[ REVIEW NOVEL ] “Heartwarming Chocolate” by Prisca Primasari


Judul : Heartwarming Chocolate
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 223 halaman
Genre : Fiksi ㅡ  Romance ㅡ Yummy-lit
Harga Resmi : 49,000 IDR

Viola adalah penggemar berat minuman cokelat dingin buatan Marzipan. Setiap kali bekerja, dia akan membayangkan satu per satu langkah yang akan dia lakukan begitu pulang ke rumah sebelum menikmati minuman lezat itu. Rasanya tidak ada lagi kedai cokelat yang mampu menandingi kenikmatan minuman cokelat buatan Marzipan.

Namun suatu pagi, saat Viola telah gagal untuk mencicipi minuman itu selama dua hari berturut-turut karena ulah adiknya, dia mendapati kenyataan mengerikan saat mengunjungi kedai itu. Di depan pintu Marzipan yang tertutup, tertempel pengumuman bahwa kedai itu telah ditutup. SELAMANYA!

Panik, tidak percaya, menganggap hanya hoax, Viola rela duduk di depan kedai itu sepanjang pagi. Berharap bertemu dengan pemiliknya dan meminta penjelasan mengapa kedai itu harus ditutup, yang membuatnya tidak bisa lagi menikmati minuman cokelat dingin kesukaannya. Saat itulah, ia bertemu dengan seorang pemuda yang mengaku kenal dekat dengan pemilik kedai. Pemuda itu bernama Auden.

Bersama dengan Audenㅡyang juga menggemari cokelat dingin MarzipanㅡViola berkunjung ke rumah pemilik Marzipan. Masih keberatan dengan keputusan pemilik kedai tentang alasan ditutupnya Marzipan, Viola dan Auden justru mendapatkan tantangan untuk membuat minuman cokelat dingin kesukaan mereka itu dengan bimbingan dari pemilik kedai. Maka dimulailah eksperimen-eksperimen Viola dan Auden untuk membuat minuman cokelat yang lezat, yang rupanya tidak hanya cokelat saja bahan dasarnya.

“Secangkir cokelat memang mampu memanggil kasih sayang yang sempat terlupakan, ya.” ㅡ hal. 207

.

.

.

Sudah bukan rahasia bahwa sosok yang nyaris sempurna selalu rentan digunjingkan, dan sering dicari-cari kesalahannya. ㅡ hal. 17

“Kalian terlalu cepat ingin melihat hasil. Apapun yang dikerjakan dengan tujuan sedangkal itu, tidak akan bisa berakhir dengan manis. Kalian harus menikmati prosesnya.” ㅡ hal. 65

“Selezat apapun bahannya, kalau kalian nggak meracik dengan sepenuh hati, hasilnya akan hambar.” ㅡ hal. 66

Orang bilang, sesuatu yang dilakukan untuk kali kedua tidaklah serumit yang pertama. ㅡ hal. 199

“Gue bahagia udah dikasih kesempatan untuk jatuh cinta. Yah, meskipun sad ending, yang terpenting perasaan itu sudah pernah gue alami.” ㅡ hal. 204

“Nggak ada dua minuman yang sama. Nggak ada dua makanan yang sama pula, seperti halnya nggak ada dua orang yang persis sama.” ㅡ hal. 207

.

.

.

Akhirnya bisa baca buku Prisca Primasari lagi sambil menunggu buku ketiga “Love Theft”. Teriak dulu ah, NGGAK SABARRRRRR!! Hahaha oke, mari kembali ke review.

Awalnya saya kepikiran kalau ceritanya akan sarat galau seperti “Love Theft”, ternyata tidak. Buku ini manis, baik cerita maupun cokelatnya. Mungkin akan lebih manis lagi kalau saya bacanya pas Valentine kemarinㅡmeski saya nggak merayakannya, yah…tapi mungkin suasananya akan lebih mendukung.

Tema kekeluargaan sangat kental di buku ini. Romancenya malah jadi semacam tema sampingan(?), meski taglinenya berbau cinta. Rasanya semua karya Prisca Primasari yang saya baca memang nggak pernah ketinggalan untuk memasukkan tema keluarga ya. Nice point, saya justru suka. Eneg juga sih dikasih makan cinta mulu haha

Tutur cerita Prisca Primasari juga selalu enak dibaca. Untuk saya, selalu seperti sedang membaca komik shoujo yang manis dan ringan. Jadi pesan yang ingin disampaikan pun bisa dengan mudah terbaca tanpa harus banyak berpikir.

Sudut pandang diambil dari orang ketiga, dengan fokus ada di Viola dan Auden. Saya suka penokohan mereka, nggak drama queen/king, meski Viola kadang pribadinya suka heboh. Hanya saja, saya merasa porsi Auden kurang banyak. Kisahnya pun baru dibuka nyaris di akhir buku.

Selain Viola dan Auden yang saya sebutkan di atas, ada beberapa karakter lain yang mendukung jalan cerita. Seperti bu Elisa sang pemilik Marzipan, juga Reagan yang merupakan adik dari Auden. Dan setelah menamatkan bukunya, saya kok semacam ingin baca cerita Reagan juga ya? Apakah kak Prisca bersedia membuatkan buku tentangnya suatu hari? Hehe

Ngomong-ngomong, saya suka pekerjaan yang diberikan untuk Viola. Atau lebih tepatnya saya suka semua pekerjaan yang melibatkan seni rupa. Terlebih lagi Viola ini kerjanya mendesain sepatu. Meski saya nggak begitu doyan dengan sepatu yang macam-macam, tapi sepertinya keren kalau punya sepatunya yang desainnya khusus milik kita sendiri 🙂

Latar ceritanya ada di Bandungㅡkota yang sejak dulu ingin saya kunjungi! Semakin ngiler ingin ke sana dengan penggambaran tempatnya yang menyenangkan. Anyelir’s Shoesㅡtempat kerja Violaㅡyang berada di sekitar kedai-kedai makanan. Eksperimen Viola-Auden membuat cokelat pun membawa mereka ke kedai-kedai cokelat. Rasanya Bandung dipenuhi kedai-kedai dengan minuman lezat, membuat saya yang nggak doyan manis pun ingin juga hunting kedai cokelat di sana. DAN! Paris van Java yang juga disebutkan dalam buku /insert emot lopelope/.

Dari buku ini, saya menemukan banyak kasus tentang keluarga yang sebenarnya bisa dipecahkan hanya dengan menikmati secangkir minumanㅡdalam buku ini, cokelat. Dengan meminum sesuatu yang digemari, maka dapat pula membangkitkan kenangan yang besar kemungkinan bisa menjadi pemersatu kembali hubungan yang sedang retak. Masalah tidak perlu diselesaikan dengan saling ngotot dan adu mulut. Seperti slogan salah satu produk teh celup, terkadang yang dibutuhkan hanyalah: mari duduk, minum, dan bicara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s