[ REVIEW NOVEL ] “To Be With You” by Indah Hanaco

tobe
Judul : To Be With You
Penulis : Indah Hanaco
Penerbit : Elex Media
Tebal : 397 halaman
Genre : Fiksi ㅡ Roman
Harga Resmi : IDR 77,800


Ludmilla Fanani pikir, cinta yang ia tambatkan pada Hardy selama tiga tahun ini adalah cintanya yang paling sempurna. Ia merasa Hardy adalah laki-laki yang akan menjadi takdirnya, kini sampai nanti. Sampai laki-laki itu suatu hari muncul di hadapan Milla dan mengatakan sederet kata-kata, meminta mereka untuk mengakhiri hubungan yang mereka jalin selama ini. Meluluhlantakkan semua harapan yang dibangun Milla selama ini. Membuat Milla bahkan mengucap sumpah tak akan lagi berurusan dengan cinta, melajang selamanya.

Patah hati itu ternyata tidak menyakitkan. Jauh lebih parah dibanding itu, sebenarnya. Mirip hewan berbisa yang sengatannya meracuni hidup seseorang entah sampai kapan. ㅡ hal. 55

Declan Eugene Arsjad, seorang aktivis lingkungan yang mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan Bumi. Dijuluki playboy oleh saudaranya, karena ia terlalu sering bergonta-ganti pasangan. Namun mereka tak tahu, bahwa sebenarnya di dalam hatinya ada nama Ruth. Dan sebuah pertemuan kembali dengan wanita itu di hotel di Amsterdam, membuat Declan kembali berpikiran untuk memilikinya kembali. Tidak peduli sekalipun ia tahu wanita itu telah memiliki kekasih. Ia sudah merencanakan sebuah misi.

Biasanya, mantan kekasih adalah sebatas orang yang meninggalkan kenangan. Entah manis atau pahit. ㅡ hal. 77

Berawal dari misi nekat merebut Ruth, Declan dan Milla bertemu. Setelah bersusah payah meminta kesediaan wanita itu, akhirnya Declan mendapatkan bantuan dari Milla. Keduanya pun sepakat untuk menjadi teman. Namun teman macam apa yang membuatmu pelan-pelan merasa nyaman saat tengah bersamanya?

.

.

.

“…Gonta-ganti pacar tidak membuatmu menjadi orang yang tahu apa artinya bahagia.” ㅡ hal. 1

…cinta semestinya tidak menuntut untuk melakukan seleksi. Cinta itu membebaskan. ㅡ hal. 9

…perasaan cinta sering kali tidak berhubungan dengan daya tarik raga seseorang. ㅡ hal. 102

“… Tidak semua laki-laki adalah pengkhianat.” ㅡ hal. 117

“Tidak perlu membenci, cuma akan membuatmu merasa lelah. Lepaskan saja. Ikhlaskan.” ㅡ hal. 126

Mencintai seseorang itu berarti menerima kelebihan dan kekurangannya dalam satu paket utuh. ㅡ hal. 152

“… Cinta itu pemakluman, bukan adu kuat siapa yang paling diprioritaskan. Lalu dihubung-hubungkan dengan siapa yang punya rasa cinta lebih besar.” ㅡ hal. 153

“Kenangan itu tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk monumen, bangunan, atau hal-hal fisik lainnya. Kenangan itu adanya di hati… Di dalam memorimu. Dan mustahil ada yang mampu merenggut itu semua.” ㅡ hal. 227

Uang tidak bisa menghadirkan segalanya yang dibutuhkan manusia dalam nampan perak. memudahkan, mungkin. Tapi takkan pernah bisa memuaskan. ㅡ hal. 240

…jika sudah berhubunbgan dengan perasaan yang berkembang tanpa terkendali, kelogisan itu mustahil bisa ditemukan. Mustahul bisa dimengerti. ㅡ hal. 295

“Penampilan hanya penampilan… Tidak ada hubungannya dengan kualitas seseorang sebagai manusia.” ㅡ hal. 300

Cinta memang seperti pisau banyak mata. menemukan kebahagiaan itu cuma salah satu sisi saja. Di luar itu banyak ekses lain yang bisa menghasilkan beragam perasaan. ㅡ hal. 306

…cinta punya tingkatan sendiri. Cinta tidak pernah sama kadarnya pada dua orang yang berbeda. ㅡ hal. 325

.

.

.

Setelah “Delicious Marriage”, kali ini saya dapat kesempatan untuk kembali mencicipi tulisan milik Indah Hanaco. Masih dengan tema serupa, yaitu bangkit dari patah hati, dalam “To Be With You”  kita bertemu dengan Declan-Milla yang keduanya sama-sama harus rela melepas orang-orang yang mereka cintai.

“To Be With You” menggunakan POV orang ketiga, yang meski demikian cerita lebih banyak dituturkan lewat sudut pandang Milla. Penulis akan mengajak kita untuk memahami perasaan Milla, saat dia terpuruk karena Hardy pun saat dia mulai membuka hati dan memiliki perasaan yang baru untuk Declan.

Selain Milla dan Declan, penulis menghadirkan tokoh-tokoh pendukung lainnya yang jumlahnya bisa dikatakan cukup banyakㅡdengan nama-nama unik ala barat dan timur. Meski demikian, karena tidak semua tokoh benar-benar berperan dalam perkembangan cerita, maka pembaca tidak perlu khawatir akan kebingungan dengan jumlah tokoh yang ada dalam buku 🙂 Di buku ini, karakter favorit sayaㅡyang mengikuti event Baca Bareng buku ini di twitter saya pasti sudah tahu :Dㅡadalah Sean. Sepupu Declan yang digambarkan sebagai cowo cantik. Dia nyaris jadi korban keputusasaan Declan yang tak kunjung menemukan partner untuk menjalankan misinya. Sean hendak didandani jadi cewek! 😀

Untuk penggunaan bahasa, buku ini mayoritas menggunakan ejaan baku. Bahkan untuk dialognya sendiri saya nyaris tidak menemukan bahasa slang alias bahasa gaul kita. Dan di buku ini, saya tidak lagi menemukan penggunaan “kau” pada orang kedua, membuat “To Be With You” terasa ‘Indonesia’nya 🙂

Yang saya suka dari buku-buku Indah Hanacoㅡyang telah saya bacaㅡadalah pemilihan profesi yang tidak biasa. Dalam Delicious Marriage, saya diperkenalkan dengan Bridal Consultant. Sedangkan dalam buku ini saya bertemu dengan Declan yang merupakan aktivis lingkungan. Dan jika dalam Delicious Marriage pekerjaan Milly yang lebih ditonjolkanㅡKeith harus mengalahㅡdi To Be With You, baik Milla maupun Declan sama-sama diberikan porsi yang cukup untuk menjelaskan pekerjaan mereka. Meskipun untuk Declan diceritakan lewat story telling.

Penulis tak ketinggalan menyelipkan sejumlah bonus. Seperti destinasi-destinasi yang dikunjungi Declan dalam masa kegiatan aktivisnya. Khusus Amsterdam, ada juga beberapa objek wisata yang semacam direkomendasikan untuk pembaca jika barangkali berkujung ke negara bunga tulip itu. Dan untuk yang gemar berurusan dengan dapur, penulis juga spesial menghadiahkan resep membuat salah satu menu di toko kue milik Milla, Sacher Torte.

Cerita dalam buku didominasi proses Milla dan Declan untuk menyatukan hati. Dan dari sekian banyak problem yang disuguhkan, konflik sesungguhnya yang menguji keduanya sebenarnya ada di halaman nyaris terakhir. Sayangnya saya merasa konflik ini kurang mendapat porsi yang cukup, terkesan sedikit tergesa. Dari segi sudut pandang pun masih didominasi oleh Milla. Menurut saya, seharusnya Declan-lah yang punya andil lebih banyak dalam konflik ini. Karena dia yang mengalami masalah tersebut.

Omong-omongㅡsaya juga sudah menulis ini di tweet saat Baca Barengㅡcovernya mengecoh saya lho. Saat pertama kali melihat di media online, saya pikir buku ini akan bersettingkan daerah di luar JawaㅡSumatra atau Kalimantan gituㅡternyata masih di sekitaran Jakarta. Plot dugaan yang terlintas di kepala saat saya melihat cover buku ini pertama kali pun sama sekali nggak nyerempet 😀 Serius ya, cover nggak bisa dijadikan tolak ukur untuk menilai isi bukunya hehe Dan ide gambar cover buku ini rupanya dicomot dari salah satu adegan dalam cerita 🙂

Jika “Delicious Marriage” membuat pembaca harus membaca bukunya dengan duduk di bawah kipas angin, “To Be With You” tidak demikian 😀 Tidak ada adegan dewasa di dalam buku, sangat aman. Meskipun begitu, saya rasa target pembaca yang cocok adalah dewasa muda. Kurang pas saja kalau yang masih remaja baca buku ini.

Dalam buku ini, kita akan tahu betapa Tuhan selalu punya skenario tak terduga untuk mempertemukan dan menyatukan dua orang yang IA jodohkan. Ambil contoh Milla, yang terlebih dahulu harus melewati tahap terpuruk akibat tindakan Hardy yang kejam padanya, sebelum ia mengenal Declan. Atau mungkin Declan sendiri, yang mengenal Milla hanya untuk menjadi partner menjalankan misinya, hingga pelan-pelan ada perasaan lain yang tumbuh tanpa ia sadari. Pun saat mereka telah memutuskan untuk bersama, Tuhan masih tetap menunjukkan kuasaNYA dengan ujian tanpa peringatan. Skenario Tuhan itu tak akan pernah ada yang tahu, tak akan ada yang bisa melawan maupun menghalangi. Bahkan sekalipun itu adalah skenario terburuk dalam hidup dan terkadang kita tak ingin menerimanya. Tapi yakinlah bahwa di balik itu semua IA sudah menyiapkan akhir cerita yang benar-benar bahagia 🙂

3.5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s