Alurnya maju-mundur. Alur mundur menceritakan saat Kencana masih kuliah, sedangkan alur maju menceritakan saat Kencana sudah lulus dan bekerja. Masing-masing alur dibuatkan dalam bab tersendiri, jadi tidak perlu khawatir akan kebingungan.

Sudut pandangnya menggunakan orang ketiga. Jadi saya bisa tahu semua yang dialami keempat tokoh utamaㅡmeski fokus tetap ada pada Kencana. Gaya bahasa dan berceritanya pun enak dan mengalir. Jadi meski bisa dibilang buku ini bukan bacaan ringan, namun tertolong gaya penulisannya, buku ini masih bisa dibaca sembari bersantai tanpa harus bingung dan berpikir keras. Bahkan saya baca setelah nyaris 12 jam bekerja pun nggak bikin pegel atau apa.

Dan saya bersyukur penulis tidak memperkenalkan banyak tokoh untuk saya temui. Perhatian akan terpusat pada empat tokoh utamaㅡyang sudah saya sebutkan di sinopsisㅡdengan beberapa pemain tambahan untuk menggenapkan cerita.

Tokoh favorit saya? Farran. Well, dia mengingatkan saya pada Fai D. Florite sih. Meski jujur saja, porsinya sangat sedikit sekali untuk saya haha~

Bicara tentang nilai, yang paling sarat dengan petuah adalah bagian akhir bukuㅡtentang pemerkosaan. Bahwa korban-korban pemerkosaan memang tidak melulu gadis-gadis lugu, namun semua wanita yang mudah goyah dengan iming-iming menggiurkan. Tidak peduli dia memiliki tingkat pendidikan tinggi atau rendah.

Meski saya bilang kalau saya selalu suka tulisan Yuu sejak dulu, bukan berarti postingan ini dibuat karena bias. Tapi memang “kahve” benar-benar buku yang menarik, bisa dibuktikan sendiri. Saya hampir tidak menemukan banyak cacat yang mengganggu, kecuali eksistensi Farran yang terasa samar untuk saya. Dia berhak mendapatkan porsi lebih dengan pohon yew-nya //lalu demo ke penulis #lha

Selain itu, saya agak terganggu dengan sendok di dalam cangkir pada cover. Saya pikir keberadaannya di situ mengandung arti sesuatu, tapi ternyata setelah baca bukunya, saya nggak menemukan penjelasan apa-apa. Saya merasa covernya sudah mewakili hanya dengan kopi dan cangkir bergambar shamrock dan raven, tanpa sendok tersebut. Nggak penting ya, tapi saya terganggu sih,

Ngomong-ngomong, saya dan Yuu penggemar CLAMP. Dan saat baca ini, saya semacam merasakan sentuhan(?) karya-karya kelompok mangaka tersebut, terutama dari XXX-holic dan Tsubasa. Misal, saat Black Dreams muncul, saya seperti dibawa ke toko Yuukoㅡdengan Farran sebagai Yuuko dan Kencana sebagai Watanuki. Perkembangannya pun mirip-mirip meski tidak seratus persen sama. Mimpi Kencana tentang Saras yang terjatuh, mengingatkan saya pada si kembar Fai-Yuui di menara pengasingan. Juga Kencana yang mampu memasuki mimpi-mimpi tokoh-tokoh lain.

Seperti yang tertulis di halaman paling depan buku: Untuk Perempuan, buku ini saya rekomendasikan untuk para perempuan. Terutama untuk yang masih seusia Kencanaㅡusia-usia kuliah. Yang banyak merantau ke kota orang, jauh dari orangtua dan pengawasan. Di mana semua langkah mayoritas ditentukan oleh diri sendiri. Yang rentan ‘terombang-ambing’ di tengah jalan. Mungkin buku ini bisa dijadikan pegangan untuk lebih berhati-hati.

4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s